Ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia secara signifikan. Kondisi ini memaksa India dan Kamboja untuk segera menyesuaikan harga jual eceran bensin dan solar di dalam negeri mereka.
Keputusan tersebut diambil guna merespons dinamika pasar energi global yang tidak menentu. Langkah ini juga menimbulkan kekhawatiran baru terkait potensi lonjakan inflasi yang dapat membebani masyarakat di Asia Selatan serta Asia Tenggara.
India Hadapi Kenaikan Harga BBM Tertinggi dalam Empat Tahun
Di India, perusahaan minyak pelat merah baru saja menaikkan harga bahan bakar sekitar 90 paisa per liter pada hari Selasa. Penyesuaian ini menyusul kenaikan sebelumnya sebesar 3 rupee per liter yang dilakukan hanya selisih lima hari saja.
Secara kumulatif, harga BBM di India bulan ini telah melonjak hampir 4 rupee atau setara Rp727 per liter. Angka kenaikan ini tercatat sebagai yang tertinggi dalam kurun waktu lebih dari empat tahun terakhir.
Kini masyarakat di Delhi harus merogoh kocek sebesar 98,64 rupee (sekitar Rp17.934) untuk satu liter bensin. Sementara itu, harga solar di wilayah yang sama telah menyentuh angka 91,58 rupee atau setara Rp16.650 per liter.
Kondisi di kota-kota besar lainnya bahkan lebih menantang bagi konsumen setempat. Di Mumbai dan Bengaluru, harga jual bensin telah melampaui angka 107 rupee atau lebih dari Rp19.453 per liternya.
Rincian harga bahan bakar terbaru di beberapa wilayah utama India :
- Wilayah Delhi: Bensin dijual seharga 98,64 rupee per liter dan solar 91,58 rupee per liter.
- Kota Besar (Mumbai & Bengaluru): Harga bensin telah menembus angka di atas 107 rupee per liter.
- Total Kenaikan Bulanan: Mencapai hampir 4 rupee per liter, rekor tertinggi sejak empat tahun lalu.
Data di atas menunjukkan beban berat yang harus ditanggung konsumen akibat tekanan harga minyak internasional. Risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz juga menjadi faktor pemicu utama kenaikan harga yang drastis ini.
Beban Perusahaan Minyak dan Penyesuaian di Kamboja
Pejabat industri mengungkapkan bahwa perusahaan besar seperti Indian Oil dan Bharat Petroleum sempat menanggung kerugian besar. Mereka sempat menahan harga ritel meskipun harga internasional melonjak tajam.
Sebelum adanya penyesuaian harga terbaru, kerugian kolektif perusahaan-perusahaan tersebut diperkirakan mencapai 120 juta dolar AS setiap harinya. Penyesuaian harga ini akhirnya dilakukan untuk menjaga stabilitas operasional penyedia energi tersebut.
Kamboja juga mengambil langkah serupa dengan menaikkan harga bensin reguler dari 1,28 dolar AS menjadi 1,35 dolar AS per liter. Harga solar di negara tersebut turut mengalami kenaikan dari 1,13 dolar AS menjadi 1,15 dolar AS per liter.
Otoritas setempat menegaskan bahwa kebijakan ini murni mengikuti pergerakan pasar energi dunia yang tengah bergejolak. Konflik di Timur Tengah dikhawatirkan akan terus mengganggu jalur distribusi minyak ke berbagai negara importir.
Informasi perbandingan penyesuaian harga bahan bakar di Kamboja :
| Jenis Bahan Bakar | Harga Lama (USD) | Harga Baru (USD) |
|---|---|---|
| Bensin Reguler | 1,28 per liter | 1,35 per liter |
| Solar | 1,13 per liter | 1,15 per liter |
Tabel tersebut memperlihatkan tren kenaikan harga yang konsisten pada kedua jenis bahan bakar utama di Kamboja. Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor, ekonomi Kamboja memang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas global.
Ketidakpastian geopolitik diprediksi masih akan terus membayangi stabilitas harga energi di masa mendatang. Pemerintah di berbagai negara kini terus memantau situasi demi memitigasi dampak ekonomi yang lebih luas bagi warga mereka.