10 Sutradara dengan Masa Hiatus Terlama, Ada yang Vakum 30 Tahun Lebih!

10 Sutradara dengan Masa Hiatus Terlama, Ada yang Vakum 30 Tahun Lebih!
Foto: 10 Sutradara dengan Masa Hiatus Terlama, Ada yang Vakum 30 Tahun Lebih!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Memproduksi sebuah film merupakan proses yang sangat kompleks, penuh risiko, serta membutuhkan perhatian penuh dari seorang sutradara. Kondisi inilah yang membuat banyak sineas ternama memilih untuk hanya merilis karya baru dalam rentang waktu beberapa tahun sekali.

Namun, ada fenomena unik di mana sejumlah sutradara justru mengambil jeda yang sangat panjang di antara proyek film mereka. Bahkan, beberapa nama besar tercatat baru kembali ke balik layar setelah puluhan tahun menghilang dari radar industri perfilman dunia.

Berikut adalah daftar sutradara ternama yang pernah menjalani masa hiatus terlama dalam sejarah perfilman:

Nama Sutradara Durasi Hiatus Karya Comeback
Víctor Erice 31 Tahun Close Your Eyes (2023)
Roy Andersson 25 Tahun Songs from the Second Floor (2000)
Alejandro Jodorowsky 23 Tahun The Dance of Reality (2013)
Terrence Malick 20 Tahun The Thin Red Line (1998)
Adrian Lyne 20 Tahun Deep Water (2022)

Data di atas menunjukkan bahwa dedikasi terhadap kualitas dan perfeksionisme sering kali melampaui tuntutan untuk terus produktif setiap tahunnya. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai alasan di balik masa vakum para sutradara tersebut.

1. Víctor Erice

Bagi Víctor Erice, waktu bukanlah hambatan untuk menghasilkan sebuah mahakarya sinematik yang sesuai dengan visinya. Sineas yang dikenal sebagai auteur idealis ini tercatat hanya memiliki empat film panjang dalam perjalanan kariernya selama lebih dari lima dekade.

Ia membutuhkan waktu hingga 31 tahun untuk merilis film Close Your Eyes setelah film ketiganya, Dream of Light, tayang pada tahun 1993. Selama masa vakum tersebut, Erice tetap aktif menggarap proyek film pendek dan sempat menjadi juri dalam ajang bergengsi Cannes Film Festival.

Erice sebenarnya hampir terlibat dalam proyek The Shanghai Spell pada tahun 2002 silam. Namun, ia harus meninggalkan proyek tersebut akibat adanya perselisihan terkait anggaran produksi yang tidak menemui titik temu.

2. Roy Andersson

Sineas asal Swedia, Roy Andersson, dikenal melalui karya-karyanya yang mengangkat tema eksistensial dengan bumbu humor absurd. Meskipun telah berkarier selama 54 tahun, ia tercatat hanya melahirkan enam film panjang sepanjang hidupnya.

Penyebab minimnya karya Andersson adalah masa vakum selama 25 tahun yang ia ambil setelah kegagalan film Giliap pada 1975. Saat itu, film tersebut mendapatkan ulasan buruk dari para kritikus dan tidak mampu berbicara banyak di pasaran.

Selama masa rehat, Andersson membangun Studio 24 dan mengalihkan fokusnya untuk menyutradarai berbagai iklan komersial. Ia baru kembali ke kursi sutradara film panjang pada tahun 2000 lewat film Songs from the Second Floor yang sukses besar.

3. Alejandro Jodorowsky

Alejandro Jodorowsky merupakan tokoh kunci dalam aliran sinema surealisme yang selalu berhasil membuat penontonnya berpikir keras. Setelah merilis The Rainbow Thief pada tahun 1990, ia mendadak memutuskan untuk berhenti sejenak dari dunia film.

Jeda waktu yang diambil Jodorowsky terbilang sangat lama, yakni mencapai 23 tahun sebelum ia kembali berkarya. Dalam rentang waktu tersebut, ia justru mendalami bidang seni lain seperti penulisan komik hingga studi tentang kartu tarot.

Sineas berkebangsaan Prancis ini akhirnya mengakhiri masa hiatusnya pada tahun 2013 yang lalu. Ia menandai kepulangannya ke industri film melalui sebuah karya berjudul The Dance of Reality.

4. Terrence Malick

Terrence Malick merupakan sosok veteran dari era New Hollywood yang memiliki pendekatan kerja sangat santai dan tidak terburu-buru. Meski sudah aktif selama setengah abad, ia tercatat baru merampungkan sembilan judul film hingga saat ini.

Usai merilis Days of Heaven pada tahun 1978, Malick secara mengejutkan menghilang dari sorotan publik dan media. Barulah dua dekade kemudian, tepatnya pada 1998, ia kembali melalui film perang epik berjudul The Thin Red Line.

Gaya hidup Malick yang tertutup membuatnya sering dijuluki sebagai "sineas yang pemalu". Setelah kesuksesan The Thin Red Line, ia pun sempat kembali menghilang selama beberapa tahun sebelum merilis karya baru lagi.

5. Adrian Lyne

Nama Adrian Lyne sangat identik dengan genre erotic thriller legendaris, seperti dalam film Fatal Attraction dan Indecent Proposal. Namun, setelah merilis Unfaithful di tahun 2002, Lyne seolah raib dari industri perfilman Hollywood.

