Bos Intelijen AS Mundur Mengejutkan, Sempat Keras Menentang Perang Iran 2026

Bos Intelijen AS Mundur Mengejutkan, Sempat Keras Menentang Perang Iran 2026
Foto: Bos Intelijen AS Mundur Mengejutkan, Sempat Keras Menentang Perang Iran 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Tulsi Gabbard secara resmi menanggalkan jabatannya sebagai Direktur Intelijen Nasional (DNI) Amerika Serikat pada Jumat, 22 Mei 2026. Keputusan ini mengakhiri masa kepemimpinannya di lembaga intelijen AS yang belakangan diwarnai berbagai dinamika politik.

Nama Gabbard sering menjadi sorotan karena pandangannya yang dinilai kurang sejalan dengan Presiden Donald Trump. Salah satu poin perbedaan yang mencolok adalah terkait arah kebijakan militer dan ketegangan AS dengan Iran.

Tren Pengunduran Diri di Kabinet Trump

Kepergian perempuan berusia 45 tahun ini menambah daftar panjang pejabat perempuan tingkat tinggi yang meninggalkan pemerintahan Trump. Gabbard tercatat sebagai tokoh perempuan keempat yang hengkang dari jabatannya dalam beberapa bulan terakhir.

Fenomena ini memperlihatkan adanya perombakan besar di lingkaran utama presiden. Berikut adalah ringkasan pejabat tinggi perempuan yang telah meninggalkan posisi mereka :

Nama Pejabat Jabatan Sebelumnya Keterangan
Tulsi Gabbard Direktur Intelijen Nasional Mengundurkan diri pada Mei 2026
Kristi Noem Kepala Keamanan Dalam Negeri Dipecat pada Maret 2026
Pam Bondi Jaksa Agung Dipecat pada April 2026
Lori Chavez-DeRemer Menteri Tenaga Kerja Mundur di tengah isu skandal

Data di atas menunjukkan intensitas pergantian personel yang cukup tinggi dalam kurun waktu singkat di kabinet. Posisi strategis yang ditinggalkan Gabbard kini diisi oleh Aaron Lukas yang menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt).

Alasan Keluarga di Balik Pengunduran Diri

Melalui unggahan resmi di platform X, Gabbard mengklarifikasi bahwa keputusannya didasari oleh urusan keluarga. Ia memilih mundur untuk mendampingi suaminya, Abraham Williams, yang sedang berjuang melawan penyakit serius.

Abraham yang merupakan seorang sinematografer asal Hawaii baru saja mendapatkan diagnosis kanker tulang langka. Gabbard menegaskan bahwa suaminya akan menghadapi masa-masa sulit dalam beberapa bulan ke depan.

Ia merasa perlu berada di sisi suaminya untuk memberikan dukungan penuh selama proses pengobatan berlangsung. Prioritas pribadinya saat ini adalah mendampingi keluarga melewati perjuangan melawan kanker tersebut.

Oleh karena itu, Gabbard memutuskan untuk berhenti sejenak dari seluruh tugas pelayanan publiknya. Langkah ini diambil agar ia bisa fokus sepenuhnya pada kesehatan sang suami tanpa terbagi dengan tanggung jawab negara.

Respon Presiden Donald Trump

Merespons pengunduran diri tersebut, Donald Trump memberikan apresiasi atas kontribusi Gabbard selama ini. Melalui media sosial Truth Social, Trump melontarkan pujian atas kinerjanya memimpin 18 lembaga intelijen AS.

Gabbard selama ini bertanggung jawab dalam menyusun laporan intelijen penting untuk pengarahan rutin presiden. Trump menyebut bahwa Gabbard telah melakukan pekerjaan luar biasa dan sangat menghargai dedikasinya.

Presiden juga menyatakan bahwa keputusan Gabbard untuk fokus pada keluarga adalah langkah yang sangat tepat. Meskipun demikian, desas-desus mengenai adanya tekanan politik di balik mundurnya Gabbard tetap berembus kencang.

Beberapa pihak berspekulasi bahwa perbedaan prinsip kebijakan menjadi faktor pendorong lain di balik keputusan ini. Namun, secara resmi, alasan kesehatan keluarga tetap menjadi narasi utama yang disampaikan ke publik.

Artikel terkait

Rekomendasi