Perkembangan ancaman siber yang kini semakin canggih menuntut adanya sistem keamanan digital yang terintegrasi dan lebih kuat. Transformasi digital yang berlangsung sangat cepat di tanah air turut membuka celah risiko serangan bagi berbagai sektor krusial.
Mulai dari sektor industri, layanan publik, kesehatan, hingga perbankan kini menjadi sasaran empuk serangan siber. Fenomena ini mendorong Fortinet, perusahaan keamanan siber global, untuk mempererat kolaborasi lintas sektor demi memperkokoh pertahanan digital nasional.
Fortinet menekankan bahwa tantangan keamanan siber di era modern tidak bisa lagi diatasi secara terpisah-pisah. Dibutuhkan sinergi yang melibatkan pemerintah, pelaku industri, lembaga pendidikan, hingga para penyedia teknologi keamanan.
Edwin Lim, Country Director Fortinet Indonesia, menyatakan bahwa penguatan keamanan siber nasional memerlukan konsistensi kerja sama dari seluruh elemen. Hal ini menjadi sangat krusial mengingat ancaman siber berkembang pesat, terutama dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).
Edwin Lim menegaskan pentingnya kolaborasi bersama dalam menjaga ruang digital :
- Keamanan siber bukan lagi sekadar persoalan teknis di departemen IT.
- Hal ini telah menjadi tanggung jawab kolektif seluruh pemangku kepentingan.
- Kecepatan dalam berkolaborasi akan menentukan kekuatan ketahanan digital Indonesia.
- Adaptasi terhadap teknologi baru menjadi kunci dalam menghadapi peretas.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran akan keamanan digital harus dimulai dari level kepemimpinan hingga operasional. Semakin padu kerja sama yang dibangun, maka risiko kebocoran data dapat diminimalisir secara efektif.
Kolaborasi Strategis dengan Lembaga Pemerintah
Dalam upayanya, Fortinet telah lama menjalin kemitraan strategis dengan berbagai instansi pemerintah di Indonesia. Lembaga seperti Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Kementerian Perindustrian, hingga Kementerian Perdagangan menjadi mitra utama mereka.
Kerja sama ini diwujudkan melalui serangkaian program edukasi dan sosialisasi keamanan siber yang menyasar berbagai daerah. Fokus utamanya adalah membekali sektor-sektor strategis dengan pengetahuan mengenai perlindungan data yang mumpuni.
Edwin menjelaskan bahwa kolaborasi ini sebenarnya sudah berjalan jauh sebelum masa pandemi Covid-19 melanda. Kala itu, Fortinet terlibat aktif memberikan pemahaman mengenai keamanan digital dalam kerangka Industri 4.0.
Pihaknya memberikan dukungan berupa keahlian teknis (expertise) untuk memastikan transformasi industri berjalan aman. Sebab, keamanan digital kini sudah menjadi fondasi utama dalam setiap langkah modernisasi industri di tanah air.
Tak hanya melalui jalur formal, Fortinet juga menginisiasi berbagai forum diskusi yang melibatkan banyak pemangku kepentingan. Pesertanya meliputi instansi layanan publik seperti BPJS Kesehatan hingga para pelaku industri manufaktur besar.
Melalui forum tersebut, para peserta dapat bertukar pikiran mengenai solusi atas kompleksitas tantangan keamanan yang dihadapi. Diskusi ini bertujuan mencari jalan keluar atas ancaman digital yang terus bertransformasi setiap harinya.
Kompleksitas Sistem Jadi Kendala Utama
Menurut pandangan Edwin, salah satu hambatan terbesar saat ini bukanlah jumlah serangan, melainkan kerumitan pengelolaan sistem keamanan. Banyak organisasi yang masih menerapkan sistem keamanan secara terpisah atau bersifat silo.
Banyak perusahaan memiliki kebiasaan membeli solusi keamanan yang berbeda-beda untuk setiap kebutuhan spesifik. Misalnya, mereka menggunakan vendor berbeda untuk perlindungan email, firewall, perlindungan titik akhir (endpoint), hingga pemantauan jaringan.
Dampak dari penggunaan terlalu banyak perangkat keamanan yang tidak terintegrasi antara lain :
- Jumlah perangkat dan merek yang terlalu banyak membuat sistem sulit dikelola secara efisien.
- Proses pengawasan keamanan menjadi lebih lambat dan tidak responsif.
- Tim IT mengalami kesulitan dalam mempelajari dan mengoperasikan berbagai tools yang berbeda.
- Investasi teknologi menjadi kurang optimal karena adanya tumpang tindih fungsi.
Kondisi ini membuat tim keamanan siber di dalam perusahaan seringkali kewalahan menghadapi operasional harian. Hal ini justru bisa menjadi celah yang dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk masuk.
