Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara resmi menghimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tidak merasa panik secara berlebihan dalam menanggapi kabar mengenai potensi wabah hantavirus yang muncul melalui kapal pesiar MV Hondius. Walaupun virus ini memiliki potensi bahaya bagi kesehatan, IDAI menilai bahwa risiko terjadinya penularan hantavirus secara meluas di tengah publik masih dikategorikan dalam level yang rendah.
Kondisi tersebut dikarenakan pola transmisi atau penyebaran hantavirus memiliki karakteristik yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan jenis virus lain seperti COVID-19 ataupun influenza yang sangat mudah menular. Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, memberikan peringatan agar masyarakat, khususnya para orang tua, tetap tenang dan tidak ikut memicu kepanikan massal di lingkungan sosial mereka.
Piprim Basarah Yanuarso menyampaikan prinsip dasar dalam menghadapi situasi ini adalah dengan tidak bersikap panik terlebih dahulu sebelum memahami fakta medis yang sebenarnya. Beliau menjelaskan dalam sesi pengarahan media pada Kamis (8/5) bahwa hantavirus pada umumnya bersumber dari hewan pengerat, terutama tikus, sebagai inang utama penularannya kepada manusia.
Penularan dari satu manusia ke manusia lainnya memang dimungkinkan untuk terjadi, namun proses tersebut memerlukan syarat adanya kontak fisik yang sangat erat dan berlangsung dalam durasi yang cukup lama. Piprim menegaskan bahwa karakteristik virus Andes ini tidak serta-merta dapat menular dengan kecepatan yang sama seperti wabah COVID-19 yang pernah terjadi sebelumnya.
Pandangan serupa juga dipaparkan oleh Dominicus Husada, yang menjabat sebagai Koordinator Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik di dalam struktur organisasi IDAI. Dominicus mengklarifikasi bahwa dalam dunia medis hantavirus bukanlah merupakan jenis virus baru yang muncul secara tiba-tiba karena para ahli kesehatan sudah mengenalnya sejak lama.
Pihak medis menekankan agar masyarakat tidak perlu merasa takut secara berlebihan terhadap ancaman hanta ini, walaupun tetap harus menjaga kewaspadaan agar tidak lengah terhadap potensi infeksi. Dominicus menambahkan bahwa kemungkinan hantavirus untuk bertransformasi menjadi pandemi global seperti COVID-19 dinilai sangat kecil oleh para ahli kesehatan tropik.
Penyebab utama rendahnya risiko pandemi tersebut adalah sifat alami hantavirus yang tidak mudah berpindah antarmanusia dalam interaksi sosial atau pergaulan sehari-hari yang bersifat umum. Penularan jenis virus Andes ini secara spesifik hanya terjadi pada mereka yang tinggal serumah atau berada dalam satu ruangan sempit yang sama dalam jangka waktu yang intens.
Interaksi dekat yang rutin dengan pasien yang sudah terinfeksi menjadi syarat utama terjadinya penularan, sementara pertemuan sesekali di ruang terbuka praktis memiliki risiko yang sangat kecil. Meski risiko penyebaran dinilai minim, IDAI tetap memberikan instruksi tegas kepada masyarakat untuk senantiasa menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) di rumah masing-masing.
Langkah pencegahan yang paling krusial adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi sarang perkembangbiakan tikus yang menjadi sumber utama pembawa virus tersebut. Masyarakat diminta memberikan perhatian khusus pada penyimpanan makanan dan sanitasi rumah agar tidak ada tikus yang berkeliaran bebas sehingga keamanan kesehatan keluarga tetap terjaga dengan baik.