Ubah Perilaku Warga, Eri Irawan Gagas Sekolah Sampah Surabaya Terbaru 2026

Ubah Perilaku Warga, Eri Irawan Gagas Sekolah Sampah Surabaya Terbaru 2026
Foto: Ubah Perilaku Warga, Eri Irawan Gagas Sekolah Sampah Surabaya Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya, Eri Irawan, secara resmi memperkenalkan inisiatif baru bernama Sekolah Sampah. Program ini dirancang khusus untuk membangun kesadaran lingkungan sekaligus menggeser paradigma masyarakat dalam mengelola limbah domestik.

Gagasan ini lahir dari keprihatinan mendalam Eri terhadap kondisi darurat sampah yang dihadapi oleh Kota Pahlawan. Setiap harinya, volume sampah yang dihasilkan warga Surabaya mencapai angka yang cukup fantastis, yakni sekitar 1.800 ton.

Eri Irawan menegaskan bahwa tanggung jawab penanganan sampah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pundak pemerintah daerah saja. Menurutnya, partisipasi aktif dari seluruh lapisan elemen masyarakat sangat krusial untuk menciptakan perubahan yang nyata.

Ia menyampaikan pandangannya pada Kamis (21/5), bahwa kebiasaan membuang sampah dengan cara lama sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Tantangan pengelolaan limbah saat ini sudah mencapai tahap yang sangat serius, baik di Surabaya maupun kota-kota besar lain di Indonesia.

Beberapa faktor utama yang mendasari pentingnya program Sekolah Sampah ini antara lain:

  • Volume limbah harian Surabaya yang menyentuh angka 1.800 ton setiap harinya.
  • Dominasi sampah organik yang mencapai hampir 60 persen dari total timbulan sampah kota.
  • Ketergantungan yang tinggi pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sebagai solusi akhir.
  • Minimnya kesadaran untuk melakukan pemilahan limbah secara mandiri di tingkat rumah tangga.
  • Risiko lingkungan akibat gas metana yang dihasilkan dari sampah organik yang tidak terkelola.

Eri menjelaskan bahwa limbah dapur dan sisa makanan yang mendominasi sampah kota memiliki dampak buruk bagi atmosfer. Jika terus dibiarkan tanpa pengolahan yang tepat, tumpukan sampah organik tersebut akan melepaskan gas metana ke udara.

Dampaknya tidak main-main, karena gas ini menjadi salah satu pemicu krisis iklim yang memperburuk kondisi pemanasan global. Selain itu, limbah yang tidak terurus juga berkontribusi langsung pada meningkatnya tingkat pencemaran lingkungan di pemukiman warga.

Ketua Komisi C ini mendorong adanya perubahan pola pikir (mindset) dari sistem pembuangan konvensional menuju sistem pengolahan di sumbernya. Pengolahan ini idealnya dimulai dari lingkup terkecil seperti rumah tangga, sekolah, hingga komunitas di tingkat RT dan RW.

Eri mengingatkan bahwa sampah yang dikeluarkan dari rumah tidaklah hilang begitu saja ke udara. Limbah tersebut hanya berpindah tempat dan berpotensi menjadi masalah baru yang lebih besar bagi orang lain atau lingkungan jika tidak segera ditangani.

Sebagai langkah konkret, berikut adalah rincian pelaksanaan dan materi yang akan dibahas dalam program Sekolah Sampah:

Aspek Program Detail Informasi
Tanggal Peluncuran Sabtu, 23 Mei 2026
Frekuensi Kegiatan Dilaksanakan secara rutin setiap bulan
Target Peserta Masyarakat umum, komunitas, dan lingkungan sekolah
Materi Utama Teknik pemilahan dan pengolahan sampah organik sederhana
Tujuan Utama Edukasi perubahan perilaku pengelolaan sampah rumah tangga

Tabel di atas merinci jadwal perdana dan fokus utama dari Sekolah Sampah yang digagas oleh legislatif Surabaya. Program ini diharapkan menjadi wadah edukatif yang mampu menjangkau banyak lapisan masyarakat secara berkelanjutan.

Dalam sesi pelaksanaannya nanti, para peserta tidak hanya sekadar mendengarkan teori mengenai kebersihan lingkungan. Mereka akan diajarkan praktik langsung mengenai cara memilah sampah sejak dari dapur mereka masing-masing.

Selain pemilahan, edukasi mengenai pengolahan sampah organik menjadi hal yang sangat ditekankan oleh Eri Irawan. Dengan teknik sederhana, limbah sisa makanan sebenarnya bisa diubah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat daripada sekadar dibuang ke tempat sampah.

Eri optimis bahwa tanpa adanya gerakan masif yang berbasis pada pengolahan sampah di sumbernya, krisis sampah tidak akan pernah tuntas. Persoalan ini akan terus menghantui kota selama masyarakat belum sadar akan pentingnya meminimalkan limbah yang keluar dari rumah.

Upaya yang dilakukan DPRD Surabaya melalui Sekolah Sampah ini diharapkan menjadi pionir bagi kota-kota lain dalam menangani masalah serupa. Perubahan perilaku kecil dari setiap individu diyakini mampu membawa dampak signifikan bagi kelestarian lingkungan Surabaya di masa depan.

Inisiatif ini juga sejalan dengan upaya global dalam menekan emisi gas rumah kaca melalui manajemen limbah yang lebih modern. Kesadaran warga untuk mulai mengelola sampahnya sendiri menjadi kunci utama keberhasilan kota dalam mencapai target pembangunan yang berkelanjutan.

Artikel terkait

Rekomendasi