Masa vakum Lyne akhirnya berakhir setelah 20 tahun ketika ia menyutradarai film Deep Water pada tahun 2022. Film tersebut merupakan adaptasi dari novel karya penulis ternama, Patricia Highsmith, yang dibintangi oleh Ben Affleck.

Walaupun film kembalinya tersebut mendapatkan beragam kritik negatif, Lyne membuktikan bahwa ia masih memiliki ciri khas. Ia tetap mampu menyajikan ketegangan yang dibalut dengan unsur sensualitas yang menjadi tanda tangannya.

6. David Lean

David Lean sempat mengalami pukulan keras dalam kariernya setelah film Ryan’s Daughter (1970) dihujani kritik tajam. Hal ini membuatnya memutuskan untuk meninggalkan kursi sutradara selama 14 tahun lamanya.

Selama masa istirahat tersebut, sineas asal Inggris ini tetap aktif di industri kreatif dengan berganti peran. Ia sempat menjajal profesi sebagai aktor, penulis naskah, hingga editor film untuk mengisi hari-harinya.

Momentum perbaikan citranya datang saat ia mendapatkan tawaran untuk menggarap A Passage to India pada tahun 1984. Film ini pun menjadi karya penutup yang sangat anggun dan sempurna bagi filmografi panjang seorang David Lean.

7. James Cameron

James Cameron dikenal sebagai sutradara yang tidak pernah ragu untuk mendorong batasan teknologi dalam setiap filmnya. Salah satu buktinya adalah kesuksesan luar biasa dari waralaba Avatar yang menjadi fenomena global.

Demi mencapai kualitas visual yang tidak tertandingi, Cameron membutuhkan waktu 13 tahun untuk merilis Avatar: The Way of Water. Masa tunggu yang lama tersebut disebabkan oleh dedikasinya dalam melakukan riset mendalam serta persiapan teknis yang sangat rumit.

Beberapa hal yang mendasari lamanya produksi film James Cameron adalah:

  • Pengembangan teknologi kamera bawah air yang belum pernah ada sebelumnya.
  • Riset mendalam mengenai ekosistem laut untuk membangun dunia Pandora yang kredibel.
  • Penulisan naskah yang dilakukan secara simultan untuk beberapa sekuel sekaligus.
  • Proses persiapan pra-produksi yang memakan waktu bertahun-tahun demi kesempurnaan.

Proses panjang tersebut terbukti membuahkan hasil manis karena sekuelnya tetap mampu menarik minat jutaan penonton di seluruh dunia. Cameron menunjukkan bahwa waktu yang lama adalah harga yang pantas untuk sebuah inovasi.

8. Stanley Kubrick

Stanley Kubrick adalah seorang perfeksionis sejati yang selalu meninggalkan kesan mendalam melalui setiap karyanya. Setelah merilis film perang Full Metal Jacket pada 1987, ia membutuhkan waktu 12 tahun untuk menyelesaikan film berikutnya.

Film terakhirnya, Eyes Wide Shut (1999), menjadi penutup karier yang provokatif dan penuh misteri bagi sang maestro. Selama masa hiatus tersebut, ia sebenarnya tidak benar-benar menganggur karena terlibat dalam beberapa proyek ambisius.

Salah satu proyek yang gagal ia rampungkan adalah drama Holocaust berjudul Aryan Papers yang batal diproduksi. Ia juga sempat mengembangkan konsep film A.I.: Artificial Intelligence yang akhirnya digarap oleh Steven Spielberg pasca kematian Kubrick.

9. Jane Campion

Sebagai salah satu sineas perempuan terbaik di dunia, Jane Campion memiliki perjalanan karier yang sangat dinamis. Namun, ia sempat merasa kecewa karena merasa sineas perempuan kurang mendapatkan apresiasi yang layak di industri film.

Rasa kecewa tersebut membuatnya sempat berpindah haluan ke industri televisi dan meninggalkan layar lebar selama 12 tahun. Film terakhir yang ia garap sebelum masa vakum tersebut adalah Bright Star yang dirilis pada tahun 2009.

Campion akhirnya kembali ke dunia film setelah terpesona oleh novel The Power of the Dog karya Thomas Savage. Hasilnya, ia berhasil menciptakan salah satu film Western arthouse modern terbaik yang diakui secara internasional.

10. Jonathan Glazer

Jonathan Glazer termasuk sutradara yang sangat selektif, di mana ia hanya memproduksi empat film dalam 24 tahun kariernya. Setelah sukses dengan Under the Skin pada 2013, ia langsung mempersiapkan proyek berikutnya dengan sangat teliti.

Glazer menghabiskan waktu sekitar sembilan tahun hanya untuk riset dan tahap pra-produksi film The Zone of Interest. Ia ingin memastikan bahwa penggambaran tentang kekejaman Perang Dunia II ditampilkan secara akurat dan terasa nyata.

Ketelitian yang luar biasa ini akhirnya membuahkan hasil yang sangat membanggakan di ajang penghargaan dunia. Film tersebut sukses menyabet dua piala Oscar, yakni untuk kategori Best Sound dan Best International Feature Film.

Melihat daftar di atas, terlihat jelas bahwa para sutradara ini lebih mengutamakan integritas karya dibandingkan dengan kuantitas. Jeda waktu yang panjang terbukti mampu menghasilkan film-film ikonik yang terus dibicarakan hingga bertahun-tahun kemudian.

Artikel terkait

Rekomendasi