Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengungkapkan bahwa Washington bersama para sekutunya telah menyiapkan "Rencana B" terkait situasi di Selat Hormuz. Langkah cadangan ini disiapkan sebagai antisipasi jika Iran tetap bersikeras menutup jalur pelayaran internasional tersebut.
Pernyataan ini disampaikan Rubio kepada awak media di Swedia setelah menghadiri pertemuan dengan para menteri luar negeri anggota NATO pada Jumat (22/5/2026). Ia menekankan pentingnya kesiapan menghadapi sikap keras Iran di wilayah perairan strategis itu.
Skenario Alternatif dan Koordinasi Sekutu
Rubio menjelaskan bahwa rencana cadangan ini memang tidak melibatkan NATO secara organisasi menyeluruh. Namun, strategi tersebut akan menggandeng sejumlah negara sekutu yang memiliki kepentingan langsung di Selat Hormuz.
Menurut Rubio, negara-negara tersebut perlu mulai memikirkan langkah konkret jika Iran menolak untuk bekerja sama. Fokus utamanya adalah memastikan stabilitas kawasan tetap terjaga meski dalam situasi sulit.
Berikut adalah poin-poin utama yang menjadi fokus perhatian Amerika Serikat saat ini:
- Mendorong kesepakatan agar Iran bersedia membuka kembali jalur Selat Hormuz secara sukarela.
- Menuntut Iran untuk menghentikan ambisi pengembangan senjata nuklir mereka sepenuhnya.
- Menyiapkan respons tegas jika Iran mulai memberlakukan sistem "biaya tol" secara ilegal bagi kapal yang melintas.
- Menggalang dukungan dari negara-negara sekutu untuk menjaga kelancaran lalu lintas maritim global.
Rubio menegaskan bahwa jalur diplomasi masih terus diupayakan hingga saat ini demi mencapai solusi damai. Meski demikian, pemerintah AS tidak ingin berspekulasi dan memilih untuk siap dengan segala kemungkinan terburuk.
Respons Negara Anggota NATO
Dalam pertemuan di Stockholm tersebut, Rubio menyampaikan gagasan Rencana B ini di hadapan para diplomat dari 32 negara anggota NATO. Ia mengklaim mendapatkan respons positif serta dukungan dari rekan sejawatnya melalui persetujuan dalam forum tersebut.
Pertemuan di Swedia ini juga merupakan bagian dari persiapan menuju KTT Ankara yang akan datang. Fokus utama diskusi adalah menjaga keamanan energi dan jalur perdagangan dunia dari gangguan konflik regional.
Ringkasan posisi Amerika Serikat dan sekutunya dalam isu Selat Hormuz:
| Aspek Keamanan | Posisi dan Tindakan |
|---|---|
| Kebutuhan Militer | AS merasa mampu membuka selat secara mandiri tanpa bantuan pihak luar. |
| Peran Sekutu | Bantuan dari negara sekutu tetap disambut baik untuk memperkuat legitimasi. |
| Upaya Saat Ini | Inggris dan Prancis telah memulai misi pengamanan lalu lintas maritim. |
| Target Utama | Membersihkan ranjau laut dan mencegah blokade permanen oleh Iran. |
Data di atas menunjukkan bahwa meskipun AS memiliki kemampuan militer yang dominan, kolaborasi internasional tetap menjadi prioritas. Hal ini terlihat dari langkah Inggris dan Prancis yang sudah bergerak lebih awal di lapangan.
Rubio juga menegaskan kembali sikap pemerintahan Trump bahwa bantuan sekutu bersifat sukarela namun sangat dihargai. Ia meyakini banyak negara yang akan bersedia bergabung demi mengamankan kepentingan ekonomi mereka masing-masing.
Persoalan tarif atau biaya tol yang mungkin diterapkan Iran menjadi salah satu isu paling sensitif dalam diskusi tersebut. Pemerintah AS menganggap tindakan semacam itu sebagai pelanggaran hukum internasional yang harus segera ditindaklanjuti.