Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran melaporkan bahwa tiga unit kapal perang milik Amerika Serikat telah meninggalkan wilayah Selat Hormuz setelah menjadi sasaran serangan besar-besaran. Operasi militer yang melibatkan serangan rudal dan drone tersebut diklaim mengakibatkan kerusakan yang sangat signifikan pada berbagai aset tempur Angkatan Laut Amerika Serikat.
Pihak IRGC melalui pernyataan resminya menegaskan bahwa peluncuran operasi ini merupakan bentuk balasan langsung terhadap dua tindakan provokatif yang dilakukan oleh militer Washington sebelumnya. Iran menuding pihak Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan gencatan senjata melalui serangan terhadap kapal tanker minyak milik Teheran di wilayah sekitar pelabuhan Jask.
Selain insiden tanker tersebut, ketegangan dipicu oleh pergerakan kapal perusak Angkatan Laut AS yang terus mendekati Selat Hormuz meskipun Iran telah memberikan peringatan keras secara berulang kali. Mengutip laporan dari IRIB News pada Jumat, 8 Mei 2026, pasukan Iran akhirnya memutuskan untuk membalas tindakan tersebut melalui operasi gabungan yang direncanakan secara luas dan sangat presisi.
Serangan pembalasan dari pihak Teheran ini mengerahkan berbagai jenis alutsista mutakhir, mulai dari rudal balistik anti-kapal hingga rudal jelajah anti-kapal yang didukung oleh drone penghancur. Menghadapi gempuran yang begitu dahsyat dan akurat, tiga kapal perang yang dianggap agresif tersebut dilaporkan segera mundur dan keluar dari kawasan strategis Selat Hormuz.
Ebrahim Zolfaghari selaku juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya memberikan penegasan serupa mengenai tindakan defensif yang diambil oleh pasukan bersenjata Iran di perairan tersebut. Ia menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan respons seketika terhadap rangkaian agresi militer yang dilakukan oleh pihak Amerika Serikat di jalur maritim internasional yang sangat vital.
Meskipun Amerika Serikat bersama sekutunya terus memberikan tekanan militer, Iran melalui data intelijen CIA dikabarkan masih mempertahankan sekitar 70 persen dari total stok persenjataan rudal mereka. Di sisi lain, situasi diplomatik semakin memanas setelah Donald Trump melontarkan kecaman keras dengan menyebut bahwa kepemimpinan Iran diisi oleh sosok-sosok yang tidak rasional pasca-insiden tersebut.