Saat ini, tren industri keamanan mulai bergeser ke arah pendekatan berbasis platform yang lebih menyatu. Edwin menyebutkan bahwa integrasi sistem memungkinkan perusahaan menyederhanakan manajemen keamanan tanpa mengurangi tingkat perlindungan.
Lembaga riset internasional seperti Gartner dan IDC juga telah menyarankan agar perusahaan mulai melakukan konsolidasi vendor. Tujuannya agar sistem keamanan menjadi lebih ramping, efisien, dan mudah dipantau secara terpusat.
Pendekatan berbasis platform ini dinilai sebagai jawaban paling tepat untuk menghadapi dinamika ancaman siber masa kini. Berdasarkan data dari studi Fortinet bersama Forrester Consulting, banyak organisasi di wilayah Asia Pasifik yang mengeluhkan kerumitan arsitektur keamanan mereka.
Berikut adalah ringkasan tantangan operasional keamanan siber menurut studi terbaru :
| Jenis Tantangan Keamanan | Persentase Organisasi |
|---|---|
| Kompleksitas perangkat dan arsitektur sistem | 64 Persen |
| Kesulitan menangani volume peringatan (alert) yang besar | 46 Persen |
| Masih mengandalkan proses penanganan manual | 43 Persen |
Data di atas menunjukkan bahwa ketergantungan pada proses manual dan sistem yang rumit membuat organisasi rentan. Serangan digital yang bergerak sangat cepat seringkali gagal dideteksi karena sistem yang tidak efisien.
Peran Strategis AI dan Penguatan SDM
Di tengah pesatnya teknologi, kecerdasan buatan atau AI mulai memegang peranan vital dalam arsitektur keamanan modern. Fortinet memandang AI sebagai alat yang mampu mempercepat deteksi ancaman dan menentukan prioritas peringatan keamanan.
Meski sangat membantu, Edwin menegaskan bahwa teknologi AI tidak akan bisa menggantikan posisi manusia sepenuhnya. Keputusan akhir tetap membutuhkan konteks dan pertimbangan matang yang hanya dimiliki oleh manusia.
AI bertugas mempercepat proses kerja teknis, namun pengawasan dan pengambilan kebijakan tetap berada di tangan profesional keamanan siber. Sebab, AI tidak memiliki pemahaman konteks sosial atau perasaan seperti yang dimiliki manusia.
Fortinet sendiri mengklaim telah menerapkan teknologi berbasis AI jauh sebelum tren ini populer di masyarakat luas. Teknologi ini digunakan untuk mendukung sistem otomatisasi keamanan serta mempercepat proses pemecahan masalah teknis.
Namun, Edwin mengingatkan bahwa penggunaan AI tanpa tata kelola yang baik justru bisa memicu risiko baru. Masih banyak organisasi yang belum memahami batasan dan kemampuan asli dari teknologi kecerdasan buatan tersebut.
Banyak yang salah kaprah dengan menganggap AI bisa melakukan segala hal secara otomatis tanpa pengawasan. Padahal, intervensi manusia dan tata kelola yang kuat tetap menjadi syarat mutlak agar AI bekerja secara aman.
Selain fokus pada pengembangan teknologi, Fortinet juga memberikan perhatian khusus pada kualitas sumber daya manusia (SDM). Perusahaan membantu klien mereka untuk mengenali seberapa dalam tingkat kerentanan sistem yang mereka miliki.
Melalui proses diskusi, Fortinet membantu organisasi menentukan skala prioritas masalah yang harus segera ditangani. Hal ini penting agar langkah perlindungan yang diambil tepat sasaran dan efektif.
Layanan pendukung yang disediakan Fortinet untuk pelanggan secara cuma-cuma meliputi :
- Layanan konsultasi keamanan siber secara mendalam.
- Program pelatihan teknis bagi tim operasional IT.
- Edukasi berkala mengenai tren ancaman terbaru.
- Sertifikasi keamanan siber untuk meningkatkan kompetensi SDM.
Upaya ini dilakukan agar setiap investasi teknologi yang dikeluarkan oleh perusahaan dapat memberikan hasil maksimal. Edwin berpendapat bahwa secanggih apa pun teknologinya, efektivitasnya tetap bergantung pada manusia yang mengoperasikannya.
Ke depan, Fortinet memprediksi kebutuhan akan sistem keamanan yang otomatis dan kolaboratif akan terus meningkat. Hal ini sejalan dengan percepatan digitalisasi nasional yang sedang digalakkan oleh pemerintah Indonesia.
Sinergi antara pemerintah, industri, media, dan dunia pendidikan diharapkan terus menguat di masa mendatang. Harapannya, Indonesia dapat memiliki ketahanan digital yang kokoh, tangguh, dan berkelanjutan menghadapi segala bentuk ancaman siber.