Awas Merkuri, Simak Tips Dokter Gizi Pilih Ikan Layak Konsumsi di DKI

Awas Merkuri, Simak Tips Dokter Gizi Pilih Ikan Layak Konsumsi di DKI
Foto: Ilustrasi Awas Merkuri, Simak Tips Dokter Gizi Pilih Ikan Layak Konsumsi di DKI.
Ukuran teks

Mengonsumsi ikan yang berasal dari perairan tercemar di wilayah Jakarta ternyata menyimpan risiko kesehatan yang cukup serius bagi para konsumennya. Menurut ahli gizi Rita Ramayulis, jenis serta ukuran fisik ikan menjadi faktor penentu utama seberapa besar potensi paparan racun yang mungkin masuk ke dalam tubuh manusia.

Rita menekankan bahwa beberapa spesies ikan memiliki daya tahan yang berbeda terhadap zat berbahaya, seperti ikan sapu-sapu yang dikenal mampu menampung banyak racun di tubuhnya. Sementara itu, jenis ikan lainnya biasanya memiliki sistem penyaring alami yang akan membuat mereka mati jika kandungan racun di lingkungannya sudah melewati ambang batas tertentu.

Mekanisme Penyaringan Racun dan Faktor Ukuran

Meskipun mayoritas ikan memiliki mekanisme alami untuk menyaring polutan, tingkat risiko kesehatan bagi manusia tetap sangat dipengaruhi oleh posisi ikan tersebut dalam rantai makanan. Rita menjelaskan bahwa semakin besar ukuran seekor ikan, maka semakin tinggi pula akumulasi zat berbahaya yang tersimpan di dalam jaringan tubuhnya akibat proses pemangsaan jangka panjang.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat disarankan untuk lebih memilih ikan berukuran kecil apabila terpaksa mengambil hasil tangkapan dari perairan Jakarta yang sudah tercemar. Contoh jenis ikan laut yang relatif lebih aman untuk dikonsumsi karena ukurannya yang mungil antara lain adalah ikan kembung serta ikan teri.

Perbandingan Risiko Ikan Air Tawar dan Laut

Ikan air tawar dinilai memiliki tingkat risiko pencemaran yang cenderung lebih rendah dibandingkan dengan ikan laut karena proses budidayanya yang lebih terpantau. Hal ini didasari oleh fakta bahwa banyak ikan air tawar seperti lele dan mujair dipelihara di kolam ternak dengan kualitas air yang lebih terkendali daripada laut lepas.

Kondisi laut Jakarta saat ini sangat mengkhawatirkan karena menjadi muara akhir bagi berbagai aliran limbah domestik maupun industri dari daratan. Aliran zat-zat toksik serta logam berat berbahaya umumnya langsung terbuang ke laut, sehingga tingkat polutan di wilayah pesisir menjadi jauh lebih pekat dibandingkan area sungai atau tambak.

Anjuran Konsumsi bagi Kelompok Rentan

Masyarakat perlu memahami bahwa semua makhluk hidup di air tetap memiliki batas toleransi terhadap paparan zat kimia berbahaya sebelum akhirnya mati. Oleh karena itu, Rita memberikan peringatan khusus bagi kelompok yang berisiko tinggi seperti anak-anak, ibu hamil, serta ibu menyusui untuk membatasi konsumsi ikan.

Kelompok rentan tersebut sangat disarankan untuk menghindari konsumsi ikan berukuran besar guna meminimalisir dampak buruk dari akumulasi logam berat pada pertumbuhan dan kesehatan. Bagi orang dewasa yang sehat, konsumsi ikan besar masih dianggap relatif aman karena sistem pertahanan tubuh orang dewasa umumnya jauh lebih kuat dalam mengolah polutan ringan.

Risiko Konsumsi Udang dan Kerang

Dalam kategori makanan laut lainnya, udang yang berukuran kecil masih masuk dalam kategori aman untuk dikonsumsi karena masa hidupnya yang singkat dan akumulasi racun yang rendah. Namun, Rita memberikan peringatan keras terhadap konsumsi kerang yang diambil dari perairan Jakarta karena karakteristik biologis hewan tersebut sebagai penyaring air.

Kerang tidak memiliki organ penyaring yang mumpuni sehingga seluruh polutan yang melewati tubuhnya akan langsung mengendap dan menyerap ke dalam jaringan daging. Atas dasar itulah, kebersihan kerang dari laut Jakarta sangat diragukan kecuali untuk jenis-jenis tertentu yang memang dibudidayakan secara khusus di lingkungan yang terjaga.

Artikel terkait

Rekomendasi