Berbeda dengan sejumlah petinggi perusahaan teknologi yang mendapat reaksi negatif saat membahas kecerdasan buatan, pendiri Apple, Steve Wozniak, justru menuai pujian. Momen menarik ini terjadi ketika ia memberikan pidato dalam acara wisuda di Grand Valley State University, Michigan, Amerika Serikat.
Dalam kesempatan tersebut, Wozniak menyampaikan sebuah pesan yang sangat berkesan bagi para lulusan baru mengenai potensi diri mereka. Ia menyatakan bahwa setiap mahasiswa sebenarnya sudah memiliki "AI" di dalam diri mereka sendiri sejak lama.
Namun, istilah "AI" yang ia maksud bukanlah Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan yang saat ini sedang menjadi tren global. Wozniak menegaskan bahwa apa yang dimiliki oleh para lulusan adalah Actual Intelligence atau kecerdasan yang nyata.
Pernyataan tersebut langsung disambut dengan sorak-sorai dan tepuk tangan meriah dari seluruh audiens yang hadir di lokasi. Pesan ini dianggap sangat segar karena menempatkan manusia sebagai pusat utama, bukan sekadar mesin atau algoritma teknologi.
Kontras Antara Kecerdasan Nyata dan Teknologi
Wozniak dinilai berhasil menyentuh hati para mahasiswa karena ia memosisikan kemampuan intelektual lulusan di atas perkembangan teknologi otomatisasi. Pendekatan ini sangat berbeda dari para eksekutif teknologi lain yang sering kali menggembar-gemborkan dominasi AI.
Reputasi Wozniak sebagai tokoh yang lebih dekat dengan dunia teknik dan kreativitas memperkuat pesan yang ia sampaikan tersebut. Sejak awal mendirikan Apple bersama Steve Jobs, ia memang dikenal lebih mencintai dunia teknik dibandingkan urusan manajemen bisnis.
Ketertarikannya pada aspek engineering membuat pandangannya dianggap lebih tulus dan humanis oleh generasi muda saat ini. Ia bahkan pernah menolak jabatan eksekutif di masa lalu demi tetap bisa fokus pada pekerjaan teknis yang ia sukai.
Perbandingan Reaksi Terhadap Tokoh Teknologi Lain
Respons positif yang diterima Wozniak sangat berbanding terbalik dengan pengalaman mantan CEO Google, Eric Schmidt, di universitas lain. Saat berpidato di Universitas Arizona, Schmidt justru mendapatkan cemoohan dari para mahasiswa yang hadir di sana.
Beberapa poin utama yang membedakan pendekatan kedua tokoh teknologi tersebut antara lain:
- Fokus Pidato: Wozniak mengedepankan kemampuan manusiawi (Actual Intelligence), sementara Schmidt fokus pada potensi transformasi mesin.
- Analogi yang Digunakan: Schmidt menggunakan metafora roket untuk menggambarkan kecepatan perkembangan AI yang harus segera diikuti.
- Sudut Pandang Lulusan: Wozniak memuji kesiapan intelektual mahasiswa, sedangkan Schmidt lebih mendorong mereka untuk tidak ketinggalan tren teknologi.
Perbedaan reaksi ini menunjukkan adanya kejenuhan atau kekhawatiran di kalangan mahasiswa terhadap narasi teknologi yang dianggap mengancam peran manusia. Penjelasan singkat mengenai perbandingan situasi ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Ringkasan perbandingan pidato tokoh teknologi pada acara wisuda:
| Tokoh Teknologi | Lokasi Pidato | Tema Utama | Respons Audiens |
|---|---|---|---|
| Steve Wozniak | Grand Valley State University | Actual Intelligence (Kecerdasan Nyata) | Tepuk tangan dan dukungan |
| Eric Schmidt | University of Arizona | Potensi Transformasi AI (Kecerdasan Buatan) | Cemoohan dan sorakan negatif |
Tabel di atas memperlihatkan bagaimana audiens kampus saat ini cenderung lebih menghargai apresiasi terhadap nilai kemanusiaan dibandingkan dorongan teknologi. Schmidt bahkan sempat mengimbau para lulusan untuk segera "naik ke roket" AI tanpa perlu banyak bertanya soal posisi mereka.
Fenomena ini mencerminkan pergeseran perspektif di dunia pendidikan tinggi mengenai bagaimana kecerdasan buatan seharusnya disikapi. Para lulusan tampaknya lebih membutuhkan validasi atas kerja keras intelektual mereka dibandingkan sekadar arahan untuk menjadi bagian dari industri teknologi.