Pemerintah secara resmi telah meluncurkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, yang lebih dikenal dengan sebutan Danantara, pada tanggal 24 Februari 2025. Kehadiran lembaga baru ini diharapkan menjadi tonggak sejarah bagi penguatan sinergi antar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) guna mengoptimalkan potensi ekonomi nasional.
Ekonom Senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani, memberikan pandangan positif terkait peresmian badan investasi tersebut. Ia menilai Danantara akan memiliki otoritas yang lebih kuat dalam mengelola dividen, menjalankan langkah restrukturisasi, serta memastikan investasi dikelola dengan prinsip tata kelola yang efisien.
Menurut Aviliani, pengelolaan aset negara yang lebih terkoordinasi akan berdampak langsung pada stabilitas modal serta kemampuan ekspansi investasi pemerintah. Langkah ini juga diyakini mampu memperkokoh kolaborasi antar perusahaan plat merah untuk mencapai target ekonomi jangka panjang.
Sejauh ini, kinerja BUMN di Indonesia dinilai sudah cukup mumpuni dengan berbagai langkah strategis yang telah dijalankan sebelumnya. Adanya upaya pengelompokan bisnis atau klusterisasi, merger, hingga pembentukan holding telah berhasil meningkatkan kepercayaan publik terhadap perusahaan negara.
Aviliani menyoroti keberhasilan lima BUMN nasional yang kini telah bertransformasi menjadi perusahaan kelas dunia. Di antaranya terdapat nama-nama besar di sektor perbankan seperti Bank Mandiri, BNI, dan BRI yang menunjukkan daya saing global.
Ia menegaskan bahwa optimisme publik harus dibangun melalui resiliensi perbankan BUMN yang tetap kokoh meski dihadapkan pada situasi krisis. Kekuatan modal yang dimiliki perbankan tersebut menjadi bukti kesiapan mereka dalam mengemban berbagai penugasan strategis dari negara.
Pertumbuhan Impresif Sektor Perbankan
Sebagai contoh nyata, Bank Mandiri berhasil mencatatkan rapor kinerja yang sangat gemilang hingga memasuki awal tahun 2025. Pertumbuhan ini menjadi indikator penting bagi kesiapan aset yang nantinya akan dikelola melalui mekanisme Danantara.
Berdasarkan data operasional bank (bank only) per Januari 2025, total penyaluran kredit Bank Mandiri melonjak hingga 19,29 persen secara tahunan. Nilai penyaluran pinjaman tersebut mencapai angka yang sangat fantastis, yakni sebesar Rp1.307,18 triliun.
Rincian kinerja keuangan Bank Mandiri periode awal 2025 adalah sebagai berikut:
- Total aset perusahaan tumbuh sebesar 15,49 persen secara year-on-year (YoY) hingga menyentuh angka Rp1.923,40 triliun.
- Dana Pihak Ketiga (DPK) mengalami peningkatan sebesar 15,13 persen YoY menjadi total Rp1.394,40 triliun.
- Pertumbuhan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) tercatat naik 14,54 persen dengan tambahan dana mencapai Rp140,31 triliun.
- Rasio dana murah (CASA Ratio) berhasil dipertahankan pada posisi yang kuat, yakni 79,28 persen per Januari 2025.
Kondisi keuangan tersebut menggambarkan bahwa likuiditas perbankan nasional tetap berada dalam posisi yang sangat terjaga. Pertumbuhan DPK yang solid menunjukkan kepercayaan nasabah yang tinggi, terutama pada produk dana murah seperti tabungan dan giro.
Belajar dari Kesuksesan Lembaga Pengelola Investasi Global
Dalam analisisnya, Aviliani juga membandingkan potensi Danantara dengan beberapa lembaga serupa di luar negeri yang telah sukses mengelola aset negara. Negara-negara tersebut berhasil mencetak dampak positif yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional mereka.
Data menunjukkan bahwa pada periode 2019 hingga 2022, beberapa lembaga investasi internasional mencatatkan pertumbuhan aset yang stabil. Khazanah Nasional dari Malaysia tumbuh sebesar 29 persen, Temasek milik Singapura naik 10 persen, dan Berkshire Hathaway meningkat 5 persen.
