Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ancaman akan menyerang Iran dalam beberapa hari mendatang. Langkah ini dilakukan untuk menekan Teheran agar menyetujui perjanjian damai yang diusulkannya.
Gencatan senjata yang sempat terjalin kini berada di ambang kehancuran. Hal ini terjadi hanya sehari setelah Trump mengaku telah membatalkan serangan udara ke Iran.
Saya berharap kita tidak harus memulai perang semacam ini, tetapi mungkin harus memberikan satu serangan besar lagi, ujar Trump pada Selasa (19/5).
Ketika ditanya kapan ia menunggu perkembangan negosiasi, Trump menambahkan, Minimal dalam dua atau tiga hari ke depan, mungkin Jumat, Sabtu, Minggu, atau di awal pekan depannya.
Pernyataan ini menimbulkan kekhawatiran global akan pecahnya konflik terbuka dengan Iran. Hingga kini, Teheran tetap menolak menyerahkan sisa-sisa elemen program nuklir mereka.
Trump dikenal sering mengancam, namun kerap kali menarik kembali keputusannya seperti yang terjadi setelah gencatan senjata pada 8 April lalu.
Di sisi lain, Senat AS yang dikuasai oleh Partai Republik menunjukkan penolakan untuk melanjutkan konflik ini. Pada Selasa malam, mereka melakukan pemungutan suara prosedural untuk menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak perang yang membebani keuangan publik Amerika Serikat.
Berita Terkait:
- Bursa Asia Menghijau usai Trump Tunda Serangan ke Iran - Market
- Trump Tunda Serangan Baru ke Iran usai Permohonan Negara Teluk - Global
- PLTN UEA Diserang Drone, Trump Beri Ultimatum Keras ke Iran - Global
- Ekonomi Thailand Q1-2026 Tumbuh, Terancam Melambat Akibat Perang - Global
Lainnya:
- Harga Emas Termurah dalam Hampir 2 Bulan, Jual atau Beli? - Market
- Apjatel: Rupiah Anjlok Tekan Industri IT Tanah Air - Teknologi
- Rekayasa Lalu Lintas di Harmoni Selama Proyek Stasiun MRT - Sektor Riil
- OJK Terima Arahan Khusus dari Luhut, Ada Reformasi Pasar Modal - Market