Candi Borobudur akan kembali menjadi pusat perhatian dunia pada akhir pekan ini. Tepat pada 31 Mei, peringatan Hari Raya Waisak akan digelar di candi megah yang terletak di Magelang ini.
Tradisi ini sebenarnya sudah berakar sejak abad ke-8 pada masa Dinasti Syailendra saat Borobudur berfungsi sebagai pusat ibadah Buddha terbesar. Namun, aktivitas tersebut sempat terhenti selama berabad-abad karena pergeseran pusat kerajaan dan tertimbunnya bangunan candi.
Borobudur akhirnya kembali terbangun dari tidur panjangnya ketika komunitas spiritual menggelar perayaan Waisak modern pertama pada tahun 1929. Momen ini kemudian diperkuat dengan perayaan nasional besar-besaran di bawah arahan Bhikkhu Ashin Jinarakkhita pada 1953.
Setelah pemerintah menetapkan Waisak sebagai hari libur nasional di tahun 1983, Borobudur pun mendapat pengakuan dunia dari UNESCO. Kini, perayaan tersebut menjadi festival spiritual internasional yang menjadi simbol harmoni budaya dan toleransi global.
Rangkaian Ritual dan Simbolisme Suci
Perayaan Waisak di Borobudur bukan sekadar acara seremonial, melainkan rangkaian prosesi yang sarat makna. Setiap tahapannya melibatkan elemen alam yang melambangkan kesucian dan penerangan jiwa.
Berikut adalah ritual penting yang mendahului puncak acara di Borobudur:
- Api Abadi Mrapen: Api suci ini diambil dari Grobogan sebagai simbol cahaya yang mampu mengikis kekesalan dan kegelapan dalam hidup manusia.
- Air Berkah Jumprit: Diambil dari mata air di Temanggung, elemen ini melambangkan pembersihan diri, ketenangan batin, serta kesucian jiwa.
Kedua elemen penting tersebut nantinya akan disemayamkan terlebih dahulu di Candi Mendut. Setelah itu, barulah api dan air suci dibawa dalam iring-iringan menuju Candi Borobudur.
Prosesi Kirab dan Tradisi Pindapata
Salah satu momen yang paling dinanti oleh umat dan wisatawan adalah prosesi kirab atau jalan kaki bersama. Peserta akan menempuh jarak sekitar 3,5 kilometer mulai dari Candi Mendut, melewati Candi Pawon, hingga tiba di Borobudur.
Dalam perjalanan tersebut, para biksu dan umat membawa berbagai persembahan seperti hasil bumi dan replika Buddha. Selain kirab, ada juga tradisi Pindapata yang dilakukan oleh para biksu di sekitar jalanan Magelang.
Detail mengenai aktivitas para biksu dan umat selama rangkaian Waisak:
| Kegiatan | Tujuan dan Makna |
|---|---|
| Kirab Budaya | Perjalanan suci membawa sarana puja dari Candi Mendut ke Borobudur. |
| Pindapata | Menerima sumbangan makanan/dana sebagai simbol pelepasan keduniawian. |
| Puja Bakti | Ibadah doa bersama yang diikuti ribuan umat dari berbagai negara. |
Tradisi Pindapata memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berbuat kebajikan dengan memberikan sumbangan ke dalam mangkuk (patra) para biksu. Aktivitas ini menjadi jembatan spiritual antara sangha dan umat awam.
Fenomena Astronomis dan Festival Lampion
Waktu puncak Waisak tidak ditentukan berdasarkan tanggal kalender biasa, melainkan melalui perhitungan astronomi modern. Detik-detik Waisak jatuh tepat saat purnama sidereal atau purnama sidi, ketika posisi bumi, matahari, dan bulan berada di satu garis lurus.
Kondisi ini membuat bulan bersinar paling terang, sehingga puncak perayaan bisa terjadi kapan saja, baik pagi, siang, maupun malam. Setelah seluruh rangkaian ibadah selesai, acara akan ditutup dengan pelepasan ribuan lampion ke angkasa.
Festival lampion di lapangan Aksobya bukan sekadar tontonan visual yang indah untuk dokumentasi. Setiap lampion yang terbang membawa doa, harapan, serta simbol pelepasan hal negatif dari dalam diri menuju alam semesta.
Makna Sebenarnya dari Tri Suci Waisak
Seluruh kemeriahan dan kekhusyukan di Candi Borobudur bertujuan untuk memuliakan tiga peristiwa agung dalam kehidupan Buddha Gautama. Ketiga momen penting tersebut secara ajaib terjadi pada hari purnama yang sama.
Tiga peristiwa penting yang diperingati dalam Tri Suci Waisak:
- Lahirnya Pangeran Siddharta: Terjadi di Taman Lumbini pada tahun 563 SM.
- Penerangan Sempurna: Momen ketika Pangeran Siddharta menjadi Buddha di Bodhgaya pada 528 SM.
- Parinibbana: Wafatnya Buddha Gautama di Kusinara pada tahun 483 SM.
Peringatan ini menjadi momen refleksi bagi ribuan umat Buddha yang hadir dari berbagai penjuru dunia, termasuk Thailand, Tibet, dan Sri Lanka. Dengan latar Candi Borobudur yang megah, pesan kedamaian dan harmoni pun terpancar ke seluruh penjuru bumi.