IABI Ingatkan Warga: Jangan Tukar Nyawa dengan Konten di Zona Bahaya Gunung Api

IABI Ingatkan Warga: Jangan Tukar Nyawa dengan Konten di Zona Bahaya Gunung Api
Foto: Ilustrasi IABI Ingatkan Warga: Jangan Tukar Nyawa dengan Konten di Zona Bahaya Gunung Api.
Ukuran teks

Tragedi pendakian yang memakan korban jiwa di Gunung Dukono pada 8 Mei 2026 mendapat perhatian serius dari para pakar kebencanaan. Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) mengkritik keras tindakan pendaki yang nekat menerobos zona bahaya demi konten media sosial.

Anggota IABI, Daryono, menegaskan bahwa peringatan dari pihak berwenang bukan sekadar aturan formal di atas kertas. Menurutnya, larangan tersebut adalah batasan krusial yang menentukan hidup atau mati seseorang di tengah ancaman aktivitas vulkanik.

Daryono menilai tindakan mengabaikan larangan pendakian demi kepuasan adrenalin atau popularitas digital sebagai sebuah kesalahan fatal. Ia memperingatkan bahwa keberanian manusia tidak akan sanggup melawan dahsyatnya alam saat erupsi terjadi.

Ketika kolom abu mencapai ketinggian 10.000 meter dan lava pijar mulai keluar, aliran piroklastik bergerak sangat cepat. Kecepatan aliran panas tersebut bahkan melampaui teriakan minta tolong manusia, sehingga mustahil untuk dihindari tanpa persiapan yang tepat.

Faktor Risiko dan Bahaya Utama Erupsi

Kematian akibat bencana gunung api biasanya dipicu oleh beberapa fenomena alam yang mematikan. Daryono menjelaskan bahwa kondisi ini juga menjadi penyebab utama jatuhnya korban dalam insiden di Gunung Dukono.

Beberapa faktor utama penyebab jatuhnya korban jiwa saat erupsi gunung api antara lain:

  • Paparan awan panas atau aliran piroklastik yang bersuhu sangat tinggi.
  • Lontaran material batu dan abu panas dari dalam kawah.
  • Aliran lahar dingin maupun panas yang menerjang lereng gunung.
  • Pelanggaran radius bahaya serta penolakan untuk dievakuasi oleh petugas.

Berada di jarak 20 hingga 30 meter dari bibir kawah saat gunung aktif bukan lagi momen untuk mengagumi alam. Lokasi tersebut merupakan titik paling berbahaya di mana maut bisa datang kapan saja tanpa peringatan.

Pelanggaran aturan sering kali dipicu oleh keinginan untuk mengejar kepuasan wisata ekstrem yang tidak bertanggung jawab. Sejarah mencatat banyak peristiwa besar yang seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi para pendaki di seluruh dunia.

Daftar tragedi erupsi gunung api dengan korban jiwa yang cukup besar sepanjang sejarah:

Nama Gunung Api Tahun Kejadian Jumlah Korban Jiwa
Gunung Pelée 1902 29.000 orang
Gunung Nevado del Ruiz 1985 23.000 orang
Gunung Merapi 2010 341 orang
Gunung Ontake 2014 50 orang
Gunung Marapi 2023 23 orang

Data historis ini membuktikan bahwa gunung berapi tidak memerlukan izin manusia untuk meletus. Oleh karena itu, kepatuhan terhadap rekomendasi jarak aman menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar bagi siapa pun.

Pentingnya Mematuhi Radius Aman

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menetapkan radius bahaya sejauh empat kilometer di Gunung Dukono sejak akhir 2024. Selain itu, pemerintah daerah setempat juga sudah menutup jalur pendakian secara resmi sejak April 2026.

Menembus jalur pendakian yang ditutup bukan hanya membahayakan diri sendiri, namun juga mengancam keselamatan orang lain. Tim SAR dan relawan harus mempertaruhkan nyawa mereka jika harus melakukan evakuasi di zona yang tidak stabil.

Daryono berpesan agar masyarakat menghormati setiap batasan yang telah ditentukan oleh pihak otoritas. Ia mengingatkan bahwa keselamatan nyawa jauh lebih penting daripada mencapai puncak fisik gunung mana pun.

Berdasarkan laporan dari Basarnas, terdapat 20 pendaki yang berada di kawasan Gunung Dukono saat peristiwa erupsi terjadi. Sebanyak 17 orang berhasil ditemukan dalam kondisi selamat setelah melalui proses evakuasi yang menegangkan.

Namun, tiga orang lainnya dilaporkan meninggal dunia dalam kejadian tragis tersebut. Korban terdiri dari dua warga negara Singapura bernama Timo dan Sahnas, serta satu warga negara Indonesia dengan inisial E.

Pihak kepolisian kini tengah mendalami dugaan adanya kelalaian dari pihak pemandu atau guide dalam insiden ini. Investigasi dilakukan untuk memastikan apakah ada unsur pelanggaran prosedur yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa di zona terlarang.

Artikel terkait

Rekomendasi