BRIN: Wisata Religi Indonesia 2026 Berpotensi Besar, Ini Kendalanya!

BRIN: Wisata Religi Indonesia 2026 Berpotensi Besar, Ini Kendalanya!
Foto: BRIN: Wisata Religi Indonesia 2026 Berpotensi Besar, Ini Kendalanya!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan sorotan khusus terhadap sektor wisata religi di Indonesia yang dinilai memiliki potensi luar biasa besar. Meski begitu, pengembangan sektor ini dianggap belum optimal dan masih memerlukan perhatian lebih serius dari berbagai pihak terkait.

Alfan Firmanto, seorang peneliti bidang Khasanah Keagamaan dan Peradaban di BRIN, mengungkapkan bahwa kekayaan tradisi menjadi keunggulan utama Indonesia. Peninggalan sejarah dan keagamaan yang membentang dari Sabang hingga Merauke merupakan aset berharga bagi pariwisata nasional.

Namun, Alfan juga menyoroti ironi yang terjadi berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2025. Data tersebut menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap wisata religi ternyata masih berada di angka yang cukup rendah.

Pernyataan ini disampaikan dalam forum BRIN Goes to Industry 4 yang digelar di Jakarta pada Selasa (17/5/2026). Alfan mempertanyakan mengapa angka kunjungan wisata religi hanya menyentuh persentase 2,45 persen di tengah potensi yang ada.

Berdasarkan pengalaman risetnya selama bertahun-tahun di berbagai daerah, Alfan melihat bahwa dukungan tradisi dan budaya di Indonesia sangatlah kuat. Artefak keagamaan yang tersebar luas tidak hanya terbatas pada satu komunitas atau kelompok agama tertentu saja.

Sebagai contoh, Alfan menceritakan pengalamannya saat mengunjungi berbagai situs religi berbasis Islam, khususnya makam Walisongo di Pulau Jawa. Lokasi-lokasi sejarah tersebut hampir tidak pernah sepi pengunjung dan beroperasi selama 24 jam penuh setiap harinya.

Menurut pandangannya, wisata religi memiliki daya dorong pergerakan massa yang sangat masif jika dibandingkan sektor lainnya. Pengelolaan yang profesional dan terintegrasi diyakini mampu memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat sekitar.

Alfan mencatat bahwa aktivitas di situs-situs religi tersebut hanya benar-benar berhenti saat pandemi Covid-19 melanda beberapa tahun silam. Perputaran uang yang terjadi di lokasi wisata religi sangat besar dan mampu menjadi tumpuan ekonomi bagi banyak orang.

Oleh karena itu, sektor ini tidak seharusnya dipandang sebelah mata dalam peta industri pariwisata Indonesia. Potensi untuk mendatangkan ribuan wisatawan dalam satu waktu sangatlah nyata dan berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan ekonomi daerah.

Ia menekankan bahwa berbagai agenda keagamaan memiliki kemampuan untuk menarik devisa bagi negara secara signifikan. Banyaknya uang yang bergerak di sektor ini menjadi bukti bahwa wisata religi adalah mesin ekonomi yang kuat.

Beberapa kategori wisata religi yang sangat potensial untuk terus dikembangkan mencakup budaya keagamaan, arsitektur rumah ibadah, hingga situs pemakaman tokoh besar. Alfan menyebutkan beberapa contoh kegiatan yang selalu dipadati oleh massa dari berbagai daerah.

Daftar potensi kegiatan dan destinasi wisata religi yang dapat dioptimalkan di Indonesia:

  • Kegiatan Haul atau peringatan wafatnya ulama-ulama besar yang mampu menyedot ribuan jemaah.
  • Perayaan Maulid Nabi yang selalu menjadi magnet bagi masyarakat untuk berkumpul dalam jumlah besar.
  • Masjid-masjid bersejarah yang memiliki nilai arsitektur dan filosofi tinggi di berbagai wilayah.
  • Destinasi masjid ikonik baru seperti Masjid Al-Jabbar di Bandung dan Masjid Sheikh Zayed di Solo.
  • Wisata religi perkotaan seperti Masjid Istiqlal di Jakarta yang masih terus menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.

Daftar tersebut menunjukkan bahwa objek wisata religi tidak hanya terbatas pada situs-situs kuno peninggalan masa lalu. Kehadiran bangunan ikonik baru di Depok, Bandung, hingga Solo terbukti mampu menciptakan tren wisata baru di kalangan masyarakat.

Alfan menutup pemaparannya dengan menegaskan bahwa data rendahnya minat kunjungan dari BPS harus menjadi bahan evaluasi. Harapannya, pemerintah dan pelaku industri dapat memaksimalkan potensi ini demi memperkuat sektor pariwisata Indonesia di masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi