Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, dikabarkan telah menjalin komunikasi intensif dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Langkah ini diambil guna membahas upaya negosiasi diplomatik di tengah ketegangan yang terus memanas.
Amerika Serikat mencoba menawarkan skema deeskalasi secara bertahap kepada kedua belah pihak. Rencana ini bertujuan untuk menurunkan tensi konflik dan mencari jalan tengah demi perdamaian di kawasan tersebut.
Proposal Deeskalasi dari Amerika Serikat
Menurut laporan dari Reuters pada Senin (31/5/2026), pejabat AS mengungkapkan poin utama dari usulan tersebut. AS meminta agar kelompok Hizbullah menghentikan seluruh serangan yang ditujukan ke wilayah Israel.
Sebagai kompensasi, Israel diharapkan bisa menahan diri dan tidak melakukan serangan balasan yang lebih besar di Beirut. Langkah ini dinilai mampu menciptakan ruang dialog guna menghentikan konflik secara efektif.
Pejabat AS menegaskan bahwa pihaknya tidak mengharapkan Israel terus berada dalam bayang-bayang serangan Hizbullah terhadap warga sipil. Kondisi tersebut menjadi dasar perlunya kesepakatan yang mengikat kedua belah pihak.
Presiden Lebanon Joseph Aoun sendiri disebut-sebut terus berupaya memperjuangkan proposal ini agar segera mencapai titik temu. Ia berusaha memastikan kesepakatan tersebut bisa segera dijalankan untuk meredam kekerasan.
Namun, Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri memberikan catatan tegas mengenai komitmen gencatan senjata ini. Ia menyatakan bahwa tanggung jawab penuh kini berada di tangan Israel untuk menghentikan serangan terlebih dahulu.
Senada dengan hal tersebut, pihak Hizbullah juga melontarkan penegasan yang serupa kepada dunia internasional. Mereka menuntut Israel mengakhiri segala bentuk permusuhan sebelum mereka benar-benar menghentikan serangan.
Ekspansi Militer Israel di Lebanon Selatan
Di sisi lain, situasi di lapangan justru menunjukkan dinamika yang berbeda setelah tentara Israel berhasil menguasai area strategis. Pasukan tersebut dilaporkan telah merebut puncak bukit Kastil Beaufort di Lebanon Selatan pada Minggu (31/5/2026).
Kastil bersejarah peninggalan era Perang Salib ini menjadi titik krusial dalam peta militer di wilayah tersebut. Keberhasilan perebutan ini menjadi sinyal kuat mengenai pergerakan militer Israel yang semakin dalam.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa perebutan Kastil Beaufort adalah momentum perubahan kebijakan yang besar. Melalui pernyataan resminya, ia menegaskan bahwa Israel kini telah menghancurkan tembok ketakutan.
Netanyahu bahkan bersumpah untuk terus memperluas jangkauan serangan militernya di wilayah Lebanon. Ia memberikan arahan agar pasukannya memperkuat kendali di area-area yang selama ini dikuasai oleh Hizbullah.
Beberapa fakta penting terkait penguasaan Kastil Beaufort oleh militer Israel:
- Kastil ini sebelumnya pernah dijadikan pangkalan militer Israel selama masa pendudukan yang berakhir pada tahun 2000 silam.
- Lokasi kastil berada di titik strategis yang memungkinkan pengawasan luas ke seluruh wilayah Lebanon Selatan.
- Penguasaan kembali situs ini dianggap sebagai simbol kekuatan baru bagi pemerintah dan militer Israel saat ini.
- Keberadaan bendera Israel di puncak kastil memicu kenangan pahit bagi warga Lebanon terkait sejarah pendudukan masa lalu.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menambahkan bahwa momen ini bertepatan dengan peringatan para prajurit yang gugur pada perang tahun 1982. Ia menyebut kembalinya pasukan ke Beaufort sebagai pencapaian yang heroik bagi negaranya.
Katz menjelaskan bahwa posisi geografis Beaufort memberikan keuntungan taktis yang sangat besar bagi pertahanan Israel. Dengan pemandangan yang luas, pergerakan lawan di Lebanon Selatan dapat dipantau dengan lebih mudah.
Meskipun dirayakan oleh petinggi Israel, jatuhnya Beaufort kembali membangkitkan trauma lama terkait konflik bersenjata selama dua dekade. Situasi ini pun memicu kekhawatiran global akan eskalasi perang yang lebih luas di Timur Tengah.