Survei terbaru mengungkapkan bahwa 4 dari 10 baby boomers kaya di Asia tidak memiliki rencana suksesi kekayaan. Meski banyak yang ingin melestarikan kekayaan mereka untuk generasi berikutnya, mereka belum mendiskusikan pengalihan ini dengan keluarga atau membangun struktur tata kelola resmi, menurut sebuah survei oleh bank swasta yang berbasis di Jenewa.
Baby boomers adalah generasi yang lahir antara tahun 1946 dan 1964. Berdasarkan survei Banque Lombard Odier & Cie SA asal Swiss, hanya 26,9% dari individu kaya yang disurvei di kawasan Asia-Pasifik yang memiliki rencana suksesi lengkap. Sementara itu, 39,4% dari mereka sama sekali tidak memiliki perencanaan suksesi ini.
Laporan tersebut menyoroti bahwa generasi lebih tua cenderung memiliki kendali penuh atas keputusan investasi mereka. Namun, ini juga mencerminkan tingkat kepuasan diri terhadap perencanaan suksesi menurut survey tersebut.
Berita Terkait
- Mata Uang Asia: Tertekan akibat kenaikan harga minyak, Rupiah offshore hampir menyentuh Rp17.900 per US Dollar.
- Bursa Asia: Bersiap melemah setelah pernyataan negatif Trump mengenai Iran.
- Musim Panas Ekstrem: Asia menghadapi risiko melonjaknya harga gas.
Banyak berita lain yang relevan di kondisi ini, mengingat dampak dari berbagai perkembangan politik dan ekonomi global. Di antaranya, negosiasi kerja sama antara Kenya dan AS mengenai Ebola, serta penerapan karantina 21 hari di Thailand bagi pelancong yang berasal dari wilayah terdampak virus tersebut.
Artikel Populer
- Terseret dugaan pelanggaran ekspor, Grup Wilmar terkapar.
- Grup GOTO berisiko didepak dari MSCI akibat masalah likuiditas.
- Aparat berhasil menggagalkan ekspor logam tanah jarang seberat 390 ton di Batam.
Berbagai berita ini memberikan gambaran mengenai dinamika ekonomi dan sosial yang berkembang di kawasan. Dari isu kesehatan hingga fluktuasi ekonomi, semua terjadi dengan latar belakang gejolak global yang terus berubah.
```