Indonesia akan kembali merayakan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) pada Selasa, 20 Mei 2026 mendatang. Momen bersejarah ini selalu menjadi perhatian masyarakat, terutama terkait status operasional instansi pendidikan dan perkantoran.
Berdasarkan informasi dari laman resmi Kemdikdasmen, peringatan ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan berdirinya organisasi pergerakan nasional, Boedi Oetomo. Tanggal kelahiran organisasi tersebut, yakni 20 Mei, kemudian ditetapkan sebagai tonggak awal kebangkitan nasional Indonesia.
Tujuan utama dari peringatan Hari Kebangkitan Nasional adalah untuk terus memupuk dan membangkitkan semangat nasionalisme masyarakat. Selain itu, momen ini menjadi pengingat akan kesadaran kolektif dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan bangsa.
Ketentuan Hari Libur Nasional 20 Mei 2026
Banyak masyarakat yang bertanya-tanya apakah Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2026 merupakan hari libur resmi. Berdasarkan aturan hukum yang berlaku, pemerintah telah menetapkan status hari tersebut melalui regulasi resmi.
Merujuk pada Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama, tanggal 20 Mei 2026 tidak terdaftar sebagai hari libur nasional. Hari tersebut juga tidak masuk dalam kategori cuti bersama yang ditetapkan pemerintah.
Oleh karena itu, seluruh aktivitas di lingkungan sekolah, kampus, hingga perkantoran akan berjalan normal seperti biasa. Meskipun bukan merupakan tanggal merah, masyarakat tetap diimbau untuk memaknai semangat perjuangan di hari tersebut.
Walaupun 20 Mei tetap menjadi hari kerja efektif, Anda tidak perlu berkecil hati karena masih ada deretan tanggal merah di akhir Mei hingga awal Juni. Berikut adalah rincian hari libur yang bisa Anda manfaatkan untuk beristirahat.
Daftar hari libur nasional dan cuti bersama pada akhir Mei hingga awal Juni 2026:
- Rabu, 27 Mei 2026: Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah (Libur Nasional).
- Kamis, 28 Mei 2026: Cuti Bersama Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.
- Minggu, 31 Mei 2026: Hari Raya Waisak 2570 BE (Libur Nasional).
- Senin, 1 Juni 2026: Hari Lahir Pancasila (Libur Nasional).
Daftar di atas menunjukkan bahwa terdapat periode libur yang cukup panjang di penghujung bulan Mei hingga awal Juni. Hal ini memungkinkan masyarakat untuk merencanakan kegiatan bersama keluarga atau sekadar beristirahat dari rutinitas.
Rekam Jejak Sejarah Hari Kebangkitan Nasional
Memahami Hari Kebangkitan Nasional tidak lengkap jika tidak menilik sejarah panjang di belakangnya. Semuanya bermula dari organisasi Boedi Oetomo yang diinisiasi oleh mahasiswa STOVIA (sekolah kedokteran era kolonial).
Lahirnya organisasi ini tidak lepas dari peran penting Dr. Wahidin Sudirohusodo, seorang dokter lulusan STOVIA yang hidup pada rentang 1857-1917. Beliau merupakan sosok yang aktif mendorong para pemuda untuk peduli terhadap nasib bangsanya.
Boedi Oetomo kemudian menjadi pemantik lahirnya berbagai organisasi pergerakan lainnya di tanah air. Salah satu yang terinspirasi adalah Sarekat Islam yang telah berdiri sejak tahun 1911 dan aktif bergerak di luar pulau Jawa.
Sarekat Islam melebarkan sayapnya hingga ke luar wilayah Hindia Belanda demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Di periode yang sama, muncul pula Indische Partij sebagai organisasi politik pertama yang secara terang-terangan menuntut kemerdekaan total.
Latar belakang berdirinya Boedi Oetomo dipicu oleh kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang sangat memburuk di abad ke-19. Kondisi tersebut diperparah oleh kebijakan eksploitasi kolonial, politik liberal, serta dampak dari politik etis.
Pemerintah kolonial Belanda menjadi pihak yang paling diuntungkan dari situasi tersebut, sementara rakyat pribumi terus menderita. Realitas memprihatinkan ini memicu Dr. Wahidin Sudirohusodo untuk mulai melakukan pergerakan nyata.
Antara tahun 1906 hingga 1907, Dr. Wahidin melakukan perjalanan propaganda keliling Pulau Jawa. Dalam kunjungannya ke almamaternya, STOVIA di Jakarta, beliau menyebarkan gagasan inspiratif kepada para mahasiswa kedokteran di sana.
Gagasan besar untuk memajukan derajat bangsa melalui organisasi disambut dengan antusiasme tinggi oleh Sutomo dan rekan-rekannya. Mereka kemudian sepakat untuk merumuskan landasan organisasi demi kepentingan rakyat luas.
Hingga akhirnya, pada tanggal 20 Mei 1908, organisasi Boedi Oetomo resmi berdiri di Jakarta. Nama "Boedi Oetomo" sendiri merupakan usulan dari seorang siswa bernama M. Soeradji yang memiliki makna mendalam.
Boedi Oetomo secara harfiah berarti "Kebangkitan Budi Pekerti Luhur". Organisasi pemuda pertama di nusantara ini memegang peranan vital dalam menyemai benih-benih nasionalisme yang nantinya bermuara pada proklamasi kemerdekaan.
Sebagai bentuk penghormatan, Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1958 secara resmi menetapkan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Perayaan pertama kalinya dilakukan secara megah dan meriah di Istana Merdeka sebagai simbol kedaulatan bangsa.