Hindari Keramaian, Ribuan Pendaki Nekat Naik Gunung Fuji di Luar Musim Resmi 2026

Hindari Keramaian, Ribuan Pendaki Nekat Naik Gunung Fuji di Luar Musim Resmi 2026
Foto: Hindari Keramaian, Ribuan Pendaki Nekat Naik Gunung Fuji di Luar Musim Resmi 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Fenomena pendakian Gunung Fuji di luar musim resmi kian marak terjadi belakangan ini. Ribuan pendaki nekat menaklukkan gunung tertinggi di Jepang tersebut meski jalur pendakian telah ditutup secara formal.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Location AI dan The Yomiuri Shimbun, tercatat setidaknya 10.000 orang melakukan pendakian ilegal setiap tahunnya antara 2019 hingga 2025. Analisis ini merujuk pada pergerakan sinyal ponsel warga yang terpantau di area pegunungan.

Secara resmi, musim pendakian Gunung Fuji hanya dibuka mulai awal Juli hingga 10 September saja. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa paruh kedua bulan September justru menjadi periode paling padat bagi para pendaki di luar musim resmi.

Sejumlah pendaki kedapatan tetap menerobos masuk meskipun akses jalan sudah dipasangi barikade penutup. Mereka bahkan rela mencari jalur alternatif demi bisa sampai ke puncak gunung yang ikonik tersebut.

Alasan di Balik Pendakian Luar Musim

Banyak pendaki mengaku sengaja memilih waktu di luar jadwal resmi demi menghindari kerumunan massa yang luar biasa padat. Kondisi jalur yang lebih sepi memberikan kepuasan tersendiri bagi mereka meski risikonya berlipat ganda.

Seorang pendaki asal Nagoya menceritakan pengalamannya saat mencoba melakukan pendakian semalam suntuk atau bullet climbing. Ia terpaksa membatalkan niatnya karena cuaca buruk dan angin kencang yang sangat membahayakan keselamatan jiwanya.

Selain faktor kenyamanan, masalah biaya juga menjadi pertimbangan utama bagi sebagian orang. Mereka berusaha menghindari biaya retribusi sebesar 4.000 yen atau sekitar Rp 450 ribu yang diterapkan oleh Prefektur Yamanashi dan Shizuoka.

Berikut adalah beberapa motivasi utama pendaki yang datang di luar musim resmi:

  • Menghindari kepadatan turis dan antrean panjang di jalur pendakian.
  • Menghemat biaya masuk wajib yang berlaku selama musim resmi.
  • Melakukan kegiatan spesifik seperti latihan fisik, bermain ski, atau snowboard.
  • Memanfaatkan sisa operasional beberapa pondok gunung yang masih menerima tamu.

Fenomena ini tidak hanya melibatkan warga lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara yang tetap nekat mendaki meski tahu status gunung sedang ditutup. Minimnya pengawasan di lapangan membuat para pendaki merasa bebas untuk melanggar aturan tersebut.

Risiko Fatal dan Ancaman Nyawa

Mendaki Gunung Fuji di luar musim resmi menyimpan bahaya ekstrem karena perubahan cuaca yang terjadi sangat mendadak. Angin kencang, petir, hingga hujan salju bisa memicu permukaan jalan menjadi licin dan membeku seketika.

Data kepolisian menunjukkan bahwa aktivitas ini telah memakan banyak korban jiwa dalam beberapa tahun terakhir. Tingkat kecelakaan di luar musim tergolong tinggi jika dibandingkan dengan jumlah pendaki yang jauh lebih sedikit daripada musim resmi.

Data statistik kecelakaan pendakian di Gunung Fuji periode 2019-2025:

Kategori Pendakian Jumlah Kecelakaan Korban Meninggal Dunia
Luar Musim Resmi 79 Kasus 19 Jiwa
Musim Resmi 310 Kasus 21 Jiwa

Tabel di atas memperlihatkan bahwa rasio kematian pada pendakian luar musim jauh lebih mengkhawatirkan. Sebagai contoh, pada April lalu, seorang pendaki berusia 33 tahun ditemukan tewas setelah terjatuh dari lereng gunung.

Kendala Pengawasan dan Sanksi Hukum

Secara hukum, pendakian di luar musim sebenarnya dilarang keras dan dapat dijatuhi sanksi pidana. Pelanggar terancam hukuman penjara hingga enam bulan atau denda maksimal mencapai 300.000 yen atau setara Rp 33 juta.

Namun, pemerintah setempat mengakui bahwa penerapan sanksi ini masih sangat sulit dilakukan secara efektif. Keterbatasan jumlah personel patroli menjadi kendala utama dalam mengawasi area gunung yang sangat luas dan terbuka.

Hingga saat ini, belum ada pendaki yang benar-benar dijatuhi hukuman meski pelanggaran terus terjadi setiap tahun. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa tren pendakian ilegal akan terus berlanjut tanpa ada efek jera bagi para pelakunya.

Artikel terkait

Rekomendasi