AS Temukan Cara Murah Lawan Drone, Tak Perlu Lagi Rudal Rp17,8 Miliar yang Mahal

AS Temukan Cara Murah Lawan Drone, Tak Perlu Lagi Rudal Rp17,8 Miliar yang Mahal
Foto: AS Temukan Cara Murah Lawan Drone, Tak Perlu Lagi Rudal Rp17,8 Miliar yang Mahal. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks
p>Pasukan Marinir Amerika Serikat baru-baru ini menggelar simulasi tempur di sebuah punggung bukit yang menghadap langsung ke Laut China Selatan. Dalam latihan tersebut, para prajurit yang berada di dalam kendaraan taktis berupaya melumpuhkan drone bersayap tetap yang terbang mendekat.

Dentuman meriam dari kendaraan taktis tersebut memecah kesunyian hingga asap membubung tinggi di lokasi latihan. Setelah melakukan beberapa upaya penembakan, target drone akhirnya berhasil dihantam dan jatuh terperosok ke dalam lautan.

Sersan Staf Noah Konie menceritakan pengalamannya saat mengoperasikan senjata tersebut kepada The Wall Street Journal. Ia mengaku sempat beberapa kali gagal mengenai sasaran sebelum akhirnya peluru tepat mengenai target di atas air.

Strategi MADIS Hadapi Tantangan Perang Modern

Latihan militer yang berlangsung di Filipina pada April lalu ini menunjukkan keseriusan AS dalam menghadapi tantangan peperangan modern. Fokus utama mereka adalah mencari cara efektif untuk menjatuhkan drone murah tanpa harus menguras anggaran militer yang besar.

Selama ini, penggunaan rudal untuk menembak drone dianggap tidak efisien karena biaya produksinya bisa sepuluh kali lipat lebih mahal dari targetnya. Sebagai solusi, Marinir memperkenalkan sistem yang disebut Marine Air Defense Integrated System atau MADIS.

Komponen utama dalam sistem pertahanan MADIS terdiri dari beberapa elemen penting:

  • Kendaraan Taktis Ringan: Menggunakan dua unit Joint Light Tactical Vehicle yang merupakan versi modern dari Humvee.
  • Radar Canggih: Salah satu kendaraan dilengkapi sensor khusus untuk mendeteksi dan mengunci sasaran terbang secara akurat.
  • Persenjataan Rudal: Kendaraan kedua disiapkan untuk membawa rudal Stinger sebagai opsi serangan jarak jauh.
  • Perangkat Elektronik: Sistem ini memiliki kemampuan pengacakan sinyal (jamming) untuk memutus kendali drone lawan.
  • Senjata Konvensional: Dilengkapi meriam dan senapan mesin yang menjadi ujung tombak operasional antidrone.

Kombinasi antara teknologi radar dan senjata konvensional ini diharapkan mampu memberikan perlindungan maksimal bagi pasukan di darat. Dengan adanya variasi senjata, komandan lapangan memiliki pilihan yang lebih fleksibel dalam merespons ancaman.

Belajar dari Konflik di Timur Tengah

Kebutuhan akan sistem MADIS semakin mendesak berkaca pada pengalaman militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Di sana, AS dan sekutunya sering kali harus mengerahkan jet tempur atau helikopter hanya untuk menghalau drone kiriman Iran.

Penggunaan rudal udara-ke-udara seperti AIM-120 menjadi beban finansial yang sangat berat bagi militer. Berdasarkan data dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), satu unit rudal tersebut dibanderol mencapai 1 juta dollar AS atau sekitar Rp 17,8 miliar.

Berikut adalah perbandingan ringkas antara penggunaan rudal konvensional dengan sistem MADIS:

Aspek Perbandingan Rudal Udara (AIM-120) Sistem MADIS
Biaya Operasional Sangat Tinggi (Jutaan Dollar) Relatif Rendah dan Ekonomis
Ketersediaan Unit Terbatas dan Sulit Diproduksi Lebih Banyak dan Mudah Dimobilisasi
Target Utama Pesawat atau Drone Canggih Drone Murah dan Unit Terbang Rendah
Fleksibilitas Terpaku pada Rudal Meriam, Senapan, dan Elektronik

Tabel di atas memperlihatkan bahwa MADIS menawarkan efisiensi yang jauh lebih baik untuk menghadapi ancaman drone skala kecil. Penghematan biaya ini menjadi krusial dalam pertempuran jangka panjang yang melibatkan banyak aset musuh.

Mobilitas Tinggi untuk Wilayah Indo-Pasifik

Direktur Proyek Pertahanan Rudal di CSIS, Tom Karako, menjelaskan bahwa meskipun rudal Stinger sangat mumpuni, jumlah stoknya di lapangan tetap terbatas. Oleh karena itu, kehadiran meriam dan senapan mesin pada MADIS menjadi alternatif yang sangat vital.

Selain faktor biaya, mobilitas kendaraan lapis baja MADIS menjadi keunggulan utama bagi Korps Marinir. Sistem ini dirancang untuk bisa bergerak lincah di berbagai medan, termasuk wilayah kepulauan yang sulit dijangkau.

Kesiapan ini merupakan bagian dari strategi AS dalam menghadapi potensi konflik di kawasan Indo-Pasifik. Wilayah ini diprediksi akan menjadi titik panas persaingan dengan China, terutama yang berkaitan dengan isu Taiwan dan kedaulatan di Laut China Selatan.

Artikel terkait

Rekomendasi