PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk tengah bersiap melakukan langkah strategis dengan menutup sepuluh anak usahanya pada akhir Juni 2026 mendatang. Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari upaya penguatan strategi bisnis berkelanjutan yang dijalankan oleh perusahaan telekomunikasi pelat merah tersebut.
Langkah perampingan ini dilakukan sejalan dengan instruksi dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara. Sebagai lembaga superholding yang mengelola aset strategis negara, Danantara mendorong efisiensi di tubuh badan usaha milik negara.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, mengonfirmasi adanya desakan dari pihak Danantara terkait restrukturisasi ini. Pihaknya diminta segera mengonsolidasi unit bisnis yang selama ini dinilai memiliki fungsi yang tumpang tindih satu sama lain.
Meski rencana ini sudah dipastikan, Seno masih enggan membeberkan daftar rinci anak perusahaan yang akan masuk dalam program perampingan tersebut. Proyek penghematan atau streamlining ini merupakan bagian krusial dari strategi jangka panjang perusahaan yang dikenal dengan kode TLKM 30.
Walaupun detail nama perusahaan belum diumumkan, Seno memberikan gambaran mengenai kriteria anak usaha yang akan terdampak kebijakan penutupan ini. Fokus utama penyisiran dilakukan terhadap unit bisnis yang dianggap tidak lagi efisien secara operasional maupun finansial.
Berikut adalah kriteria utama yang menentukan anak usaha Telkom akan ditutup atau dihentikan operasionalnya:
- Anak perusahaan yang mencatatkan kinerja keuangan negatif atau merugi selama dua tahun berturut-turut.
- Unit bisnis yang menjalankan model usaha yang saling beririsan atau memiliki kesamaan fungsi dengan anak usaha lainnya.
Kriteria di atas digunakan untuk memastikan bahwa struktur organisasi Telkom menjadi lebih ramping dan gesit. Melalui seleksi ketat ini, perusahaan diharapkan hanya mempertahankan unit bisnis yang memiliki potensi pertumbuhan kuat di masa depan.
Seno menjelaskan bahwa saat ini Telkom masih menaungi sebanyak 67 perusahaan di bawah struktur grupnya yang sangat luas. Namun, setelah mendapat mandat dari Danantara, jumlah tersebut harus segera dikurangi secara signifikan dalam waktu dekat.
Targetnya, pada akhir Juni nanti, sebanyak 10 anak usaha akan resmi ditutup dari struktur kepemilikan perseroan. "Akhir Juni, Telkom diminta menutup 10 anak usaha dari posisi saat ini yang mencapai 67 perusahaan," ujar Seno dalam acara Media Update di Jakarta.
Keputusan besar ini diambil di tengah dinamika sektor teknologi digital yang terus berubah dengan sangat cepat. Efisiensi lini bisnis menjadi harga mati bagi Telkom agar tetap kompetitif dan mampu memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan.
Pihak manajemen percaya bahwa dengan struktur yang lebih fokus, pertumbuhan berkelanjutan akan lebih mudah dicapai oleh perusahaan. Hal ini juga menjadi respon terhadap berbagai tantangan industri, termasuk perlunya optimalisasi modal pada sektor-sektor yang paling menguntungkan.
Upaya pembersihan portofolio bisnis ini juga tidak lepas dari pantauan ketat lembaga tinggi negara seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Sebelumnya, BPK sempat memberikan catatan terkait potensi risiko investasi pada beberapa lini bisnis di lingkungan Telkom Group.
Oleh karena itu, penataan ulang ini diharapkan dapat memitigasi risiko kerugian di masa depan serta memperbaiki profil risiko perusahaan secara keseluruhan. Transformasi digital yang diusung Telkom membutuhkan dukungan organisasi yang sehat dan tidak terbebani oleh unit bisnis yang tidak produktif.
Sebagai rangkuman, berikut adalah perbandingan jumlah anak usaha Telkom sebelum dan sesudah rencana penutupan dilakukan:
| Status Organisasi | Jumlah Anak Perusahaan | Target Penyelesaian |
|---|---|---|
| Posisi Saat Ini (Mei 2026) | 67 Perusahaan | Sedang Berjalan |
| Target Penutupan | 10 Perusahaan | Juni 2026 |
| Estimasi Pasca Perampingan | 57 Perusahaan | Juli 2026 |
Data tabel di atas menunjukkan komitmen Telkom dalam merespons arahan pemerintah untuk menyederhanakan struktur BUMN. Dengan berkurangnya jumlah entitas, pengawasan dan koordinasi di internal grup diharapkan menjadi jauh lebih efektif.
Perampingan ini merupakan kelanjutan dari berbagai kebijakan strategis yang sebelumnya telah dilakukan oleh manajemen Telkom. Sepanjang tahun 2025 dan awal 2026, Telkom sebenarnya telah menunjukkan performa yang cukup tangguh di pasar modal.
Perusahaan mencatatkan total shareholder return yang mencapai angka 35,7 persen, sebuah prestasi yang membanggakan di tengah tekanan ekonomi global. Namun, manajemen tidak ingin cepat berpuas diri dan terus mendorong transformasi agar kinerja tersebut tetap stabil dalam jangka panjang.
Di sisi lain, Telkom juga terus memperkuat infrastruktur konektivitas di berbagai wilayah Indonesia, termasuk pembangunan hub digital di Papua. Langkah efisiensi melalui penutupan anak usaha ini nantinya akan dialokasikan untuk mendukung proyek-proyek strategis nasional tersebut.
Dengan menutup unit yang tidak efisien, Telkom dapat mengalihkan sumber dayanya untuk memperkuat jaringan global dan domestik. Fokus ini sejalan dengan visi perusahaan untuk menjadi pemimpin dalam orkestrasi ekosistem digital di tanah air.