Waka MPR Ungkap Cara Ubah Masa Depan di 2026, Penting Pahami Diri Sendiri

Waka MPR Ungkap Cara Ubah Masa Depan di 2026, Penting Pahami Diri Sendiri
Foto: Waka MPR Ungkap Cara Ubah Masa Depan di 2026, Penting Pahami Diri Sendiri. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menekankan pentingnya penguasaan diri bagi generasi muda. Menurutnya, mengenali diri sendiri merupakan fondasi utama bagi mereka yang bercita-cita menjadi pemimpin masa depan.

Lestari yang akrab disapa Rerie ini menyatakan bahwa langkah fundamental harus diambil sejak dini. Ia menegaskan bahwa pemahaman mendalam terhadap diri sendiri adalah kunci untuk mengubah masa depan.

Pernyataan tersebut disampaikan Rerie saat mengisi acara karantina daring Duta Siswa Kabupaten/Kota Se-Indonesia 2026. Acara ini diselenggarakan oleh Yayasan Duta Siswa Indonesia pada Minggu, 31 Mei 2026.

Filosofi Pemimpin yang Selesai dengan Dirinya

Rerie berpendapat bahwa tantangan terbesar seorang pemimpin bukan berasal dari pihak luar. Ia meyakini bahwa musuh paling nyata yang harus dihadapi adalah diri sendiri.

Seorang pemimpin yang ideal, menurut Rerie, adalah sosok yang sudah selesai dengan urusan pribadinya. Hal ini berarti sang pemimpin telah benar-benar memahami kapasitas dan karakter yang ia miliki.

Dalam kesempatan tersebut, Rerie juga menyoroti perilaku generasi muda yang cenderung bergerak terlalu cepat. Ia mengkritik kebiasaan bereaksi instan akibat pengaruh media sosial yang memicu distraksi.

Ia melihat banyak anak muda yang cerdas namun kesulitan untuk menjaga fokus. Fenomena mudahnya konsentrasi terpecah menjadi perhatian serius bagi anggota Komisi X DPR RI ini.

Menerapkan Teori U dalam Kepemimpinan

Sebagai solusi, Rerie memperkenalkan konsep manajemen yang dikenal dengan istilah Teori U. Teori yang digagas oleh Otto Scharmer ini menitikberatkan pada proses sebelum mengambil tindakan.

Metode ini mengajak individu untuk membiasakan diri melihat, mendengar, dan memahami situasi terlebih dahulu. Setelah informasi terkumpul, proses perenungan dan pencernaan data menjadi tahap krusial sebelum bertindak.

Langkah strategis dalam memahami diri dan masalah menurut Lestari Moerdijat:

  • Mengambil jeda sejenak untuk menghindari reaksi yang terburu-buru terhadap informasi.
  • Membiasakan diri untuk melihat dan mendengar secara mendalam sebelum mengambil keputusan.
  • Melakukan refleksi untuk mencerna informasi secara menyeluruh agar tidak terjebak pada distraksi.
  • Menganalisis akar masalah secara fundamental, bukan hanya melihat gejala yang tampak di permukaan.
  • Membangun peta empati dengan melihat sebuah persoalan dari berbagai perspektif yang berbeda.

Tahapan ini bertujuan agar setiap kebijakan yang diambil didasari oleh pemikiran yang matang. Rerie mengingatkan bahwa solusi instan seringkali tidak menyentuh masalah utama yang tersembunyi di bawah permukaan.

Membangun Peta Empati bagi Pemimpin Muda

Kemampuan melihat dari berbagai sudut pandang disebut Rerie sebagai cara membangun peta empati. Bekal ini sangat penting ketika seseorang memiliki kewenangan untuk menetapkan sebuah kebijakan.

Ia berharap para calon pemimpin masa depan tidak hanya memberikan solusi di permukaan saja. Pemimpin sejati harus memiliki keberanian untuk menggali lebih dalam guna menemukan solusi yang berkelanjutan.

Menutup arahannya, Rerie mengajak peserta karantina untuk berani melakukan perubahan dan mencoba hal baru. Ia mendorong mereka untuk segera menyiapkan diri dengan mengenali potensi masing-masing.

Persiapan yang matang sejak dini akan membentuk karakter pemimpin yang tangguh saat bertindak. Dengan memahami diri sendiri, generasi muda diharapkan mampu memimpin dengan lebih bijaksana di masa yang akan datang.

Artikel terkait

Rekomendasi