Sindrom Tourette sering dikenal karena gejala yang paling terlihat, yaitu gerakan dan suara yang muncul berulang secara tiba-tiba. Kondisi ini ditandai oleh tic motorik dan tic vokal yang muncul berulang serta sulit dikendalikan. Gejala ringan mungkin hanya berupa sering berkedip, meringis, berdehem, atau mengangkat bahu tanpa sadar. Namun, pada beberapa kasus, gejala bisa cukup parah sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Tourette adalah kondisi kronis yang hingga kini mekanismenya belum sepenuhnya dipahami. Selama ini, faktor genetik kerap disebut sebagai penyebab utama sindrom ini. Namun, berbagai penelitian juga menyoroti adanya faktor non-genetik dan pemicu sehari-hari yang diduga berperan dalam memperparah risiko serta frekuensi kemunculan tic.
Faktor-Faktor yang Dikaitkan dengan Sindrom Tourette
Kondisi saat kehamilan dan persalinan:
Berbagai kondisi sejak kehamilan hingga persalinan menjadi salah satu faktor risiko sindrom Tourette. Ulasan dalam 'The Aetiology of Tourette Syndrome and Chronic Tic Disorder in Children and Adolescents' menyebut beberapa kondisi, seperti:
- berat badan lahir rendah,
- komplikasi saat kehamilan atau persalinan,
- stres psikologis yang dialami ibu,
- mual dan muntah berat pada trimester awal,
- penggunaan obat tertentu saat hamil.
Kendati demikian, tidak semua ibu yang mengalami kondisi ini akan memiliki anak dengan Tourette.
Infeksi saat hamil dan infeksi dini pada anak:
Infeksi pada ibu selama kehamilan serta infeksi awal pada anak juga terkait dengan peningkatan risiko gangguan tic, termasuk sindrom Tourette. Studi dalam jurnal 'Biological Psychiatry' menunjukkan bahwa paparan infeksi pada periode awal kehidupan bisa memengaruhi perkembangan sistem saraf anak, yang kemudian berhubungan dengan kemunculan tic.
Merokok saat hamil:
Meskipun sering dibahas, merokok saat hamil tidak memiliki hubungan signifikan secara spesifik dengan sindrom Tourette. Namun, paparan rokok selama kehamilan tetap memiliki potensi meningkatkan risiko gangguan perkembangan saraf pada anak, sehingga faktor ini tetap penting dalam kesehatan kehamilan.
Stres dan kecemasan:
Stres adalah salah satu pemicu utama yang membuat tic lebih sering muncul. Berbagai studi menunjukkan bahwa keparahan tic cenderung meningkat saat seseorang sedang mengalami tekanan emosional. Ini berarti, stres bukanlah penyebab langsung, melainkan faktor yang memperburuk gejala.
Kekurangan tidur dan kelelahan:
Kelelahan fisik juga berperan sebagai pemicu kemunculan tic. Pola tidur yang kurang teratur pada anak dengan Tourette dapat memperparah gejala. Kondisi seperti tidur yang kurang, kurang istirahat, atau kelelahan yang berkepanjangan dapat menyebabkan tic lebih menonjol.
Screen time berlebihan:
Penggunaan layar berlebihan ditemukan berkaitan dengan pola tidur yang buruk. Studi dari 'Pediactric Neurology' menunjukkan bahwa pada anak dengan Tourette, screen time dua jam atau lebih setiap hari dapat mengganggu kualitas tidur, yang kemudian memengaruhi kemunculan gejala tic.
Emosi yang terlalu intens:
Selain stres dan kecemasan, emosi berlebihan dalam bentuk apa pun, termasuk excitement, juga bisa memicu tic. Situasi yang memicu perasaan intens, baik positif maupun negatif, dapat membuat gejala Tourette lebih terlihat.
Pada akhirnya, sindrom Tourette bukanlah hasil dari satu penyebab tunggal, melainkan kombinasi dari berbagai faktor. Mulai dari genetik, fungsi dan perkembangan otak, kondisi selama kehamilan, hingga berbagai pemicu sehari-hari seperti stres dan kurang tidur.
```