Pemerintah Amerika Serikat dan Iran dikabarkan tengah berada di ambang kesepakatan krusial terkait perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari ke depan. Kabar yang dilansir dari Axios ini menyebutkan bahwa kesepakatan damai tersebut berpotensi diumumkan secara resmi pada Minggu (24/5/2026).
Meskipun Presiden Donald Trump dan pihak mediator telah menunjukkan sinyal positif, status kesepakatan ini dilaporkan belum sepenuhnya final. Masih ada kemungkinan negosiasi menemui jalan buntu jika tidak ada titik temu terakhir di antara kedua belah pihak.
Hingga saat ini, pejabat Amerika Serikat telah membeberkan garis besar draf kesepakatan yang telah diverifikasi oleh beberapa sumber terdekat. Namun, pemerintah Iran sendiri belum memberikan konfirmasi resmi meski Teheran mengakui bahwa proses diplomasi memang sudah mendekati tahap akhir.
Satu hal yang masih menjadi tanda tanya besar adalah apakah nota kesepahaman ini akan berlanjut menjadi perjanjian damai permanen. Hal ini terutama berkaitan dengan tuntutan nuklir yang selama ini menjadi fokus utama kebijakan Presiden Trump terhadap Iran.
Detail Poin Kesepakatan AS dan Iran
Rencana perdamaian ini akan dituangkan dalam sebuah Nota Kesepahaman (MOU) yang berlaku efektif selama dua bulan. Masa berlaku tersebut dapat diperpanjang kembali di kemudian hari asalkan kedua negara memberikan persetujuan bersama.
Poin-poin utama dalam draf kesepakatan tersebut meliputi:
- Pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa biaya tol bagi kapal-kapal yang melintas.
- Komitmen Iran untuk membersihkan seluruh ranjau yang sebelumnya dipasang di wilayah selat tersebut.
- Pencabutan blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan utama di Iran.
- Pemberian pengecualian sanksi yang memungkinkan Iran kembali melakukan ekspor minyak secara bebas di pasar internasional.
Pejabat terkait menilai bahwa langkah ini akan memberikan dampak positif ganda bagi perekonomian Iran dan stabilitas pasar minyak dunia. Kecepatan Iran dalam membersihkan ranjau dan memulihkan arus pengiriman barang akan menjadi penentu seberapa cepat blokade dicabut sepenuhnya.
Presiden Trump menerapkan prinsip "imbalan atas kinerja" sebagai landasan utama dalam kesepakatan diplomasi ini. Hal ini berarti setiap pelonggaran sanksi yang diberikan oleh AS harus dibarengi dengan tindakan nyata dari pihak Teheran.
Perbedaan posisi tawar antara Amerika Serikat dan Iran:
| Aspek Tuntutan | Posisi Iran | Posisi Amerika Serikat |
|---|---|---|
| Aset Keuangan | Meminta dana yang dibekukan segera dicairkan. | Pencairan dilakukan bertahap sesuai progres kesepakatan. |
| Status Sanksi | Menginginkan pencabutan sanksi secara permanen. | Sanksi hanya dicabut jika Iran memberikan konsesi nyata. |
| Keamanan Maritim | Setuju membersihkan ranjau di Selat Hormuz. | Memastikan jalur perdagangan internasional aman sepenuhnya. |
Tabel di atas merangkum dinamika negosiasi di mana Iran menginginkan pemulihan ekonomi instan, sementara AS lebih menekankan pada bukti komitmen di lapangan. Ketegangan ini menjadi salah satu faktor yang membuat proses finalisasi draf berjalan cukup alot.
Dampak Terhadap Konflik di Lebanon
Draf nota kesepahaman ini ternyata juga mencakup klausul mengenai penghentian konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Kesepakatan tersebut diharapkan mampu meredam ketegangan di wilayah Timur Tengah yang sempat meluas akibat perang Iran.
Namun, pejabat AS menegaskan bahwa gencatan senjata ini bukan berarti Israel akan tinggal diam jika terjadi ancaman baru. Jika Hizbullah kedapatan melakukan provokasi atau mempersenjatai diri kembali, Israel tetap diberikan izin untuk mengambil tindakan pencegahan.
Dengan demikian, kesepakatan 60 hari ini dipandang sebagai masa ujian bagi stabilitas regional secara keseluruhan. Keberhasilan implementasi di Lebanon akan menjadi indikator penting bagi masa depan hubungan diplomatik antara Washington dan Teheran.