BRIN Targetkan Pembangunan Satelit NEO-1 Rampung pada Akhir 2026

BRIN Targetkan Pembangunan Satelit NEO-1 Rampung pada Akhir 2026
Foto: Ilustrasi BRIN Targetkan Pembangunan Satelit NEO-1 Rampung pada Akhir 2026.
Ukuran teks

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini tengah sibuk menyiapkan satelit observasi bumi generasi terbaru. Proyek yang diberi nama Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1) ini ditargetkan selesai pada penghujung tahun 2026 mendatang.

Satelit NEO-1 dirancang untuk menjalankan berbagai misi penting, mulai dari pemantauan maritim hingga ketahanan pangan. Selain itu, satelit ini juga dipersiapkan untuk mendukung pengembangan teknologi Internet of Things (IoT) di tanah air.

Wakhid Abdurrokhman, seorang periset dari Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) BRIN, mengungkapkan detail operasional satelit tersebut. Hal ini disampaikannya dalam forum Asia-Pacific Satellite Conference (APSAT) 2026 beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan bahwa NEO-1 akan ditempatkan pada orbit polar dengan ketinggian sekitar 500 kilometer. Kehadirannya diproyeksikan sebagai pengganti satelit LAPAN-A3 yang saat ini performanya sudah menurun akibat pergeseran orbit.

Teknologi dan Keunggulan Satelit NEO-1

Satelit NEO-1 dibekali dengan teknologi pencitraan mutakhir untuk memastikan data yang diambil lebih akurat. Salah satu komponen utamanya adalah empat kamera multispektral LISA yang merupakan hasil pengembangan mandiri tim BRIN.

Kamera tersebut memiliki resolusi menengah sebesar 16 meter dengan lebar cakupan sapuan mencapai 230 kilometer. BRIN juga menyematkan kamera resolusi tinggi tambahan untuk kebutuhan pengamatan objek yang lebih mendetail.

Berikut adalah beberapa pembaruan utama pada satelit NEO-1 dibandingkan generasi sebelumnya:

  • Sistem Pendorong (Thruster): Memungkinkan pengendalian posisi dan orbit satelit secara lebih presisi dibandingkan pendahulunya.
  • Muatan Eksperimental IoT: Bagian dari pengembangan Nusantara Equatorial IoT (NEI) untuk mendukung konektivitas masa depan.
  • Kamera LISA: Teknologi multispektral buatan lokal untuk cakupan wilayah yang luas.
  • Resolusi Tinggi: Kemampuan pengamatan objek di permukaan bumi dengan tingkat detail yang lebih tajam.

Daftar pembaruan di atas menunjukkan kemajuan signifikan dalam desain satelit nasional yang lebih modern. Penggunaan sistem pendorong menjadi krusial karena satelit generasi sebelumnya, seperti A1 hingga A3, belum memiliki fitur tersebut.

Peneliti Yuvita Dian Safitri menekankan bahwa tanpa thruster, satelit tidak bisa kembali ke posisi semula jika terjadi pergeseran orbit. Dengan adanya teknologi ini, masa pakai dan efektivitas satelit dalam menjalankan misi dapat terjaga lebih lama.

Mendorong Kemandirian Teknologi Nasional

Data yang dihasilkan oleh satelit ini nantinya akan diintegrasikan dengan platform terbaru milik BRIN yang bernama GeoMimo. Platform ini berfungsi sebagai wadah pengolahan informasi satelit yang dilakukan sepenuhnya oleh tenaga ahli dalam negeri.

Silvan Anggia Bayu dari Pusat Riset Geoinformatika menjelaskan bahwa saat ini data dari LAPAN-A3 masih digunakan untuk memantau lahan padi nasional. Langkah harmonisasi data dengan satelit Sentinel-2 juga terus dilakukan guna memperkuat analisis pangan.

Ringkasan perbandingan antara satelit lama dengan rencana pengembangan NEO-1:

Fitur Satelit Generasi LAPAN-A1/A2/A3 Generasi NEO-1
Sistem Pendorong Tidak Tersedia Tersedia (Thruster)
Pengendalian Orbit Terbatas/Pasif Presisi dan Aktif
Dukungan IoT Belum Terintegrasi Muatan Eksperimental NEI
Target Peluncuran Sudah Beroperasi Akhir 2026

Tabel tersebut memperlihatkan lompatan teknologi yang diambil BRIN untuk memastikan satelit baru ini lebih andal. Kemampuan pengendalian posisi secara aktif menjadi pembeda utama dalam menjaga kualitas data yang dikumpulkan.

Keberhasilan proyek NEO-1 ini diharapkan menjadi tonggak sejarah bagi kemandirian teknologi ruang angkasa Indonesia. Mulai dari tahap perancangan, pembangunan, hingga pemanfaatan data, semuanya dilakukan secara mandiri oleh putra-putri bangsa.

Optimalisasi data satelit lokal menjadi bukti nyata bahwa Indonesia mampu menghasilkan informasi strategis tanpa bergantung pada pihak luar. Hal ini tentunya akan memperkuat kedaulatan data dan teknologi nasional di masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi