UEA Diam-diam Ajak Arab Saudi dan Qatar Serang Iran, Laporan Sebut Ditolak Berjamaah

UEA Diam-diam Ajak Arab Saudi dan Qatar Serang Iran, Laporan Sebut Ditolak Berjamaah
Foto: Ilustrasi UEA Diam-diam Ajak Arab Saudi dan Qatar Serang Iran, Laporan Sebut Ditolak Berjamaah.
Ukuran teks

Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan pernah berupaya mengajak Arab Saudi dan Qatar untuk melakukan aksi militer gabungan terhadap Iran. Namun, rencana tersebut gagal total setelah mendapatkan penolakan keras dari kedua negara tetangganya di kawasan Teluk tersebut.

Melansir laporan Bloomberg, Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan sempat berkomunikasi intensif dengan para pemimpin Teluk. Salah satu tokoh yang dihubungi adalah Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS).

Langkah diplomasi ini dilakukan sesaat setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara ke Iran pada akhir Februari lalu. Sebagai balasan, Teheran menghujani wilayah Teluk dengan ribuan drone serta rudal yang memicu ketegangan hebat.

Perbedaan Strategi Antara Arab Saudi dan UEA

Putra Mahkota MBS beserta pemimpin Teluk lainnya secara tegas menolak ajakan Mohamed bin Zayed untuk menyerang Iran secara terkoordinasi. Penolakan ini menunjukkan adanya perbedaan visi yang tajam dalam menyikapi ancaman dari Teheran.

Konflik dengan Iran justru memperlebar jarak antara Arab Saudi dan UEA, bukannya mempersatukan mereka. Meskipun kedua negara tetap melakukan serangan balasan, aksi tersebut dilakukan secara mandiri tanpa koordinasi satu sama lain.

Analis menilai bahwa serangan yang diluncurkan oleh Arab Saudi cenderung lebih terukur dan tidak terlalu agresif. Riyadh bahkan bergerak cepat dengan mendukung upaya mediasi yang diprakarsai oleh sekutu mereka, Pakistan.

Berbeda dengan Saudi, UEA justru memilih untuk menargetkan titik-titik vital pada infrastruktur energi milik Iran. Wall Street Journal melaporkan bahwa pasukan UEA menyerang Pulau Lavan di Teluk Persia pada awal April lalu.

Serangan ke fasilitas tersebut memicu kebakaran hebat dan melumpuhkan sebagian besar kapasitas operasionalnya. Aksi militer ini terjadi hampir bersamaan dengan pengumuman gencatan senjata yang dilakukan oleh Amerika Serikat.

Kekhawatiran dan Dampak Ekonomi Bagi Abu Dhabi

Posisi geografis membuat UEA merasa lebih terancam dan rentan terhadap serangan balik Iran dibandingkan Arab Saudi. Saudi masih memiliki jalur pipa Timur-Barat yang memungkinkan mereka mengekspor minyak melalui wilayah Laut Merah.

Ketegangan bersenjata ini telah mengganggu stabilitas UEA yang selama ini dikenal sebagai pusat keuangan dan pariwisata global. Kondisi tersebut memaksa Abu Dhabi untuk melobi Amerika Serikat agar terus menekan Iran secara militer.

Daftar langkah diplomasi dan respons yang diambil oleh UEA selama konflik berlangsung:

  • Mendesak Amerika Serikat secara terbuka maupun tertutup untuk tidak menghentikan operasi militer terhadap Iran.
  • Mengajukan proposal penggunaan kekuatan militer ke PBB guna merespons kendali Iran atas Selat Hormuz.
  • Menyampaikan kritik tajam terhadap Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang dianggap tidak tegas dalam bertindak.
  • Memutuskan untuk keluar dari organisasi kartel minyak dunia (OPEC) pada bulan Mei akibat rasa frustrasi.

Seluruh rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa dinamika politik di kawasan Teluk sedang berada pada titik terendahnya. Perbedaan kepentingan nasional antara Abu Dhabi dan Riyadh menjadi penghalang utama terciptanya kekuatan militer bersama.

Berikut adalah ringkasan perbedaan pendekatan antara kedua negara tersebut:

Aspek Perbandingan Arab Saudi Uni Emirat Arab (UEA)
Strategi Militer Serangan terukur dan independen Menargetkan fasilitas energi utama
Jalur Diplomasi Mendukung mediasi melalui Pakistan Melobi AS untuk melanjutkan perang
Dampak Ekonomi Lebih aman dengan jalur Laut Merah Sangat rentan karena ketergantungan pada stabilitas Teluk
Sikap di Organisasi Tetap bertahan di dalam koalisi Memilih keluar dari keanggotaan OPEC

Tabel di atas memperlihatkan bagaimana dua kekuatan besar di Teluk ini menempuh jalan yang sangat berbeda. Perbedaan orientasi ini dipicu oleh kebutuhan keamanan nasional serta perlindungan terhadap sektor ekonomi masing-masing negara.

Penasihat Presiden UEA, Anwar Gargash, secara terang-terangan melontarkan kekecewaannya terhadap lemahnya respons organisasi regional. Menurutnya, kegagalan dalam membentuk front persatuan hanya akan membuat posisi negara-negara Teluk semakin terjepit oleh dominasi Iran.

Artikel terkait

Rekomendasi