Gempa M 7,7 Filipina Picu Peringatan Tsunami di RI, Warga Diminta Jauhi Pantai Terbaru 2026

Gempa M 7,7 Filipina Picu Peringatan Tsunami di RI, Warga Diminta Jauhi Pantai Terbaru 2026
Foto: Gempa M 7,7 Filipina Picu Peringatan Tsunami di RI, Warga Diminta Jauhi Pantai Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Peristiwa gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang melanda wilayah selatan Mindanao, Filipina, memberikan dampak signifikan hingga ke wilayah Indonesia. Guncangan besar tersebut memicu peringatan dini tsunami di sejumlah daerah pesisir tanah air.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat untuk segera menjauh dari area pantai demi keamanan. Warga juga diminta tetap waspada mengingat aktivitas gempa susulan masih terus terjadi dengan intensitas yang cukup tinggi.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menekankan pentingnya berada di lokasi yang aman. Selain menjauhi bibir pantai, warga diharapkan menghindari bangunan yang mengalami keretakan akibat getaran gempa.

Pemerintah meminta penduduk di pesisir Sulawesi Utara, Maluku Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, hingga Kalimantan Timur untuk terus meningkatkan kewaspadaan. Meski anomali muka air laut masih tergolong minor, status siaga dan waspada tetap diberlakukan di wilayah-wilayah tersebut.

Dampak Tsunami Minor dan Catatan Gelombang

Data dari alat monitoring menunjukkan bahwa gelombang tsunami kecil telah mencapai beberapa titik di Indonesia. Gelombang ini muncul dalam waktu yang berdekatan di wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara.

Berikut adalah rincian waktu kedatangan dan ketinggian gelombang tsunami minor yang terdeteksi:
  • Loloda, Halmahera Barat: Gelombang tiba pukul 07.20 WIB dengan ketinggian mencapai 0,09 meter.
  • Ulusiau-Sitaro: Terdeteksi pada pukul 07.27 WIB dengan ketinggian air laut sebesar 0,18 meter.
  • Melonguane, Kepulauan Talaud: Muncul pada pukul 07.27 WIB dengan ketinggian tertinggi yang tercatat yakni 0,19 meter.

Meskipun ketinggian gelombang masih di bawah satu meter, BNPB mengingatkan bahwa aktivitas tektonik di sekitar sesar utama masih sangat aktif. Energi dari struktur sesar tersebut terus dilepaskan melalui rangkaian gempa susulan.

Rangkaian Gempa Susulan dan Getaran yang Dirasakan

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya serangkaian gempa susulan dengan kekuatan di atas Magnitudo 5.0. Aktivitas seismik ini terpantau terjadi secara beruntun sejak pagi hari.

Informasi mengenai rangkaian gempa susulan yang tercatat oleh sensor BMKG:
Waktu (WIB) Kekuatan (Mag) Lokasi Pusat Gempa
07.11 WIB 5.9 241 km Barat Laut Pulau Karatung
07.18 WIB 5.7 211 km Barat Laut Pulau Karatung
07.55 WIB 6.0 201 km Barat Laut Tahuna, Kepulauan Sangihe
08.10 WIB 5.2 172 km Barat Laut Tahuna, Kepulauan Sangihe

Data pada tabel di atas menunjukkan fluktuasi kekuatan gempa yang masih cukup besar di wilayah perbatasan Indonesia-Filipina. Hal ini memicu getaran dengan intensitas beragam yang dirasakan oleh warga di Sulawesi Utara.

Laporan dari Pusdalops BPBD menyebutkan bahwa guncangan paling kuat dirasakan di Kabupaten Kepulauan Sangihe selama 3 hingga 4 detik. Kondisi ini sempat memicu kepanikan luar biasa sehingga warga memilih untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Di wilayah lain seperti Minahasa Utara, getaran dirasakan dengan intensitas sedang selama sekitar 4 detik. Sementara itu, warga di Kota Manado merasakan ayunan gempa selama 2 hingga 3 detik, dan di Kepulauan Talaud getaran terasa lebih lemah.

Hingga saat ini, seluruh jajaran BPBD di wilayah terdampak masih bersiaga penuh untuk memantau situasi di lapangan. Petugas juga tengah melakukan pendataan mendalam terkait kemungkinan adanya kerusakan bangunan akibat rentetan guncangan tersebut.

Masyarakat diharapkan hanya memercayai informasi resmi dari BPBD, BNPB, maupun BMKG agar tidak terpengaruh isu yang tidak jelas sumbernya. Tetap patuhi arahan petugas di lapangan demi keselamatan bersama.

Artikel terkait

Rekomendasi