Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) kini tengah menelusuri kabar mengenai tiga alumninya yang diduga terlibat dalam skandal riset palsu. Isu ini mencuat setelah pelaksanaan konferensi internasional bergengsi, International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISSPD) di Kopenhagen, Denmark.
Kabar miring tersebut menyebutkan bahwa sejumlah nama yang berafiliasi dengan UNY muncul dalam daftar penelitian yang keabsahannya diragukan. Pihak universitas pun bergerak cepat untuk memverifikasi kebenaran status dan keterlibatan para alumni tersebut.
Identitas Alumni yang Sedang Ditelusuri
Wakil Rektor UNY Bidang Akademik, Prof. Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro, memaparkan ada tiga nama yang menjadi fokus utama investigasi saat ini. Ketiga nama tersebut telah terdeteksi dalam basis data alumni universitas.
Daftar nama yang sedang dalam proses verifikasi pihak UNY:
- Rini Winarti
- Rifaldy Fajar
- Prihantini
Prof. Nur Hidayanto menjelaskan bahwa ketiga individu ini memang tercatat sebagai lulusan dari program studi yang berbeda. Prihantini dan Rifaldy Fajar diketahui berasal dari program studi Matematika, sementara Rini Winarti merupakan lulusan dari jurusan Biologi.
Upaya Konfirmasi dan Kendala Komunikasi
Hingga saat ini, pihak kampus masih berupaya mendapatkan pernyataan resmi langsung dari para terduga. Namun, proses komunikasi ini mengalami sedikit hambatan karena bertepatan dengan hari libur nasional.
Prof. Nur Hidayanto menduga bahwa sulitnya para alumni tersebut dihubungi kemungkinan karena mereka menerima banyak pertanyaan dari berbagai pihak. Ia menegaskan bahwa pihak rektorat ingin memastikan apakah individu di media sosial benar-benar orang yang sama dengan alumni mereka.
Rektor UNY, Prof. Dr. Sumaryanto, telah memberikan instruksi tegas untuk melakukan langkah tabayyun atau mencari klarifikasi mendalam. Hal ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab institusi sebelum adanya arahan lebih lanjut dari pihak Kementerian.
Mengenai kemungkinan sanksi, Prof. Nur Hidayanto menyebutkan bahwa posisi hukum alumni berbeda dengan mahasiswa aktif. Menurutnya, peraturan akademik terkait sanksi seperti pencabutan status tidak bisa serta-merta diterapkan kecuali ada rekomendasi khusus dari komite etik.
Jawaban Template dari Pihak Terduga
Dari ketiga nama yang terseret, baru satu orang yang memberikan respons terhadap pesan singkat yang dikirimkan pihak kampus. Prihantini sempat membalas pesan tersebut, namun isinya dianggap belum memberikan kejelasan yang berarti.
Prof. Nur Hidayanto mengungkapkan bahwa jawaban yang diberikan oleh Prihantini terkesan seperti sebuah jawaban otomatis atau template. Pesan tersebut hanya berisi informasi bahwa klarifikasi resmi akan segera disampaikan melalui media sosial.
Pihak UNY juga menanggapi kabar mengenai penutupan akun media sosial para terduga. Muncul isu bahwa akun-akun tersebut diretas, namun pihak universitas memilih untuk tetap kritis dalam menyikapi setiap informasi yang beredar di dunia maya.
Sementara itu, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNY juga sudah mencoba menjalin komunikasi dengan Rini Winarti. Hasil dari pengumpulan data di tingkat fakultas ini akan dilaporkan kepada pimpinan universitas untuk ditindaklanjuti.
Kejanggalan dalam Presentasi di Kopenhagen
Dugaan manipulasi ini bermula dari laporan seorang mahasiswa S3 Oxford University asal Indonesia, Wa Ode Dwi Daningrat. Melalui akun media sosialnya, Dwi membeberkan serangkaian keanehan yang terjadi selama simposium di Denmark tersebut.
Beberapa poin kejanggalan yang dilaporkan oleh saksi mata di lokasi:
- Klaim pengambilan data primer di pegunungan Andes, Peru, yang dilakukan tanpa melibatkan mitra riset lokal.
- Perubahan identitas pemateri yang terlihat mencurigakan dalam durasi waktu yang sangat singkat.
- Seorang perempuan tampil sebagai "Riana Dwi Kurniawati" di satu sesi, namun berubah identitas menjadi "Dimas Fajar Prasetyo" di sesi berikutnya.
- Identitas asli pemateri tersebut diduga kuat adalah Prihantini, namun namanya tidak tercantum dalam daftar penulis riset yang dipaparkan.
Dwi menyoroti bagaimana seorang pemateri bisa mengganti jilbab dan identitasnya hanya dalam waktu sepuluh menit untuk membawakan judul penelitian yang berbeda. Hal ini dianggap sangat tidak lazim dan melanggar kode etik riset internasional yang sangat ketat.
Riset yang Menjadi Fokus Investigasi
Berdasarkan penelusuran lebih lanjut, terdapat empat judul penelitian yang mencantumkan nama-nama tersebut di laman resmi ISSPD. Penelitian tersebut mencakup topik-topik kompleks mulai dari kecerdasan buatan (AI) hingga pemodelan matematika untuk penyakit pneumonia.
Informasi mengenai grup riset dan afiliasi yang digunakan:
| Nama Peneliti | Afiliasi yang Dicantumkan |
|---|---|
| Prihantini & Rifaldy Fajar | AI-Biomedicine Research Group, IMCDS-Biomed Research Foundation, Jakarta |
| Rini Winarti | Departemen Biologi, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) |
Data di atas menunjukkan adanya perbedaan penggunaan nama institusi antara para terduga. Hingga berita ini diturunkan, UNY masih menunggu hasil investigasi internal untuk memberikan pernyataan resmi yang lebih komprehensif terkait skandal yang mencoreng dunia akademik ini.