Setu Asih Pulo yang berlokasi di Depok kini tampil menawan dengan suasana asri yang dikelilingi pepohonan hijau nan rindang. Udara yang sejuk dan jauh dari kebisingan kendaraan menjadikannya tempat favorit baru bagi warga setempat untuk berolahraga maupun sekadar bersantai.
Kawasan ini kini memiliki identitas visual yang mencolok melalui papan nama besar berwarna merah yang terpasang pada pagar batu. Keindahan area wisata air ini semakin lengkap dengan pagar besi berwarna kuning serta jalur pedestrian dari batu paving yang tertata sangat rapi.
Ironi di Balik Keindahan Revitalisasi Setu Asih Pulo
Meskipun tampilannya kini terlihat jauh lebih modern dan estetik, ternyata ada persoalan serius yang menghantui warga sekitar. Fasilitas yang nampak rapi tersebut justru dituding menjadi salah satu faktor pemicu banjir di permukiman penduduk.
Berdasarkan informasi dari akun media sosial Kementerian Pekerjaan Umum, proyek perbaikan Setu Asih Pulo ini selesai dikerjakan pada tahun 2023 silam. Pembangunan tersebut menghabiskan anggaran yang fantastis dari APBN 2022 melalui Kementerian PUPR dengan nilai mencapai Rp 36,9 miliar.
Rincian mengenai pelaksanaan dan sumber pendanaan proyek tersebut adalah sebagai berikut:
- Anggaran total proyek mencapai Rp 36,9 miliar yang bersumber dari dana APBN tahun 2022.
- Pelaksanaan teknis dilakukan oleh SNVT Pembangunan Bendungan di bawah naungan BBWS Ciliwung Cisadane.
- Tujuan utama awalnya adalah peningkatan kualitas lingkungan, namun kini justru memicu risiko banjir baru bagi warga.
Data di atas menunjukkan bahwa besarnya anggaran yang dikeluarkan ternyata belum sejalan dengan efektivitas fungsi penanggulangan bencana di lapangan. Peningkatan fasilitas fisik nampaknya lebih diprioritaskan dibandingkan sistem drainase yang mendasar.
Keluhan Pengawas dan Dugaan Kegagalan Infrastruktur
Muhammad Hasan, pria berusia 62 tahun yang bertugas sebagai pengawas setu, menceritakan panjangnya proses pengajuan revitalisasi ini. Menurutnya, dibutuhkan waktu hingga tiga tahun agar usulan perbaikan tersebut akhirnya disetujui dan direalisasikan oleh pemerintah pusat.
Pada awalnya, kondisi setu memang sangat memprihatinkan karena dipenuhi oleh tumbuhan gulma dan alga yang sangat lebat. Hasan bersama komunitas lokal berinisiatif mencari bantuan dana untuk membersihkan masalah tanaman air tersebut agar setu kembali berfungsi dengan baik.
Namun, Hasan merasa kecewa karena hasil akhir proyek infrastruktur ini dianggap kurang memperhatikan aspek ekologi dan manajemen air. Ia menilai pembangunan lebih banyak fokus pada polesan tampilan luar seperti pemasangan paving blok dan pagar besi saja.
Berikut adalah poin-poin kritikan Hasan mengenai kualitas pengerjaan proyek tersebut:
- Hasan menduga nilai fisik pekerjaan sebenarnya tidak mencapai puluhan miliar rupiah, melainkan hanya di kisaran Rp 7 miliar.
- Aliran air yang seharusnya diteruskan hingga ke area Perumahan Maharaja ternyata terhenti begitu saja setelah pengerjaan sepanjang 100 meter.
- Proses normalisasi aliran air dianggap buntu karena pengerjaan drainase tidak diselesaikan secara menyeluruh ke hilir.
- Saluran air yang baru dibuat memiliki kedalaman yang sangat dangkal, bahkan ada yang tidak sampai setengah meter.
Segala kekurangan teknis ini berdampak langsung pada kenyamanan warga sekitar saat musim hujan tiba. Kedangkalan saluran drainase membuat air mudah meluap dan merendam rumah-rumah penduduk, khususnya di wilayah RT 5.
Kendala Lapangan dan Masalah Biaya Tambahan
Sebagai orang yang paham kondisi lapangan, Hasan sebenarnya sudah berkali-kali menunjukkan titik-titik kritis drainase yang perlu dikeruk. Ia bahkan mendampingi pihak terkait saat survei lokasi untuk memastikan jalur pembuangan air lancar dan tidak tersumbat.
"Saya sudah tunjukkan semua jalurnya, tapi pengerjaannya berhenti di tengah jalan. Sekarang warga kebanjiran, ini bagaimana tanggung jawabnya?" ungkap Hasan dengan nada kecewa saat ditemui di Rangkapan Jaya, Pancoran Mas.
Kekecewaan warga semakin bertambah karena mereka harus merogoh kocek pribadi untuk memenuhi kebutuhan fasilitas dasar. Anggaran miliaran rupiah tersebut ternyata tidak mencakup pengadaan lampu penerangan, pos penjagaan, hingga pembangunan tembok penahan longsor (bronjong).
Fakta mengenai pengelolaan operasional Setu Asih Pulo saat ini:
| Aspek Pengelolaan | Kondisi Saat Ini |
|---|---|
| Keamanan & Fasilitas | Warga iuran mandiri untuk lampu jalan dan pos jaga. |
| Fungsi Ekologi | Kekurangan tanggul bronjong untuk mencegah longsor. |
| Aturan Memancing | Dilarang demi keselamatan pengguna jalur jogging. |
| Masalah Limbah | Sering terjadi penumpukan sampah akibat kendala birokrasi. |
Tabel tersebut menggambarkan situasi lapangan di mana warga harus menanggung beban tambahan meskipun proyek pemerintah sudah selesai. Terdapat ketimpangan antara nilai anggaran yang besar dengan fasilitas yang benar-benar diterima masyarakat.
Dilema "Uang Kopi" dan Masa Depan Wisata
Selain masalah banjir, pengelolaan harian Setu Asih Pulo juga terganjal masalah birokrasi dan pungutan tidak resmi. Pengangkutan sampah dan sedimen sering kali tersendat selama berbulan-bulan karena adanya urusan "uang rokok" untuk para petugas armada transportasi.
Hasan menceritakan bahwa proses pengangkutan limbah sering kali macet karena adanya tuntutan biaya parkir atau uang kopi bagi petugas di lapangan. Hal ini memicu saling lempar tanggung jawab antara pihak pengelola dan instansi terkait, sementara sampah terus menumpuk di lokasi.
Di sisi lain, wajah baru setu ini memang membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk mulai berjualan dan mengais rezeki. Namun, aktivitas ekonomi ini masih sangat bergantung pada cuaca, serta dibatasi oleh aturan baru yang melarang memancing demi kenyamanan pelari.
Hasan tidak menampik adanya kecurigaan warga mengenai potensi penyelewengan dana dalam proyek fantastis ini. Harapan warga sangat sederhana, yakni adanya pemeliharaan rutin yang nyata dan normalisasi drainase agar Setu Asih Pulo tidak lagi menjadi sumber banjir bagi rumah mereka.