Harga emas di pasar spot mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Kamis (15/5/2026) waktu setempat. Kondisi ini dipicu oleh menguatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau yield Treasury serta penguatan nilai tukar dolar AS.
Kenaikan dua instrumen tersebut memberikan tekanan besar bagi logam mulia. Padahal, saat ini tengah terjadi peningkatan permintaan aset aman atau safe haven akibat memanasnya kembali situasi keamanan di wilayah Selat Hormuz.
Berdasarkan data dari Kitco, harga emas di pasar spot berakhir pada level US$4.650,30 per troy ounce. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,80% dibandingkan dengan posisi penutupan pada sesi sebelumnya.
Koreksi yang lebih tajam justru dialami oleh harga perak di pasar spot pada periode yang sama. Komoditas ini anjlok hingga 4,58% dan mendarat di posisi US$83,360 per ons pada akhir perdagangan Kamis.
Data Ekonomi Amerika Serikat Terbaru
Pergerakan pasar logam mulia pekan ini sangat dipengaruhi oleh sejumlah data ekonomi penting yang dirilis oleh pemerintah Amerika Serikat. Salah satu indikator utamanya adalah angka penjualan ritel yang menunjukkan tren pertumbuhan konsumsi masyarakat.
Pada bulan April, penjualan ritel di Negeri Paman Sam tercatat naik 0,5% menjadi US$757,1 miliar. Pencapaian ini menyusul revisi kenaikan tajam pada bulan Maret yang mencapai angka pertumbuhan hingga 1,6%.
Berikut adalah rangkuman kinerja data ekonomi Amerika Serikat selama periode laporan terakhir:
- Pertumbuhan Penjualan Ritel: Secara akumulatif, penjualan periode Februari hingga April melonjak 4,4% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
- Klaim Pengangguran Awal: Jumlah warga yang mengajukan tunjangan pengangguran baru meningkat sebanyak 12.000 menjadi 211.000 untuk pekan yang berakhir 9 Mei.
- Klaim Pengangguran Berlanjut: Angka continuing claims atau klaim yang berlanjut juga naik 24.000 menjadi 1,782 juta pada pekan yang berakhir 2 Mei.
Rangkaian data tersebut menciptakan sentimen yang bercampur di pasar komoditas. Meskipun konsumsi masyarakat masih tergolong kuat, sektor tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan di tengah kebijakan suku bunga tinggi.
Tingginya tingkat suku bunga menjadi hambatan utama bagi emas dan perak yang tidak memberikan imbal hasil atau bunga. Kondisi ekonomi ini membuat investor cenderung beralih pada instrumen lain yang lebih menguntungkan saat ini.
Ketegangan Geopolitik di Selat Hormuz
Dari sisi geopolitik, wilayah Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian dan risiko utama bagi pasar global. Konflik di jalur perairan penting ini memengaruhi perdagangan energi, emas, serta berbagai aset yang sensitif terhadap inflasi.
Sebuah insiden terbaru dilaporkan terjadi di sekitar 38 mil laut sebelah timur laut Fujairah. Sebuah kapal dilaporkan telah disita oleh pihak tertentu dan diarahkan paksa menuju wilayah perairan Iran.
Selain insiden penyitaan tersebut, sebuah kapal kargo yang mengibarkan bendera India dilaporkan tenggelam di dekat perairan Oman. Kapal tersebut diduga mengalami kerusakan fatal setelah mendapatkan serangan di tengah laut.
Pihak Iran secara konsisten terus menegaskan klaim kedaulatan mereka atas jalur navigasi internasional tersebut. Sebelum konflik memanas, Selat Hormuz merupakan rute vital bagi sekitar seperlima distribusi minyak mentah dunia.
Berikut adalah perbandingan ringkas dampak kondisi geopolitik dan ekonomi terhadap pasar emas:
| Faktor Pendorong | Dampak Terhadap Emas | Keterangan Tambahan |
|---|---|---|
| Gangguan Selat Hormuz | Meningkatkan Permintaan | Investor mencari perlindungan pada aset aman (safe haven). |
| Harga Minyak > US$100 | Menekan Harga Emas | Memicu kekhawatiran inflasi dan menaikkan yield Treasury. |
| Data Penjualan Ritel AS | Menekan Harga Emas | Memperkuat posisi dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi. |
Tabel di atas menunjukkan bagaimana berbagai variabel global memberikan tekanan yang saling bertolak belakang bagi pergerakan harga emas. Meski risiko keamanan mendukung kenaikan emas, faktor ekonomi dan energi justru menarik harganya ke bawah.
Pejabat tinggi dari Amerika Serikat maupun China telah memberikan pernyataan resmi terkait situasi ini. Kedua negara besar tersebut mendesak agar Selat Hormuz tetap terbuka demi kelancaran arus perdagangan global yang stabil.
Dampak pada Pasar Saham dan Komoditas Lain
Situasi di Selat Hormuz tidak hanya memengaruhi logam mulia, tetapi juga berimbas pada pasar energi dan saham. Dampak yang paling nyata terlihat pada lonjakan harga minyak mentah serta naiknya premi asuransi pengiriman kapal.
Bursa saham global juga menunjukkan reaksi yang beragam, terutama pada sektor yang sangat sensitif terhadap biaya energi. Namun, pasar saham Amerika Serikat di Wall Street terpantau tetap menguat dan mencetak rekor baru.
Indeks S&P 500 berhasil naik 0,8% dan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di level 7.501,24 pada akhir sesi. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average menguat 0,7% hingga menembus level psikologis 50.063,46.
Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi juga tidak ketinggalan dengan kenaikan sebesar 0,9%. Indeks ini menutup perdagangan Kamis di posisi 26.635,22 seiring optimisme pasar terhadap kinerja emiten.
Beralih ke perdagangan logam berjangka, emas Comex untuk pengiriman Mei ditutup melemah 0,42% di level US$4.678,10 per troy ounce. Pergerakan ini sejalan dengan tren pelemahan yang terjadi di pasar spot dunia.
Perak Comex juga mencatatkan kinerja yang buruk dengan anjlok sedalam 4,47% menjadi US$84,912 per troy ounce. Penurunan harian tersebut tercatat sebagai koreksi yang paling tajam bagi perak sejak bulan Maret lalu.
Secara keseluruhan, pasar saat ini sedang berada dalam fase penyesuaian terhadap dinamika suku bunga dan risiko konflik fisik. Investor tetap waspada memantau perkembangan di Timur Tengah sambil menunggu arah kebijakan moneter selanjutnya.