Singtel Lepas Saham SUPA ke GXS Bank, Posisi Grab Makin Kokoh di 2026

Singtel Lepas Saham SUPA ke GXS Bank, Posisi Grab Makin Kokoh di 2026
Foto: Singtel Lepas Saham SUPA ke GXS Bank, Posisi Grab Makin Kokoh di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Langkah strategis baru saja dilakukan oleh Singtel Alpha Investments Pte. Ltd. di sektor perbankan digital Indonesia. Perusahaan tersebut memutuskan untuk melepas seluruh kepemilikan sahamnya di PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA).

Saham-saham tersebut dialihkan sepenuhnya kepada GXS Bank Pte. Ltd. Berdasarkan informasi resmi dari keterbukaan informasi, total saham yang dilepas mencapai sekitar 2,44 miliar lembar saham biasa.

Rincian Nilai Divestasi Saham SUPA

Transaksi pengalihan kepemilikan ini dilakukan dengan harga pelaksanaan sebesar Rp327 untuk setiap lembar sahamnya. Jika diakumulasikan secara keseluruhan, nilai divestasi yang dilakukan oleh Singtel ini menyentuh angka Rp800,4 miliar.

Porsi kepemilikan yang dipindahtangankan oleh Singtel kepada GXS Bank tersebut merepresentasikan sekitar 7,3% dari total modal di Super Bank Indonesia. Langkah ini menandai perubahan struktur pemegang saham pada bank digital yang identik dengan ekosistem Grab tersebut.

GXS Bank sendiri bukan merupakan nama baru dalam jajaran pemegang saham di bank berkode saham SUPA tersebut. Sebelumnya, investor institusi ini memang sudah tercatat sebagai salah satu entitas yang menguasai porsi saham di sana.

Setelah transaksi ini rampung, posisi GXS Bank di dalam struktur permodalan Superbank menjadi semakin dominan. Kini, GXS Bank secara resmi menguasai sekitar 5,98 miliar lembar saham perusahaan.

Berikut adalah ringkasan data perubahan kepemilikan saham dalam transaksi tersebut:

Keterangan Detail Transaksi
Jumlah Saham yang Dilepas 2,44 Miliar Saham
Harga per Lembar Saham Rp327
Total Nilai Transaksi Rp800,4 Miliar
Persentase Saham Dialihkan 7,3%
Kepemilikan Baru GXS Bank 17,66% (5,98 Miliar Saham)

Data di atas menunjukkan bahwa dengan pengambilalihan ini, porsi kepemilikan GXS Bank di SUPA kini setara dengan 17,66% dari seluruh saham yang beredar. Hal ini diprediksi akan semakin memperkuat sinergi antara bank digital tersebut dengan para pemangku kepentingannya.

Dinamika Ekosistem Grab dan Superbank

Pergerakan saham ini terjadi di tengah berbagai dinamika bisnis yang melibatkan Grab sebagai salah satu pendukung utama Superbank. Penguatan posisi GXS Bank, yang merupakan bank digital hasil kolaborasi Grab dan Singtel di Singapura, menunjukkan fokus yang lebih terpusat.

Baru-baru ini, strategi Grab di Indonesia juga sedang menjadi perhatian publik karena adanya beberapa penyesuaian layanan. Salah satunya adalah penghapusan program ojek berlangganan hemat yang sebelumnya cukup populer di kalangan pengguna.

Selain itu, industri transportasi daring di tanah air juga sedang menghadapi tantangan terkait kebijakan potongan komisi atau fee aplikator. Pemerintah sempat meminta agar biaya tersebut turun menjadi 8%, sebuah langkah yang langsung direspons dengan perubahan strategi oleh manajemen Grab.

Isu mengenai potensi penggabungan usaha atau merger antara raksasa teknologi Gojek dan Grab juga kembali mencuat di pasar. Analis menilai masuknya entitas seperti Danantara bisa menjadi sinyal kuat ke arah konsolidasi besar-besaran di sektor teknologi tersebut.

Meskipun demikian, beberapa ekonom berpendapat bahwa penurunan fee aplikator ke angka 8% tidak secara otomatis meningkatkan pendapatan pengemudi ojek daring. Hal ini menambah kompleksitas tantangan yang harus dihadapi oleh perusahaan dalam ekosistem digital saat ini.

Di sisi lain, investor asing terpantau sedang melakukan aksi jual dalam skala besar di pasar modal menjelang proses rebalancing indeks MSCI. Kondisi pasar juga sedang menyoroti kurva imbal hasil obligasi Indonesia yang dinilai terlalu datar oleh para pelaku pasar.

Transisi kepemilikan saham di Superbank ini diharapkan mampu membawa stabilitas dan arah baru bagi pengembangan bank digital di masa depan. Fokus pada penguatan modal menjadi kunci penting agar bank dapat terus bersaing di tengah ketatnya persaingan layanan keuangan digital di Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi