Waspada, Kenali 7 Bentuk Feses yang Tunjukkan Kondisi Kesehatan Usus Terbaru 2026

Waspada, Kenali 7 Bentuk Feses yang Tunjukkan Kondisi Kesehatan Usus Terbaru 2026
Foto: Waspada, Kenali 7 Bentuk Feses yang Tunjukkan Kondisi Kesehatan Usus Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kesehatan organ usus manusia ternyata dapat dideteksi secara mandiri melalui bentuk feses yang dikeluarkan saat Buang Air Besar (BAB). Bentuk serta konsistensi kotoran tersebut bukan sekadar sisa proses pembuangan, melainkan indikator penting mengenai fungsi pencernaan hingga tingkat hidrasi tubuh.

Prof. Dra. Wellyzar Sjamsuridzal, M.Sc., Ph.D., yang merupakan Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia, memberikan penjelasan mendalam mengenai hal ini. Menurutnya, usus beserta mikrobiota yang hidup di dalamnya memegang peranan krusial dalam menjaga stabilitas kesehatan tubuh manusia secara menyeluruh.

Mikrobiota usus tidak hanya bertugas membantu proses penghancuran makanan di dalam perut agar nutrisinya terserap maksimal. Keberadaan mikroorganisme ini juga berfungsi mendukung sistem kekebalan tubuh serta menjaga integritas lapisan dinding usus agar tetap kuat.

Lebih lanjut, Prof. Welly menjelaskan bahwa mikrobiota juga berperan aktif dalam mengatur hormon tubuh manusia. Menariknya, terdapat hubungan langsung antara sistem saraf usus dengan otak yang dikenal dengan istilah gut-brain axis.

Pernyataan Prof. Wellyzar mengenai koneksi antara kesehatan usus dengan fungsi kognitif otak manusia:

  • Mikrobiota yang ada di dalam usus memiliki hubungan komunikasi langsung dengan otak manusia.
  • Kondisi keseimbangan bakteri di pencernaan sangat memengaruhi kualitas kesehatan mental dan fisik seseorang.

Penjelasan tersebut disampaikan Prof. Welly dalam sebuah acara peluncuran produk minuman probiotik yang berlangsung di kawasan Jakarta Pusat pada Senin (25/5). Ia mengingatkan bahwa ketidakseimbangan mikrobiota atau disbiosis dapat memicu berbagai macam keluhan medis.

Masalah yang timbul akibat ketidakseimbangan ini tidak hanya terbatas pada gangguan pencernaan ringan seperti perut kembung atau sembelit. Disbiosis yang dibiarkan terus-menerus dapat memicu timbulnya penyakit degeneratif yang lebih serius dan berdampak jangka panjang.

Penyakit seperti Parkinson dan Alzheimer disebut memiliki kaitan yang sangat erat dengan kondisi ketidakseimbangan mikroorganisme di dalam usus. Oleh karena itu, menjaga populasi bakteri baik di pencernaan menjadi langkah preventif yang sangat penting dilakukan sejak dini.

Mengenal Bristol Stool Scale sebagai Alat Ukur Kesehatan

Prof. Wellyzar menyarankan cara yang paling mudah untuk memantau kondisi kesehatan pencernaan harian adalah dengan mengamati bentuk feses. Hal ini dapat dilakukan dengan merujuk pada Bristol Stool Scale, sebuah alat bantu visual medis yang sudah diakui secara global.

Metode ini mengelompokkan bentuk dan konsistensi kotoran manusia ke dalam tujuh kategori yang berbeda. Dengan memperhatikan bentuknya, seseorang bisa mendapatkan gambaran kasar mengenai apa yang sedang terjadi di dalam sistem pencernaannya.

Berikut adalah ringkasan klasifikasi kesehatan usus berdasarkan tujuh tipe yang terdapat dalam skala medis tersebut:

Kategori Bentuk dan Konsistensi Feses Indikasi Kesehatan
Tipe 1 - 2 Bongkahan keras dan terpisah atau berbentuk sosis yang menggumpal. Menandakan adanya gejala sembelit atau konstipasi pada sistem pencernaan.
Tipe 3 - 4 Berbentuk sosis dengan permukaan halus atau sedikit retakan di permukaannya. Kondisi feses ideal yang menunjukkan sistem pencernaan berfungsi dengan normal.
Tipe 5 - 7 Bentuk tidak beraturan, sangat lunak, hingga cair tanpa ada potongan padat. Indikasi kekurangan serat, adanya peradangan, hingga gejala diare.

Melalui tabel di atas, masyarakat diharapkan lebih peduli terhadap apa yang mereka temukan saat berada di toilet sebagai bentuk deteksi dini. Klasifikasi ini membantu seseorang memahami apakah mereka perlu meningkatkan asupan air atau menambah konsumsi serat harian.

Skala ini secara sistematis membagi tujuh tingkatan tekstur, mulai dari yang paling keras hingga yang paling cair atau berbentuk air sepenuhnya. Perubahan konsistensi yang drastis dan berlangsung lama harus segera dikonsultasikan dengan tenaga medis profesional.

Selain memperhatikan bentuk feses, gaya hidup sehat seperti rutin mengonsumsi makanan berserat dan menjaga asupan cairan tetap menjadi kunci utama. Menjaga usus tetap sehat secara tidak langsung juga merupakan upaya menjaga kesehatan otak dan saraf di masa tua.

Penting bagi masyarakat untuk tidak meremehkan masalah sepele pada pencernaan, karena usus sering disebut sebagai "otak kedua" manusia. Dengan pencernaan yang lancar, risiko terkena penyakit degeneratif yang menyerang fungsi kognitif dapat diminimalisir secara signifikan.

Artikel terkait

Rekomendasi