Bahaya Hipertensi: Tak Cuma Strok, Dokter Sebut Bisa Picu Pikun hingga Buta Teranyar 2026

Bahaya Hipertensi: Tak Cuma Strok, Dokter Sebut Bisa Picu Pikun hingga Buta Teranyar 2026
Foto: Bahaya Hipertensi: Tak Cuma Strok, Dokter Sebut Bisa Picu Pikun hingga Buta Teranyar 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Tekanan darah tinggi atau hipertensi selama ini sering dianggap hanya berkaitan erat dengan risiko penyakit jantung dan strok. Padahal, dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh kondisi ini jauh lebih luas daripada sekadar kedua masalah medis tersebut.

Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (InaSH), Eka Harmeiwati, mengungkapkan bahwa hipertensi berpotensi memicu berbagai gangguan serius lainnya. Masalah tersebut mencakup gangguan penglihatan, demensia, hingga munculnya gejala yang menyerupai penyakit Parkinson.

Dampak Kerusakan Pembuluh Darah

Berbagai komplikasi ini muncul akibat adanya kerusakan pada pembuluh darah kecil yang tersebar di area otak. Eka menjelaskan bahwa hipertensi pada dasarnya merupakan penyakit yang menyerang integritas dinding pembuluh darah manusia.

Karena pembuluh darah terdapat di seluruh bagian tubuh, dampaknya bisa merambat ke berbagai organ vital tanpa terkecuali. Hal ini termasuk kerusakan pada organ mata dan sistem kerja otak yang sangat sensitif terhadap tekanan.

Hipertensi dapat memicu kondisi kesehatan berbahaya sebagai berikut:

  • Gangguan Penglihatan dan Kebutaan: Kerusakan yang terjadi pada pembuluh darah retina dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah di mata.
  • Gangguan Kognitif atau Demensia: Hipertensi kronis sering menyebabkan penyumbatan kecil pada pembuluh darah otak bagian dalam yang memicu kepikunan.
  • Cerebral Small Vessel Disease (CSVD): Gangguan pada pembuluh darah kecil di otak yang menghambat aliran darah secara perlahan.
  • Masalah Keseimbangan: Kondisi CSVD juga dapat memicu serangan vertigo hingga gangguan keseimbangan tubuh yang signifikan.
  • Gejala Mirip Parkinson: Kerusakan pada struktur pembuluh darah otak dapat menimbulkan gejala fisik yang serupa dengan pengidap Parkinson.

Dampak-dampak di atas menunjukkan bahwa kendali atas tekanan darah sangat krusial untuk menjaga fungsi organ selain jantung. Eka menegaskan bahwa hipertensi bahkan bisa menyebabkan kebutaan permanen jika kerusakan pada retina sudah terlalu parah.

Risiko pada Kelompok Usia Muda

Saat ini, hipertensi tidak lagi dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang kelompok usia lanjut atau lansia. Komplikasi serius akibat tekanan darah tinggi kini mulai banyak ditemukan pada pasien yang masih berusia muda.

Eka menyebutkan bahwa kasus pada usia muda sering kali berkaitan dengan kategori hipertensi sekunder. Kondisi ini biasanya dipicu oleh penyakit penyerta lain, seperti kelainan jantung bawaan atau adanya gangguan pada sistem hormon.

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh kelompok usia muda meliputi:

Kategori Perhatian Keterangan Risiko
Olahraga Berat Aktivitas fisik ekstrem tanpa pemeriksaan medis berisiko memicu robeknya pembuluh darah.
Aortic Dissection Kondisi robeknya pembuluh darah besar yang sering ditemukan di RS Harapan Kita pada pasien muda.
Pemeriksaan Rutin Sangat disarankan untuk mengecek tekanan darah secara berkala sebelum memulai program latihan intens.

Tabel tersebut merangkum risiko yang sering diabaikan oleh anak muda yang memiliki gaya hidup aktif namun tidak memantau tensi. Deteksi dini menjadi kunci utama untuk menghindari kejadian fatal saat melakukan aktivitas fisik yang berat.

Pentingnya Deteksi Dini

Eka Harmeiwati sangat menyarankan masyarakat untuk lebih peduli terhadap angka tekanan darah mereka sejak dini. Ia mengimbau siapa pun yang berencana menjalani olahraga intensitas tinggi untuk melakukan pengecekan kesehatan terlebih dahulu.

Langkah sederhana seperti mengecek tensi dapat menyelamatkan seseorang dari risiko jangka panjang yang merusak kualitas hidup. Dengan memahami bahwa hipertensi bisa merusak mata dan otak, diharapkan kesadaran masyarakat untuk berobat akan semakin meningkat.

Artikel terkait

Rekomendasi