Dialog Damai AS-Iran Buntu, IHSG Merosot ke Level 5.342 di Awal 2026

Dialog Damai AS-Iran Buntu, IHSG Merosot ke Level 5.342 di Awal 2026
Foto: Dialog Damai AS-Iran Buntu, IHSG Merosot ke Level 5.342 di Awal 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa berakhir di zona merah dengan koreksi yang cukup tajam pada penutupan perdagangan hari Senin (8/6/2026). Indeks domestik tercatat merosot hingga 4,52% dan tertahan di level 5.342,13.

Sentimen negatif yang membayangi pasar modal sejak pagi hari menjadi pemicu utama pelemahan ini. Hal tersebut dipicu oleh kabar mengenai dialog damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dilaporkan mulai memudar dan menemui jalan buntu.

Analisis Pergerakan IHSG dan Kondisi Pasar

Pasar tampaknya merespons pesimis terhadap prospek perdamaian global yang semakin menjauh. Sepanjang sesi perdagangan, pergerakan IHSG terlihat sangat fluktuatif namun tetap konsisten berada di teritori negatif tanpa mampu berbalik arah.

Berdasarkan data perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di angka 5.523,94 sebelum akhirnya terjatuh ke level terendahnya di 5.317,9. Posisi penutupan kali ini merupakan catatan yang sangat memprihatinkan bagi pasar modal Indonesia.

Angka ini menjadi level terendah yang pernah dirasakan IHSG sejak 9 November 2020. Artinya, posisi indeks saat ini merupakan yang paling merosot dalam kurun waktu lebih dari lima tahun terakhir perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berikut adalah rangkuman data aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada hari ini:

  • Total nilai transaksi perdagangan saham secara keseluruhan mencapai Rp21,73 triliun.
  • Jumlah saham yang berpindah tangan tercatat sebanyak 32,52 miliar lembar saham.
  • Frekuensi aktivitas jual-beli yang terjadi di pasar mencapai 2,21 juta kali transaksi.

Aktivitas perdagangan yang cukup masif ini menunjukkan adanya tekanan jual yang besar dari para investor di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik. Hal ini sejalan dengan melemahnya kepercayaan pasar terhadap aset-aset berisiko di dalam negeri.

Tekanan Serupa Melanda Bursa Saham Regional Asia

Kondisi lesu tidak hanya dialami oleh bursa domestik, namun juga merembet ke hampir seluruh pasar saham di kawasan Asia. Mayoritas indeks utama di benua kuning kompak berakhir di zona merah dengan koreksi yang bervariasi.

Indeks KOSPI asal Korea Selatan mencatatkan penurunan yang paling drastis di antara negara lainnya. Secara point-to-point, indeks ini mengalami kejatuhan yang sangat dalam hingga mencapai 8,29%.

Data berikut merinci tingkat penurunan indeks saham di berbagai negara Asia lainnya:

Negara / Nama Indeks Persentase Penurunan
Nikkei 225 (Jepang) 3,85%
TW Weighted Index (Taiwan) 3,48%
Shenzhen Composite (China) 3,14%
Ho Chi Minh Stock (Vietnam) 2,63%
TOPIX (Jepang) 2,45%
CSI 300 (China) 2,14%
Straits Times (Singapura) 1,71%
Shanghai Composite (China) 1,70%
SETI (Thailand) 1,32%
Hang Seng (Hong Kong) 1,22%
PSEI (Filipina) 0,99%
SENSEX (India) 0,97%
KLCI (Malaysia) 0,82%

Data tabel di atas menunjukkan bahwa sentimen global benar-benar memukul rata kekuatan ekonomi di wilayah Asia. Investor cenderung melakukan aksi jual masif untuk menghindari risiko yang lebih besar dari ketegangan AS-Iran.

Faktor Geopolitik dan Dampaknya terhadap Mata Uang

Selain pasar saham, tekanan juga terasa sangat kuat di pasar valuta asing. Mata uang Rupiah terpantau terus melemah dan ditutup pada level Rp18.178 per Dolar AS, yang mencerminkan kekhawatiran mendalam para pelaku pasar.

Isu mengenai potensi konflik yang memanas antara Iran dan Amerika Serikat menjadi katalis negatif utama. Ketidakpastian ini diperparah dengan berita mengenai serangan rudal Iran ke arah Israel yang langsung memicu lonjakan harga minyak dunia secara signifikan.

Kondisi ini membuat beban indeks semakin berat, terutama bagi emiten-emiten yang sangat bergantung pada stabilitas harga komoditas dan kurs. Sepanjang tahun 2026, arus modal keluar dari investor asing juga tercatat cukup tinggi pada beberapa saham unggulan.

Meskipun demikian, ada beberapa kabar korporasi yang menjadi perhatian pembaca di tengah kondisi pasar yang sedang bergejolak ini. Salah satunya adalah kabar dari Telkom (TLKM) yang tetap berencana membagikan dividen tahun buku 2025 sebesar Rp21,9 triliun atau setara Rp221 per saham.

Di sisi lain, upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi terus dilakukan. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sempat memberikan respons terkait penurunan cadangan devisa (cadev) dan berjanji akan mencari solusi untuk memperkuat kembali posisi tersebut.

Pasar kini tengah menantikan perkembangan terbaru dari meja diplomasi internasional. Jika tensi di Timur Tengah tidak segera mereda, tekanan terhadap IHSG dan nilai tukar Rupiah diprediksi masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.

Artikel terkait

Rekomendasi