Istilah gaslighting mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah insiden dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat viral. Kejadian ini melibatkan pembawa acara bernama Shindy Lutfiana dan seorang siswa dari SMAN 1 Pontianak sebagai peserta lomba.
Netizen menilai pernyataan yang dilontarkan oleh pembawa acara tersebut merupakan bentuk gaslighting yang membuat mental peserta merasa jatuh atau "kecil". Fenomena ini kemudian memicu diskusi luas mengenai dampak serius dari tindakan manipulasi psikologis tersebut terhadap korbannya.
Menanggapi isu ini, psikolog klinis Anastasia Sari Dewi menjelaskan bahwa dampak gaslighting bagi korban sangatlah fatal dan tidak bisa disepelekan. Menurut Anastasia, setidaknya ada tiga dampak utama yang sering dialami oleh mereka yang mendapatkan perlakuan manipulatif tersebut.
Dampak psikologis utama bagi korban gaslighting menurut penjelasan ahli:
- Kehilangan rasa percaya diri secara drastis akibat keraguan terhadap diri sendiri.
- Meningkatnya rasa cemas yang berlebihan dalam interaksi sosial.
- Penurunan suasana hati (mood) yang bisa berujung pada kondisi depresi.
Penjelasan di atas merinci bagaimana kesehatan mental seseorang dapat terganggu secara signifikan akibat manipulasi informasi yang terus-menerus. Dampak pertama yang paling nyata adalah hilangnya kepercayaan diri pada korban dalam menilai realitas.
Anastasia menyebutkan bahwa korban gaslighting cenderung tidak yakin dengan pemikiran maupun perasaan mereka sendiri. Hal ini terjadi karena informasi yang mereka terima sering kali diputarbalikkan atau dimanipulasi oleh lawan bicaranya secara sengaja.
Akibatnya, korban merasa nilai atau value yang mereka miliki menjadi tidak berarti lagi di hadapan orang lain. Meskipun telah melakukan sesuatu yang benar, mereka tetap merasa respons yang didapatkan tidak sesuai dengan apa yang seharusnya mereka terima.
Efek selanjutnya yang ditekankan oleh Anastasia adalah munculnya rasa cemas yang meningkat secara signifikan setelah mengalami manipulasi. Korban mulai merasa khawatir secara berlebihan mengenai cara orang lain memandang atau memahami maksud perkataan mereka.
Ketakutan akan penilaian orang lain sering kali menghantui pikiran korban setiap kali ingin bertindak atau berbicara. Mereka kerap merasa takut dinilai salah, dianggap berlebihan, atau bahkan dicap sebagai orang yang tidak baik oleh lingkungannya.
Kondisi ini pada dasarnya membuat korban selalu berada dalam keadaan waswas dan ragu terhadap penilaian objektif. Rasa cemas tersebut perlahan menggerogoti stabilitas emosional mereka dalam jangka waktu yang panjang.
Konsekuensi berat lainnya yang mengintai korban adalah penurunan suasana hati yang mendalam atau depresi. Anastasia mengungkapkan bahwa banyak korban yang akhirnya tidak mampu melawan pikiran berlebihan atau overthinking yang terus muncul.
Ketika kecemasan dan hilangnya kepercayaan diri bertumpuk, korban akan mulai merasakan kesedihan yang sangat kuat. Mereka merasa tidak ada yang bisa memahami posisi mereka dan selalu merasa menjadi pihak yang bersalah dalam segala situasi.
Rasa tidak berdaya ini juga memicu perasaan bahwa diri mereka tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan yang memadai. Pada tahap ini, masa depan sering kali terlihat suram dan penuh ketidakpastian bagi sang korban.
Ringkasan perbandingan dampak gaslighting terhadap kondisi psikologis:
| Aspek Terdampak | Bentuk Perubahan Perilaku |
|---|---|
| Kepercayaan Diri | Merasa tidak yakin dengan pemikiran dan prinsip pribadi. |
| Kesehatan Mental | Mengalami kecemasan tinggi dan takut memberikan opini. |
| Kondisi Emosional | Mengarah pada depresi, perasaan sedih, dan rasa putus asa. |
Tabel tersebut menunjukkan betapa luasnya spektrum kerusakan mental yang bisa ditimbulkan oleh satu tindakan manipulasi verbal. Gaslighting secara sistematis merusak fondasi mental seseorang hingga mereka sulit untuk bangkit kembali.
Hasil akhir dari tindakan ini sering kali membuat seseorang terus merasa kurang, meskipun mereka sudah berusaha memberikan yang terbaik. Keraguan terhadap kemampuan diri sendiri menjadi beban berat yang sulit dihilangkan tanpa bantuan profesional.
Kasus di Lomba Cerdas Cermat MPR ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih sadar akan kesehatan mental. Penting bagi setiap individu untuk mengenali tanda-tanda gaslighting agar dampaknya bisa dimitigasi sejak dini.