Beberapa faktor kunci yang menjadi landasan kesuksesan pengelolaan investasi internasional:
- Memiliki visi investasi jangka panjang yang jelas dan terukur untuk keberlanjutan ekonomi.
- Keberanian dalam mengambil keputusan investasi yang cepat dengan pertimbangan matang.
- Fokus yang sangat ketat pada mitigasi risiko di setiap portofolio bisnis.
- Penerapan sistem tata kelola yang terbuka, transparan, dan sangat berintegritas.
Kesuksesan Temasek menjadi perhatian khusus karena asetnya melonjak hingga 10 kali lipat dalam kurun waktu lima dekade terakhir. Lembaga tersebut secara konsisten mampu menghasilkan pengembalian tahunan (return) pada kisaran angka 10 hingga 15 persen.
Pandangan senada juga disampaikan oleh Eddy Junarsin, seorang ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia menekankan bahwa transparansi dan manajemen risiko yang ketat merupakan harga mati dalam operasional Danantara ke depan.
Eddy menegaskan pentingnya menjaga badan investasi ini agar tetap profesional dan terbebas dari segala bentuk intervensi politik. Kerjasama antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif sangat diperlukan untuk menjaga Danantara sebagai masa depan kesejahteraan masyarakat.
Visi Besar Presiden Prabowo untuk Danantara
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menjelaskan makna filosofis di balik nama badan investasi baru ini. Nama Daya Anagata Nusantara memiliki arti kekuatan energi untuk masa depan Tanah Air Indonesia.
Badan ini dirancang untuk menjadi wadah konsolidasi bagi seluruh kekuatan ekonomi Indonesia yang saat ini tersebar di berbagai BUMN. Melalui penyatuan ini, pemerintah ingin menciptakan sinergi yang lebih masif untuk menggerakkan roda ekonomi.
Target dan cakupan pengelolaan aset oleh BPI Danantara meliputi:
| Kategori Informasi | Detail Kapasitas Danantara |
|---|---|
| Total Aset dalam Kelolaan (AUM) | Lebih dari US$ 900 Miliar (Sekitar Rp14.710 Triliun) |
| Sektor Investasi Utama | Energi Terbarukan, Manufaktur Canggih, Industri Hilirisasi |
| Fokus Proyek | Produksi Pangan dan Proyek Berkelanjutan Berdampak Tinggi |
| Target Pertumbuhan Ekonomi | Mencapai level 8 Persen bagi Indonesia |
Data tersebut menunjukkan betapa besarnya skala tanggung jawab yang diemban oleh Danantara sebagai superholding investasi negara. Nilai aset yang mencapai ribuan triliun rupiah tersebut diharapkan mampu mendongkrak target pertumbuhan ekonomi nasional sesuai arahan pemerintah.
Kepala Badan Pelaksana Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa lembaga ini akan aktif melakukan optimalisasi aset-aset negara. Investasi akan diarahkan pada sektor strategis yang memberikan dampak positif dan berkelanjutan bagi rakyat banyak.
Dalam menjalankan tugasnya, Rosan menyebutkan bahwa Presiden Prabowo telah memberikan instruksi yang sangat tegas mengenai standar operasional. Danantara wajib dijalankan dengan prinsip tata kelola yang benar serta penuh dengan aspek kehati-hatian.
Integritas dan transparansi menjadi pedoman utama yang disampaikan langsung oleh Presiden dalam setiap langkah investasi. Hal ini bertujuan agar aset-aset jumbo milik negara tidak disalahgunakan dan tetap memberikan manfaat maksimal bagi bangsa.
Dalam memimpin Danantara, Rosan Roeslani tidak bekerja sendirian untuk mengelola dana raksasa tersebut. Ia didampingi oleh Dony Oskaria yang menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) dan Pandu Sjahrir yang menempati posisi Chief Investment Officer (CIO).
Struktur kepemimpinan ini diharapkan mampu membawa keahlian dari berbagai latar belakang profesional untuk mengelola tantangan investasi global. Dengan manajemen yang kuat, Danantara diproyeksikan menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.