BGN Ungkap Penyebab Puluhan Balita dan Busui Keracunan MBG di Cianjur

BGN Ungkap Penyebab Puluhan Balita dan Busui Keracunan MBG di Cianjur
Foto: Ilustrasi BGN Ungkap Penyebab Puluhan Balita dan Busui Keracunan MBG di Cianjur.
Ukuran teks

Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya mengungkap penyebab di balik insiden keracunan masal yang menimpa puluhan balita dan ibu menyusui di Cianjur, Jawa Barat. Investigasi ini dilakukan setelah puluhan warga dilaporkan mengalami gejala medis usai mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Peristiwa ini bermula pada pertengahan April lalu, tepatnya sejak Rabu (15/4) hingga Jumat (17/4) di wilayah Kecamatan Leles. Setidaknya tercatat ada 63 orang yang terdampak setelah menyantap makanan yang dibagikan melalui posyandu di dua desa berbeda.

Temuan Zat Kimia pada Sayuran

Berdasarkan laporan akhir investigasi, mayoritas menu makanan yang disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Leles 2 dinyatakan bebas dari bakteri berbahaya. Namun, tim menemukan adanya kandungan zat kimia nitrit yang sangat tinggi pada menu tumis pakcoy.

Kandungan nitrit dalam sayuran tersebut ditemukan jauh melampaui standar keamanan yang ditetapkan oleh The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA). Temuan ini menjadi kunci utama dalam mengungkap penyebab gangguan kesehatan yang dialami para korban.

Berikut adalah rincian data perbandingan kadar nitrit yang ditemukan oleh tim investigasi:

Kategori Batas Kadar Nitrit (mg/kg) Keterangan
Batas Aman JECFA 0,07 mg/kg Batas maksimal per hari sesuai berat badan.
Temuan di SPPG Leles 2 11,85 mg/kg Hasil uji laboratorium pada menu tumis pakcoy.
Tingkat Pelanggaran 169 Kali Lipat Besaran lonjakan dari ambang batas aman.

Data di atas menunjukkan bahwa konsumsi tumis pakcoy tersebut sangat berisiko bagi tubuh karena kadar kimianya yang ekstrem. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Arie Karimah Muhammad.

Hasil Uji Laboratorium Bakteriologi

Meskipun ditemukan zat kimia, hasil uji dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat menunjukkan hasil negatif untuk beberapa jenis bakteri. Menu yang diuji mencakup hidangan pada tanggal 13 hingga 18 April 2026.

Daftar bakteri yang dinyatakan tidak ditemukan dalam sampel makanan tersebut antara lain:

  • Salmonella sp
  • Staphylococcus aureus (S. aureus)
  • Escherichia coli (E. coli)
  • Bacillus cereus (B. cereus)

Ketiadaan bakteri ini memperkuat bukti bahwa faktor utama keracunan bukan berasal dari kontaminasi kuman atau sanitasi yang buruk saat pengolahan. Fokus penyelidikan pun beralih sepenuhnya pada sumber kontaminasi zat kimia nitrit pada bahan baku.

Penyebab Tingginya Kadar Nitrit

Arie menjelaskan bahwa beberapa jenis buah dan sayuran secara alami memang bisa mengandung nitrit. Kadar zat ini bisa meningkat drastis akibat adanya aktivitas bakteri yang mengubah nitrat menjadi nitrit di lingkungan tumbuh tanaman.

Ada beberapa faktor eksternal yang diduga memicu tingginya kadar nitrit pada hasil panen petani setempat. Penggunaan pupuk nitrogen yang berlebihan hingga pencemaran air oleh kotoran hewan atau limbah industri menjadi dugaan kuat penyebabnya.

Kontaminasi nitrit yang masuk ke tubuh manusia dapat memicu kondisi kesehatan serius yang disebut methaemoglobinemia. Kondisi ini secara langsung mengganggu kemampuan darah dalam mengikat dan mengedarkan oksigen ke seluruh jaringan tubuh.

Akibatnya, penderita akan merasakan gejala fisik yang cukup mengganggu seperti rasa lemas yang luar biasa hingga sesak napas. Hal ini terjadi karena sel-sel di dalam tubuh mengalami kekurangan pasokan oksigen secara mendadak.

Artikel terkait

Rekomendasi