Kawasan Wisata Jatiluwih di Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali, kini tengah mengalami pergeseran profil wisatawan yang berkunjung. Jika sebelumnya area persawahan ikonik ini dipadati turis asal Eropa dan Amerika, saat ini trennya mulai beralih.
Kini, wisatawan asal Asia serta wisatawan domestik tercatat mulai mendominasi kunjungan di destinasi tersebut. Perubahan ini dipicu oleh situasi geopolitik global, terutama dampak dari konflik yang tengah berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Dampak Konflik Timur Tengah Terhadap Kunjungan
I Ketut Purna, Manajer Operasional DTW Jatiluwih, mengungkapkan bahwa sebelum ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mencuat, komposisi turis sangat timpang. Saat itu, sekitar 80 persen pengunjung berasal dari negara-negara Barat.
Namun, angka tersebut kini mulai menyusut seiring dengan ketidakpastian kondisi dunia. Sisanya, yang hanya sekitar 20 persen, merupakan gabungan antara wisatawan Asia dan pelancong lokal dari berbagai daerah di Indonesia.
Pada bulan Mei lalu, perbandingan jumlah wisatawan Barat menurun menjadi 70 persen, sementara kategori campuran meningkat ke angka 30 persen. Ketut Purna memprediksi tren ini akan terus berlanjut pada bulan Juni.
Ia memperkirakan persentase wisatawan asal Asia dan domestik bisa menyentuh angka 40 persen. Hal ini menunjukkan bahwa Jatiluwih semakin diminati oleh pasar yang lebih dekat secara geografis.
Penyebab Kenaikan Harga Tiket Pesawat
Purna menjelaskan bahwa konflik di Timur Tengah secara langsung memengaruhi biaya perjalanan udara menuju Bali. Maskapai penerbangan dari Eropa dan Amerika terpaksa mengambil rute lebih jauh untuk menghindari wilayah konflik.
Penyesuaian rute ini berdampak pada durasi terbang yang lebih lama dan konsumsi bahan bakar yang membengkak. Akibatnya, harga tiket pesawat menuju Indonesia meroket dan menjadi beban bagi calon pelancong mancanegara.
Berikut adalah ringkasan perubahan komposisi wisatawan di Jatiluwih berdasarkan data operasional:
| Periode Waktu | Wisatawan Barat (Eropa/AS) | Wisatawan Asia & Domestik |
|---|---|---|
| Sebelum Konflik | 80 Persen | 20 Persen |
| Mei 2026 | 70 Persen | 30 Persen |
| Juni 2026 (Prediksi) | 60 Persen | 40 Persen |
Data di atas memperlihatkan tren penurunan jumlah turis Barat yang diimbangi dengan pertumbuhan pasar Asia dan domestik dalam tiga periode waktu terakhir.
Peluang di Tengah Pelemahan Rupiah
Di sisi lain, kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan akibat melemahnya nilai tukar rupiah. Namun, pria yang akrab disapa John ini melihat adanya peluang tersembunyi di balik situasi tersebut.
Menurutnya, nilai rupiah yang melemah membuat biaya hidup dan liburan di Indonesia menjadi jauh lebih murah bagi warga asing. Hal ini seharusnya bisa menjadi daya tarik tambahan bagi turis mancanegara untuk datang.
Meskipun ada potensi kenaikan minat, John mengaku lonjakan jumlah kunjungan yang signifikan belum terlihat hingga saat ini. Faktor utama yang menjegal antusiasme turis tetaplah harga tiket pesawat yang masih melambung tinggi.
Ia menegaskan bahwa mahalnya ongkos penerbangan menjadi hambatan terbesar bagi sektor pariwisata saat ini. Pihak pengelola berharap kondisi global segera membaik agar arus wisatawan kembali normal seperti sedia kala.