Aktris Acha Septriasa memberikan pandangan mendalam mengenai alasan banyak orang tua memilih bertahan dalam pernikahan yang tidak sehat atau toxic. Menurutnya, keberadaan anak sering kali menjadi faktor penentu utama yang membuat seseorang merasa sulit untuk mengakhiri hubungan tersebut.
Pernyataan ini disampaikan Acha saat berkunjung ke kantor Suara.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, pada Senin, 18 Mei 2026. Ia memahami bahwa rasa takut akan stigma gagal sebagai manusia sering menghantui para orang tua ketika pernikahan mereka tidak berjalan mulus.
Dilema Orang Tua dalam Pernikahan Toxic
Acha menjelaskan bahwa banyak orang merasa dicap gagal secara total saat rumah tangga mereka hancur. Ketakutan inilah yang kemudian membuat banyak pasangan tetap bertahan meski lingkungan di dalam rumah sudah tidak lagi sehat.
Bintang film Qodrat tersebut menilai bahwa keputusan untuk berpisah tidak selamanya bisa dipandang sebagai sebuah kegagalan. Terkadang, langkah drastis tersebut justru menjadi upaya untuk menyelamatkan anak dari pola hubungan yang rusak di masa depan.
Beberapa poin penting yang ditekankan Acha mengenai hubungan dan anak meliputi:
- Edukasi Hubungan: Perpisahan bisa menjadi cara memberi tahu anak tentang batasan hubungan yang sehat dan layak dipertahankan.
- Keamanan Mental: Bertahan di lingkungan yang tidak aman justru bisa merusak cara pandang anak terhadap komitmen dan kasih sayang.
- Skala Prioritas: Orang tua sering terjebak dalam kebingungan untuk menyelamatkan diri sendiri atau memprioritaskan perasaan anak.
- Keputusan Mandiri: Setiap individu, baik pria maupun wanita, memiliki hak penuh untuk menentukan jalan hidup terbaik bagi keselamatan mereka.
Acha menegaskan bahwa anak adalah sosok yang sangat berharga dan tidak bisa ditukar dengan apa pun bagi orang tuanya. Namun, ia mengingatkan bahwa tinggal di lingkungan yang tidak aman merupakan hambatan besar bagi seseorang untuk bisa berkembang dengan baik.
Realitas Hubungan dan Masa Depan Anak
Menurut aktris berusia 36 tahun ini, cara orang tua berinteraksi di dalam rumah akan membentuk perspektif anak mengenai hubungan di masa depan. Jika anak terus terpapar pada konflik, hal itu justru bisa memberikan dampak negatif yang berkelanjutan bagi perkembangan mereka.
Acha sendiri telah melewati fase tersebut setelah resmi bercerai dengan Vicky Kharisma pada tahun 2025 lalu. Meski tidak lagi bersama sebagai pasangan suami istri, mereka tetap menjalin komunikasi yang baik demi kepentingan buah hati mereka.
| Informasi Terkait | Detail Keterangan |
|---|---|
| Status Pernikahan | Resmi berakhir pada tahun 2025 |
| Nama Anak | Bridgia |
| Metode Pengasuhan | Menerapkan sistem co-parenting (asuh bersama) |
| Fokus Utama | Kesehatan mental anak dan lingkungan yang aman |
Data di atas menunjukkan bahwa Acha dan mantan suaminya tetap berkomitmen memberikan yang terbaik bagi putri mereka meski sudah berpisah. Metode co-parenting dipilih agar anak tetap mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya secara seimbang.
Sebagai penutup, Acha menyampaikan bahwa setiap orang berhak mencari kebahagiaan dan keamanan demi diri mereka sendiri dan keluarganya. Pilihan untuk keluar dari situasi yang menyakitkan sering kali merupakan langkah awal menuju kehidupan yang lebih sehat bagi semua pihak.