Wacana Prabowo Wajibkan Bahasa Prancis di Sekolah, Reaksi Sandhy Sondoro Mengejutkan

Wacana Prabowo Wajibkan Bahasa Prancis di Sekolah, Reaksi Sandhy Sondoro Mengejutkan
Foto: Wacana Prabowo Wajibkan Bahasa Prancis di Sekolah, Reaksi Sandhy Sondoro Mengejutkan. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Presiden Prabowo Subianto baru saja mengeluarkan kebijakan baru di sektor pendidikan tanah air setelah melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Instruksi tersebut mewajibkan pembelajaran bahasa Prancis untuk diterapkan di seluruh jenjang sekolah di Indonesia.

Keputusan ini disampaikan secara langsung oleh Presiden Prabowo saat berkunjung ke Istana Elysee di Paris. Langkah tersebut diambil sebagai salah satu upaya strategis untuk mempererat hubungan kerja sama antara Indonesia dan Prancis.

Respons Beragam dari Tokoh Publik dan Masyarakat

Kabar mengenai kewajiban belajar bahasa Prancis ini seketika memicu berbagai reaksi dari masyarakat di dunia maya. Salah satu figur publik yang memberikan respons unik adalah musisi kenamaan Sandhy Sondoro.

Melalui unggahan di media sosial, penyanyi lagu "Malam Biru" tersebut menyematkan komentar berupa tiga emoji tertawa terbahak-bahak. Respons singkat namun penuh makna ini mencuri perhatian para pengguna Instagram lainnya.

Tidak hanya Sandhy Sondoro, akun penggemar sinetron klasik "Si Doel Anak Sekolahan" juga ikut melontarkan candaan pop kultur. Mereka menyebut karakter Zaenab sudah lebih dulu mengambil kursus bahasa Prancis dibanding yang lain.

Kritik Mengenai Relevansi bagi Masyarakat Daerah

Di balik berbagai gurauan yang muncul, sejumlah warganet melayangkan kritik tajam terkait urgensi kebijakan ini. Beberapa pihak mempertanyakan apakah bahasa Prancis benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat kecil di pedesaan.

Komentar salah satu pengguna media sosial bahkan menyindir pernyataan Prabowo sebelumnya mengenai penggunaan mata uang asing. Mereka menilai masyarakat desa lebih membutuhkan hal lain daripada kemampuan berbahasa Prancis.

Berikut adalah beberapa poin sorotan warganet terhadap instruksi Presiden tersebut:

  • Relevansi Kebutuhan: Masyarakat mempertanyakan kegunaan bahasa Prancis bagi warga yang tinggal di wilayah pelosok atau pedesaan.
  • Kekhawatiran Perubahan Kebijakan: Ada kekhawatiran bahwa setiap kunjungan ke negara baru akan menghasilkan kewajiban bahasa yang berbeda-beda.
  • Beban Kurikulum: Munculnya mata pelajaran bahasa asing tambahan dianggap bisa menambah beban belajar bagi para siswa di sekolah.

Komentar-komentar tersebut mencerminkan dinamika pemikiran masyarakat dalam menanggapi kebijakan pendidikan yang dinamis. Sebagian besar merasa bahwa fokus pendidikan seharusnya lebih diarahkan pada kebutuhan praktis warga lokal.

Riwayat Instruksi Bahasa Asing Sebelumnya

Fenomena instruksi bahasa asing setelah kunjungan kenegaraan ini rupanya bukan yang pertama kali terjadi. Sebelum instruksi bahasa Prancis ini mencuat, Presiden Prabowo juga pernah mengeluarkan arahan serupa.

Saat melakukan pertemuan dengan Presiden Brasil beberapa waktu lalu, beliau sempat menginstruksikan agar bahasa Portugis dipelajari di Indonesia. Hal inilah yang kemudian memicu sindiran bahwa daftar pelajaran bahasa asing akan terus bertambah seiring agenda kunjungan kerja luar negeri sang presiden.

Meskipun menuai pro dan kontra, langkah ini tetap dianggap oleh pemerintah sebagai jembatan penting dalam memperkuat diplomasi. Penjelasan lebih lanjut mengenai teknis penerapan kurikulum ini kemungkinan akan segera dibahas bersama otoritas pendidikan terkait.

Artikel terkait

Rekomendasi