Kinerja ekspor Indonesia menunjukkan tren positif di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Namun, peningkatan inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah, dan semakin tipisnya surplus dagang menambah sejumlah tantangan yang harus diwaspadai. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa ekspor Indonesia selama Januari hingga April 2026 mencapai 92,15 miliar dollar AS atau setara Rp 1.494,83 triliun. Nilai ini naik 5,48 persen dari tahun ke tahun, dengan peningkatan ekspor pada April 2026 sebesar 21,98 persen.
Menurut Board of Experts Prasasti, Halim Alamsyah, hasil ini dipengaruhi oleh depresiasi rupiah serta peningkatan produksi barang manufaktur dan produk terkait hilirisasi.
"Kenaikan ekspor pada April yang mendekati 22 persen, dan peningkatan ekspor nikel olahan ke Tiongkok hingga 73 persen, adalah kabar baik. Ini menunjukkan hilirisasi meningkatkan nilai tambah di dalam negeri serta diharapkan menambah pasokan devisa ketika surplus dagang kita menipis," ujar Halim dalam siaran pers, Sabtu (6/6/2026).
Halim menambahkan, pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia merupakan langkah strategis mendukung ekspor dan memperkuat devisa negara. Namun, diperlukan langkah lanjutan yang cepat dan tepat agar ekonomi tidak kehilangan momentum perbaikannya.
Peningkatan ekspor didorong oleh industri pengolahan yang tumbuh 29,07 persen, serta produk hilirisasi seperti nikel olahan ke China yang naik 73,6 persen dan minyak sawit mentah (CPO) yang meningkat 20,4 persen.
Di tengah capaian ekspor tersebut, BPS juga melaporkan inflasi pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen, naik dari 2,42 persen pada April 2026. Menurut Halim, peningkatan ini disebabkan oleh kelangkaan pasokan akibat perang Iran vs Amerika Serikat dan depresiasi rupiah yang terus berlangsung.
Pengendalian nilai tukar dan inflasi memerlukan perhatian ekstra.
Halim menyatakan, ruang untuk pertumbuhan ekonomi kian sempit, sehingga koordinasi erat antara otoritas moneter, sektor keuangan, dan fiskal sangat penting.
Rupiah dan Inflasi dalam Fokus:
"Strategi pemerintah dalam mempertahankan stabilitas ekonomi akan diuji oleh kemampuan mempertahankan stabilitas rupiah dan inflasi," kata Halim. Langkah meningkatkan pasokan valas di dalam negeri dan koordinasi kebijakan makroekonomi dianggap krusial oleh pelaku ekonomi untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi saat ini. Hendaknya, tindakan yang diambil tidak malah menambah ketidakpastian. Kebijakan harus jelas, insentif terarah, dan pelaksanaan konsisten agar kredibel.
Sementara itu, Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menilai inflasi saat ini tidak mencerminkan ekonomi yang terlalu panas.
"Inflasi kita didorong oleh volatile food seperti cabai merah, tomat, dan bawang merah. Ini lebih bersifat musiman dan terkait pasokan serta cuaca, bukan karena kenaikan permintaan domestik. Inflasi inti kita tetap rendah," jelas Piter.
Piter melanjutkan, tekanan harga yang terjadi bersifat sementara, bukan karena struktural. Data BPS menunjukkan harga cabai merah naik 25,64 persen, tomat naik 9,82 persen, dan bawang merah naik 6,65 persen sebagai pendorong utama inflasi.
Langkah pemerintah menahan harga bahan bakar bersubsidi juga berkontribusi meredam lonjakan harga. Surplus dagang mungkin menurun, tapi aktivitas produksi tetap kuat.
```