Pada awal dekade mendatang, tenaga surya diprediksi menjadi sumber energi utama di seluruh dunia, demikian menurut analisis BloombergNEF. Laporan terbaru ini menyoroti peningkatan permintaan listrik karena pesatnya perkembangan pusat data, pertumbuhan populasi, meningkatnya pendapatan, dan semakin banyaknya kendaraan listrik.
Pertumbuhan permintaan ini dinyatakan dalam laporan tahunan Prospek Energi Baru BNEF yang dirilis pada Selasa. Elektrifikasi yang cepat dipandang akan mempercepat peralihan menuju energi bersih oleh para peneliti.
“Dalam beberapa tahun terakhir, sistem energi global menghadapi tiga guncangan besar; pandemi Covid-19, konflik di Ukraina, dan baru-baru ini, perselisihan di Teluk Persia,” ungkap para analis BNEF. Mereka menambahkan bahwa guncangan ini mungkin mendukung transisi menuju alternatif yang lebih ramah lingkungan seiring negara-negara ingin mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.
Pendorong Permintaan Listrik
Data BNEF mencakup dua skenario masa depan yang bersifat potensial. Pertama, Skenario Transisi Ekonomi (ETS) yang mempertimbangkan kejadian paling mungkin berdasarkan tren ekonomi global.
Skenario ini memperhitungkan faktor-faktor pendorong permintaan listrik yang lebih tinggi di masa depan. Mengingat meningkatnya elektrifikasi, pertimbangan ini sangat penting bagi kebijakan energi dunia.
Artikel Terkait
- Produsen Polisilikon China Beralih dari Surya ke Material Baterai
- Ekspor Sel Surya China Tetap Tangguh Meski Insentif Pajak Dihapus
- Panel Surya di Eropa Sangat Besar, Listrik Terbuang Sia-Sia
- Studi: Polusi Batu Bara Rugikan Produksi Energi Surya Global
- PLN Indonesia Power Bidik Proyek PLTS 495 MW di Bangladesh
Pemahaman lebih lanjut tentang kebutuhan listrik dan energinya memberikan gambaran bagaimana masa depan energi bersih akan berkembang, terutama ketika dunia menghadapi tantangan lingkungan yang menuntut perhatian serius.