Film horor psikologis terbaru bertajuk Backrooms sukses mencetak sejarah besar bagi studio A24 di pasar Amerika Utara. Karya layar lebar ini kini resmi menyandang gelar sebagai film dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa bagi studio tersebut di wilayah domestik.
Hingga saat ini, Backrooms telah mengantongi pendapatan sebesar US$97,7 juta atau sekitar Rp1,5 triliun. Angka tersebut diprediksi akan terus merangkak naik hingga melampaui angka psikologis US$100 juta dalam waktu dekat.
Menggeser Rekor Film Termahal A24
Keberhasilan ini membuat Backrooms berhasil menggeser posisi film Marty Supreme yang dibintangi oleh aktor populer Timothée Chalamet. Sebelumnya, Marty Supreme memegang rekor domestik dengan raihan US$96 juta meskipun statusnya sebagai film dengan biaya produksi termahal milik studio tersebut.
Menariknya, Backrooms diproduksi dengan anggaran yang tergolong hemat, yakni hanya sekitar US$10 juta. Perbandingan biaya produksi dan pendapatan yang jomplang ini menunjukkan efisiensi luar biasa dalam kesuksesan komersial film tersebut.
Melansir laporan dari Hollywood Reporter pada Rabu (3/6), tren positif ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal penayangan. Film ini memulai debutnya dengan pendapatan akhir pekan pembukaan sebesar US$81,4 juta yang juga merupakan rekor tertinggi bagi A24.
Prestasi Gemilang Sutradara Muda
Kesuksesan ini turut melambungkan nama Kane Parsons sebagai kreator sekaligus sutradara di balik fenomena horor tersebut. Di usianya yang baru menginjak 20 tahun, Parsons menjadi pembuat film termuda yang berhasil memuncaki tangga box office domestik.
Performa film ini tetap stabil dan tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan meski sudah melewati masa pembukaan. Pada Senin (1/6), film ini meraup US$7,6 juta dan kembali meningkat menjadi US$8,6 juta pada hari Selasa berikutnya.
Awalnya, Parsons mengembangkan ide Backrooms melalui serangkaian video pendek di YouTube yang sangat populer. Ia tetap memegang hak kekayaan intelektual (IP) atas karyanya tersebut sebelum akhirnya diangkat menjadi film layar lebar.
Berikut adalah rincian profil penonton yang mendominasi kesuksesan film Backrooms :
- Demografi Generasi Z: Sebanyak 50 persen penonton pada pekan pembukaan berasal dari kelompok usia di bawah 25 tahun.
- Dominasi Usia Muda: Sekitar 75 persen dari total audiens secara keseluruhan berusia di bawah 35 tahun.
- Basis Penggemar Digital: Popularitas konten orisinal di YouTube menjadi motor penggerak utama kehadiran penonton di bioskop.
Data tersebut membuktikan bahwa kekuatan komunitas daring mampu memberikan dampak nyata pada industri perfilman konvensional. Kesuksesan ini juga menjadi bukti strategi pemasaran yang tepat sasaran pada segmen pasar anak muda.
Sinopsis Singkat Film Backrooms
Cerita dalam film ini terinspirasi dari fenomena creepypasta dan serial web yang dikembangkan oleh Parsons sebelumnya. Kisahnya berfokus pada sosok Clark, seorang pemilik toko furnitur yang diperankan oleh aktor Chiwetel Ejiofor.
Clark menceritakan kegelisahannya kepada seorang terapis bernama Mary yang diperankan oleh Renate Reinsve. Ia mengaku menemukan pintu rahasia di bawah tokonya yang terhubung ke labirin ruangan kosong tak berujung.
Rangkuman data komersial film Backrooms dibandingkan dengan pemegang rekor sebelumnya :
| Kategori Data | Film Backrooms | Film Marty Supreme |
|---|---|---|
| Pendapatan Domestik | US$97,7 Juta (Proyeksi US$100M+) | US$96 Juta |
| Biaya Produksi | US$10 Juta | Film Termahal A24 |
| Pemeran Utama | Chiwetel Ejiofor | Timothée Chalamet |
Tabel di atas memperlihatkan bagaimana Backrooms mampu mengungguli film dengan biaya produksi yang jauh lebih besar. Hal ini menegaskan posisi A24 sebagai studio yang jeli dalam menggarap potensi konten kreatif dari internet.
Ketegangan memuncak ketika Clark tiba-tiba menghilang secara misterius di dalam labirin tersebut. Hal ini memaksa Mary untuk memberanikan diri masuk ke dimensi antah-berantah demi menyelamatkan pasiennya.