Perayaan Iduladha di Jalur Gaza tahun ini diliputi suasana duka dan keprihatinan yang mendalam akibat konflik yang terus berkepanjangan. Warga Palestina di wilayah tersebut terpaksa melewati hari raya tanpa tradisi kurban dan kesempatan menunaikan ibadah haji.
Salah satu warga yang merasakan kepedihan ini adalah I’tidal Hamdan, perempuan berusia 68 tahun yang kini tinggal di tenda pengungsian. Ia harus menghadapi Iduladha ketiga kalinya jauh dari rumah tanpa kehadiran sang suami yang telah wafat.
Duka di Balik Gagalnya Ibadah Haji
I’tidal Hamdan menceritakan bahwa ia telah memimpikan untuk menunaikan ibadah haji bersama suaminya selama lebih dari satu dekade. Namun, suaminya tewas dalam serangan udara Israel tahun lalu sebelum keinginan besar tersebut sempat terwujud.
Meski nama mereka sudah masuk dalam daftar keberangkatan haji tahun 2024, perang yang terus berkecamuk menghancurkan harapan tersebut. Hamdan kini hanya bisa bertahan di pengungsian bersama kenangan pahit kehilangan anggota keluarganya.
Beberapa fakta memprihatinkan terkait pelaksanaan Iduladha di Gaza tahun ini:
- Akses Haji Tertutup Total: Pembatasan ketat di pintu keluar Gaza menyebabkan tidak ada satu pun jemaah yang bisa berangkat ke tanah suci untuk tahun ketiga secara berturut-turut.
- Kehilangan Anggota Keluarga: Selain kehilangan suami, Hamdan juga harus meratapi kematian dua putra dan enam cucunya yang tewas dalam serangan terpisah.
- Tradisi Menghias Rumah Terhenti: Banyak keluarga pengungsi tidak bisa kembali ke rumah mereka yang telah hancur, sehingga tradisi menghias rumah saat Iduladha tidak lagi dilakukan.
- Kelangkaan Hewan Kurban: Pengepungan total menyebabkan populasi ternak seperti sapi dan domba hampir tidak tersisa di pasar-pasar lokal.
Kondisi ini membuat makna perayaan Iduladha yang biasanya penuh sukacita berubah menjadi momen refleksi atas penderitaan warga Gaza. Harapan untuk melaksanakan rukun Islam kelima kini tertunda hingga batas waktu yang tidak pasti.
Ketiadaan Hewan Kurban di Pasar
Emad Suhweil, seorang ayah dari delapan anak yang mengungsi dari Beit Lahiya, mengungkapkan kesedihannya mengenai kondisi pasar saat ini. Menurutnya, ketiadaan hewan ternak membuat esensi perayaan kurban hilang sepenuhnya bagi sebagian besar warga.
Kelangkaan ini merupakan dampak langsung dari blokade dan kehancuran lahan pertanian serta peternakan selama agresi militer berlangsung. Akibatnya, hampir tidak ada keluarga di Gaza yang mampu melaksanakan penyembelihan hewan kurban tahun ini.
Berikut adalah tabel ringkasan tantangan utama warga Gaza saat Iduladha:
| Aspek Perayaan | Kondisi Saat Ini |
|---|---|
| Keberangkatan Haji | Dibatalkan total karena penutupan perbatasan oleh otoritas Israel. |
| Stok Hewan Kurban | Sangat langka akibat pengepungan dan hancurnya peternakan lokal. |
| Tempat Tinggal | Mayoritas warga merayakan di tenda darurat karena rumah mereka hancur. |
| Suasana Perayaan | Dipenuhi duka akibat kehilangan sanak saudara dalam serangan militer. |
Data tersebut menunjukkan betapa sulitnya warga Palestina menjalankan kewajiban agama mereka di tengah tekanan konflik. Situasi ini menambah daftar panjang penderitaan kemanusiaan yang harus mereka alami setiap harinya.
Meskipun berada dalam situasi yang serba sulit, semangat warga seperti Hamdan untuk tetap bertahan hidup dan memelihara harapan tidak pernah padam. Ia tetap memegang mimpi bahwa suatu saat nanti perjalanan duka ini akan berakhir dengan kunjungan ke Baitullah.