Seorang mantan petinggi militer Amerika Serikat memprediksi bahwa ketegangan antara poros AS-Israel dengan Iran akan memasuki babak baru yang jauh lebih destruktif. Perang gabungan yang melibatkan kedua negara tersebut diperkirakan bakal berlangsung secara total dan tanpa kompromi.
Jenderal (Purn) Jack Keane, yang pernah menjabat sebagai penjabat Kepala Staf Angkatan Darat AS, memberikan analisis tajam mengenai situasi di Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa operasi militer kali ini tidak akan lagi menggunakan pendekatan setengah-setengah seperti sebelumnya.
Eskalasi Militer Pasca Kegagalan Diplomasi
Menurut Keane, keputusan untuk meningkatkan skala serangan diambil setelah Republik Islam Iran menolak usulan perdamaian terbaru yang diajukan Presiden Donald Trump. Penolakan ini memicu Amerika dan Israel untuk menyiapkan langkah balasan yang lebih masif dan terukur.
Persiapan serangan tersebut didukung oleh data intelijen komprehensif yang telah dikumpulkan sejak kesepakatan gencatan senjata berlaku pada 8 April lalu. Kini, seluruh instrumen militer dikabarkan telah berada dalam posisi siap tempur untuk menjalankan instruksi selanjutnya.
Rangkuman poin utama terkait pernyataan Jenderal Jack Keane:
- Operasi militer mendatang merupakan aksi gabungan penuh antara pasukan Amerika Serikat dan militer Israel.
- Target serangan meliputi sisa-sisa infrastruktur militer Iran yang tidak hancur pada periode serangan sebelumnya.
- Sektor ekonomi dan sumber pendapatan Iran akan menjadi sasaran utama guna melumpuhkan kekuatan negara tersebut.
- Fasilitas yang berkaitan dengan pengembangan nuklir serta program rudal Iran menjadi fokus prioritas penghancuran.
Keane yang saat ini menjabat sebagai pimpinan Institute for the Study of War (ISW) menyoroti kesabaran yang selama ini ditunjukkan pihak Gedung Putih. Namun, upaya negosiasi yang terus menemui jalan buntu membuat opsi militer kembali menjadi jalan keluar utama bagi Washington.
Target Strategis dan Kekuatan Serangan
Berdasarkan data yang dipaparkan Keane, serangan udara gabungan pada Februari lalu sebenarnya hanya berhasil mengenai sekitar 30 persen dari target yang direncanakan. Hal ini menyisakan sebagian besar infrastruktur militer Iran yang masih berfungsi dan menjadi ancaman bagi sekutu.
Perbandingan target dan status operasi militer menurut analisis Keane:
| Kategori Fokus | Status & Target Operasi |
|---|---|
| Cakupan Target | 70% target militer yang masih tersisa dari serangan sebelumnya. |
| Fasilitas Utama | Pusat pengembangan teknologi nuklir dan pabrik rudal balistik. |
| Sasaran Ekonomi | Sektor pendapatan negara guna menghentikan pendanaan militer. |
| Model Operasi | Serangan udara dan intelijen gabungan AS-Israel secara "all-out". |
Tabel di atas merangkum bagaimana skema serangan yang direncanakan oleh pihak sekutu untuk melumpuhkan kekuatan Iran secara menyeluruh. Keane meyakini bahwa penghancuran sumber pendapatan akan menjadi kunci utama dalam strategi Donald Trump kali ini.
Langkah ekstrem ini dianggap sebagai respons atas kegagalan dialog yang telah diupayakan dalam beberapa bulan terakhir. Dengan kekuatan penuh, AS dan Israel bertujuan untuk memastikan tidak ada lagi ancaman militer yang berarti dari pihak Teheran di masa depan.