Seorang karyawan wanita di Shanghai, China, terpaksa kehilangan pekerjaannya setelah pihak manajemen perusahaan memutuskan untuk memecatnya karena alasan yang tidak biasa. Pemecatan ini dipicu oleh fakta bahwa suami wanita tersebut memegang posisi strategis di perusahaan kompetitor, yang dianggap sebagai ancaman bagi kepentingan bisnis mereka.
Wanita yang diidentifikasi dengan nama belakang Liu ini tidak menerima keputusan tersebut begitu saja dan memilih untuk membawa kasusnya ke komite arbitrase perburuhan guna mencari keadilan. Setelah melalui proses hukum, pihak berwenang akhirnya memenangkan Liu dan mewajibkan perusahaan pemberi kerja untuk membayar kompensasi dalam jumlah yang sangat besar.
Rincian Kompensasi dan Masa Kerja
Berdasarkan keputusan pengadilan, perusahaan tempat Liu bekerja diperintahkan untuk membayarkan ganti rugi mencapai 690.000 yuan atau setara dengan lebih dari Rp1,75 miliar. Nilai fantastis tersebut mencakup kerugian finansial yang diderita Liu akibat pemutusan hubungan kerja yang dinilai sepihak oleh otoritas terkait.
Adapun riwayat karier Liu di perusahaan tersebut sudah berlangsung cukup lama, yakni sejak tahun 2006 sebelum akhirnya diberhentikan secara mendadak pada akhir tahun 2023. Informasi yang dilansir dari South China Morning Post pada Jumat (8/5/2026) ini menegaskan bahwa masa kerja yang panjang tidak menghalangi perusahaan untuk mendepaknya.
Alasan Konflik Kepentingan
Pihak manajemen perusahaan bersikeras bahwa pernikahan Liu dengan seorang pria yang menjabat sebagai manajer umum di perusahaan saingan telah menciptakan konflik kepentingan yang serius. Mereka berargumen bahwa situasi rumah tangga tersebut memiliki potensi besar untuk merugikan operasional bisnis dan membocorkan rahasia perusahaan kepada kompetitor.
Pada pengujung tahun 2023, Liu secara resmi menerima surat pemberitahuan pemutusan kontrak kerja yang merujuk pada identitas pekerjaan suaminya sebagai landasan utama. Perusahaan mengklaim bahwa keberadaan suaminya di pihak lawan telah memberikan dampak buruk yang nyata bagi kelangsungan operasi internal mereka.
Tuntutan dan Rincian Keuangan
Menanggapi perlakuan tersebut, pada Februari 2024, Liu mengajukan gugatan melalui jalur arbitrase perburuhan untuk menuntut hak-hak finansial yang belum dipenuhi oleh mantan perusahaannya. Dalam gugatan tersebut, Liu memperinci secara jelas komponen biaya yang harus dibayarkan perusahaan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pemecatan ilegal tersebut.
| Komponen Tuntutan | Jumlah (Yuan) |
|---|---|
| Kompensasi Gaji | 680.000 |
| Bonus Tahun 2023 | 60.000 |
| Cuti Tahunan Tidak Terpakai | 10.000 |
| Total Putusan Komite | 690.000 |
Liu memperjuangkan haknya mulai dari sisa gaji, bonus tahunan, hingga uang pengganti cuti yang tidak sempat ia ambil selama masa pengabdiannya di sana. Langkah berani ini akhirnya membuahkan hasil manis setelah komite arbitrase memutuskan bahwa alasan perusahaan tidak memiliki dasar hukum yang kuat untuk memutuskan kontrak.