Gen Z Dominasi Internet, Literasi Digital Orang Tua 2026 Masih Tertinggal

Gen Z Dominasi Internet, Literasi Digital Orang Tua 2026 Masih Tertinggal
Foto: Gen Z Dominasi Internet, Literasi Digital Orang Tua 2026 Masih Tertinggal. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Teknologi yang berkembang sangat pesat saat ini telah menempatkan generasi muda Indonesia sebagai kelompok pengguna internet paling aktif. Namun, lonjakan aktivitas digital ini sayangnya belum diimbangi dengan kesiapan pola asuh digital yang memadai dari para orang tua.

Meskipun anak-anak masa kini dianggap memiliki kecerdasan digital yang jauh melampaui orang tua mereka, kondisi ini menyimpan risiko besar. Anak-anak justru berada dalam ancaman kejahatan siber yang semakin tinggi di ruang digital yang luas.

Menyadari kondisi yang mendesak tersebut, ECPAT Indonesia sebagai lembaga perlindungan anak yang berfokus pada isu eksploitasi seksual anak mengambil langkah strategis. Mereka menggandeng Meta untuk meluncurkan sebuah program pemberdayaan masyarakat yang diberi nama Smart Digital Parenting.

Program ini berbasis komunitas dan dirancang secara khusus untuk memperkecil kesenjangan literasi digital antara anak dan orang tua. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan digital yang lebih aman bagi anggota keluarga.

Krisis Keamanan Digital pada Anak

Project Officer ECPAT Indonesia, Alfie Fadila, memberikan gambaran data yang cukup mengkhawatirkan terkait profil pengguna internet di tanah air. Generasi Z tercatat menempati posisi teratas dengan angka penggunaan mencapai 25,52 persen dari total pengguna.

Posisi kedua ditempati oleh kelompok Milenial yang mengikuti sangat ketat dengan persentase sebesar 25,17 persen. Ironisnya, angka penetrasi internet ini tidak sejalan dengan pemahaman masyarakat mengenai keamanan dunia maya.

Berdasarkan data tahun 2025, skor indeks literasi digital nasional Indonesia masih tertahan pada level 44,53. Angka yang relatif rendah ini menunjukkan adanya ketimpangan nyata dalam kecakapan digital masyarakat secara umum.

Ketimpangan tersebut akhirnya memicu berbagai ancaman nyata yang menyasar anak-anak di bawah umur setiap harinya. Risiko yang dihadapi sangat beragam, mulai dari peretasan akun pribadi hingga paparan konten dewasa yang tidak layak konsumsi.

Selain itu, anak-anak juga rentan terhadap perundungan di dalam platform gim daring yang populer. Dalam tingkat yang lebih mengkhawatirkan, mereka juga dibayangi risiko berat berupa eksploitasi seksual secara daring.

Alfie menjelaskan bahwa anak-anak cenderung enggan melapor kepada orang tua jika mengalami masalah atau menjadi korban di internet. Mereka merasa bahwa mengakui masalah digital kepada orang tua adalah sebuah hal yang memalukan atau aib.

Pernyataan Alfie Fadila mengenai perilaku anak saat menghadapi kejahatan siber:

  • Anak-anak merasa takut dan tidak berani memberitahu siapapun saat menjadi korban kejahatan di internet.
  • Mereka menganggap bercerita kepada orang tua sebagai sebuah aib yang harus disembunyikan.
  • Sebagian besar anak lebih memilih untuk mencurahkan masalahnya kepada teman sebaya atau saudara kandung.
  • Pola komunikasi ini membuat orang tua sering kali terlambat mengetahui bahaya yang menimpa anak mereka.

Kutipan tersebut disampaikan Alfie dalam rangkaian acara Cerdas Digital 2026 yang berlangsung di Jakarta Selatan. Acara ini menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya komunikasi terbuka antara anak dan orang tua mengenai aktivitas digital.

Inisiatif Program Keamanan Digital

Sebagai solusi konkret, ECPAT Indonesia dan Meta akan menyambangi empat wilayah besar di Indonesia melalui program Smart Digital Parenting. Kota-kota yang menjadi sasaran utama program ini antara lain Denpasar, Yogyakarta, Batam, dan Kupang.

Agenda utama dari kunjungan ini adalah meningkatkan kesadaran para orang tua terhadap berbagai risiko yang mengintai di dunia digital. Selain itu, program ini berupaya membangun pola pengasuhan yang lebih adaptif dan suportif terhadap perkembangan teknologi.

Orang tua diharapkan mampu memperkuat peran mereka sebagai benteng pertahanan pertama bagi anak di lingkungan keluarga. Pengetahuan yang diberikan akan membantu mereka merespons ancaman digital dengan cara yang lebih tepat dan tenang.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari di setiap kota ini akan membekali orang tua dengan materi yang sangat praktis. Peserta akan diajarkan cara menghadapi risiko internet serta pemanfaatan fitur pengaduan pada platform digital.

Langkah konkret dan materi pelatihan bagi para orang tua dalam program ini:

  • Edukasi mengenai taktik praktis dalam mengidentifikasi dan menghadapi risiko keamanan saat berinternet.
  • Pelatihan cara menggunakan fitur aduan resmi yang tersedia di berbagai platform media sosial dan digital.
  • Optimalisasi penggunaan layanan panggilan darurat milik pemerintah melalui kanal SAPA 129.
  • Teknik membangun komunikasi yang suportif agar anak merasa nyaman melaporkan masalah digital kepada orang tua.

Materi-materi tersebut disusun agar mudah dipahami oleh orang tua yang mungkin belum terlalu akrab dengan istilah teknologi. Fokus utamanya adalah memberikan alat yang bisa langsung dipraktikkan dalam pengawasan harian di rumah.

Pembentukan Parent Champion di Daerah

Program yang direncanakan berjalan dari Juni hingga Oktober 2026 ini memiliki target utama membentuk 240 Parent Champion. Para penggerak ini akan dipilih dari berbagai elemen masyarakat lokal di empat provinsi sasaran.

Komposisi Parent Champion akan sangat beragam, mencakup guru, komite sekolah, hingga tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat. Selain itu, kader PKK dan kelompok remaja juga akan dilibatkan secara aktif dalam proses rekrutmen ini.

Setelah mendapatkan pelatihan intensif, para Parent Champion ini memiliki tanggung jawab untuk melakukan sosialisasi lanjutan. Targetnya adalah menjangkau setidaknya 1.000 peserta baru di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka masing-masing.

Tidak hanya sosialisasi tatap muka, para penggerak ini juga didorong untuk aktif di ruang digital. Mereka diproyeksikan untuk memproduksi konten edukatif secara mandiri untuk memperluas jangkauan pesan keamanan digital tersebut.

Target capaian produksi konten edukatif dari program Smart Digital Parenting:

Jenis Capaian Target Jumlah Tujuan Utama
Parent Champion 240 Orang Menjadi penggerak utama literasi digital di tingkat komunitas lokal.
Sosialisasi Langsung 1.000 Peserta Memperluas pemahaman orang tua mengenai pengasuhan digital di daerah.
Aset Digital (Poster/Video) 25 Konten Menyediakan materi edukasi visual yang mudah dipahami dan disebarkan.
Jangkauan Media Sosial 10.000 Orang Meningkatkan kesadaran masyarakat luas melalui kampanye daring.

Melalui target-target tersebut, diharapkan tercipta efek domino yang positif dalam penyebaran literasi digital di Indonesia. Dengan begitu, kesenjangan pemahaman antara Gen Z dan generasi tua dapat perlahan dikurangi demi keamanan bersama.

Artikel terkait

Rekomendasi