Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan bakal memangkas kontribusi militernya secara besar-besaran bagi sekutu di Eropa saat terjadi krisis. Kebijakan ini mencakup pengurangan bantuan jet tempur, kapal perang, hingga pesawat pengisian bahan bakar di udara.
Laporan dari media Jerman, Spiegel, menyebutkan bahwa utusan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, telah menyampaikan rencana tersebut kepada pejabat senior NATO di Brussels. Pertemuan tertutup tersebut menandai babak baru ketegangan antara Washington dan aliansi pertahanan tersebut.
Rincian pengurangan armada militer Amerika Serikat untuk NATO:
- Jumlah pesawat pembom strategis yang akan disediakan Washington turun drastis hingga hanya tersisa setengah dari kapasitas sebelumnya.
- Armada jet tempur Amerika Serikat yang disiagakan untuk aliansi bakal dipangkas sebesar sepertiga dari jumlah saat ini.
- Angkatan Laut AS berencana mengurangi jumlah kapal perusak dan tidak akan lagi menyediakan bantuan kapal selam bagi NATO.
- Penyediaan drone pengintai akan dikurangi signifikan, sehingga Eropa dituntut untuk menyediakan teknologi pemantauan tersebut secara mandiri.
Utusan AS, Alexander Velez-Green, mengungkapkan detail tersebut dalam diskusi yang menandakan pergeseran strategi militer Amerika. Informasi lebih lengkap mengenai perubahan ini dijadwalkan bakal diumumkan secara resmi pada konferensi militer awal Juni mendatang.
Eropa Dituntut Lebih Mandiri dalam Pertahanan
Seorang juru bicara NATO menanggapi laporan tersebut dengan menyebut bahwa selama ini memang terjadi ketergantungan yang berlebihan pada pihak Amerika Serikat. Saat ini, pembagian tanggung jawab militer perlu diatur ulang seiring dengan meningkatnya investasi pertahanan dari Eropa dan Kanada.
Langkah drastis ini memperkuat tekanan bagi negara-negara Eropa yang mulai merasa khawatir akan potensi penarikan diri AS secara total dari aliansi. Situasi ini memaksa negara-negara anggota untuk mempercepat penguatan militer internal mereka tanpa bergantung pada bantuan Washington.
Ringkasan perbandingan kapasitas militer yang tersedia bagi NATO:
| Kategori Alutsista | Status Perubahan Kapasitas |
|---|---|
| Pesawat Pembom Strategis | Dikurangi sebanyak 50 persen dari jumlah semula. |
| Jet Tempur | Dipangkas hingga sepertiga dari total armada saat ini. |
| Kapal Perusak | Terjadi pengurangan jumlah armada yang disiagakan. |
| Kapal Selam | Penyediaan bantuan akan dihentikan sepenuhnya. |
Data di atas merangkum rencana pengurangan kekuatan tempur yang akan memberikan dampak signifikan bagi strategi pertahanan kolektif di wilayah Eropa. Penyesuaian ini menuntut respons cepat dari negara-negara anggota untuk mengisi celah keamanan yang ditinggalkan.
Ketegangan Transatlantik dan Kebijakan Trump
Presiden Donald Trump sebelumnya memang berulang kali mengkritik sekutu-sekutunya di Eropa karena dianggap kurang berinvestasi dalam anggaran militer. Ia bahkan sempat mengancam akan menarik ribuan pasukan dari pangkalan militer yang berada di Jerman.
Hubungan diplomatik semakin memanas akibat ambisi Trump terhadap wilayah Greenland serta perselisihan terkait pengamanan Selat Hormuz di tengah konflik dengan Iran. Trump bahkan sempat mempertanyakan komitmen AS terhadap pakta pertahanan bersama jika negara anggota lainnya tidak berkontribusi lebih banyak.
Kini, NATO berada di bawah tekanan besar untuk membuktikan kekuatannya secara mandiri tanpa dukungan penuh dari Amerika Serikat. Dinamika ini diperkirakan akan mengubah peta kekuatan militer global dalam beberapa tahun ke depan.