Media lokal Iran melaporkan bahwa sebuah kapal perang milik Amerika Serikat terkena hantam dua rudal saat berupaya melintasi Selat Hormuz setelah sebelumnya mengabaikan peringatan yang diberikan. Kapal perang yang identitasnya dirahasiakan tersebut terpaksa mundur dari kawasan dekat pelabuhan Jask, Iran, pada hari Senin dan segera meninggalkan lokasi menurut keterangan Kantor Berita Fars yang memiliki afiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC.
Di sisi lain, pihak militer Amerika Serikat melalui pernyataan di media sosial secara tegas membantah klaim adanya serangan terhadap salah satu unit kapal mereka di wilayah tersebut. Laporan dari Fars ini muncul hanya berselang beberapa jam setelah kepala komando militer gabungan Iran mengeluarkan peringatan keras kepada pasukan AS mengenai risiko serangan jika nekat memasuki area strategis Selat Hormuz.
Mayor Jenderal Ali Abdollahi menegaskan dalam pernyataan resminya bahwa angkatan bersenjata yang berada di bawah komandonya akan mempertahankan serta mengelola keamanan Selat Hormuz dengan seluruh kekuatan yang tersedia. Langkah defensif ini diambil sebagai respons langsung terhadap pengumuman Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu yang menyatakan niat AS untuk memandu kapal-kapal terdampar akibat perang AS-Israel di Iran melalui jalur perairan utama tersebut.
Upaya Mobilisasi dan Dukungan Rakyat Iran
Eskalasi ketegangan terbaru ini mencuat saat otoritas Iran tengah memobilisasi dukungan rakyat untuk bersiap menghadapi potensi konflik jangka panjang di tengah proses pertukaran proposal dengan Amerika Serikat demi mengakhiri perang yang pecah sejak 28 Februari melalui jalur negosiasi. Kementerian Luar Negeri Iran pada hari Senin mengonfirmasi bahwa pihak Teheran sedang meninjau naskah terbaru dari Washington yang dikirimkan melalui perantara Pakistan, namun mereka tetap mendesak agar Donald Trump menggunakan pendekatan yang jauh lebih realistis.
Juru bicara kementerian, Esmaeil Baghaei, menyampaikan kepada para wartawan bahwa otoritas di Teheran tidak bersedia melakukan pembicaraan mengenai hal apa pun kecuali mengenai pengakhiran perang secara total pada tahap sekarang ini. Pernyataan tegas ini mencerminkan posisi Iran yang menolak kompromi setengah-setengah sebelum adanya kepastian penghentian konflik bersenjata secara menyeluruh oleh pihak lawan.
Restorasi Militer dan Dampak Keamanan Nasional
Meskipun gencatan senjata telah menghentikan pertempuran skala besar selama hampir satu bulan, otoritas Iran terus berupaya membangun kembali kemampuan sistem rudal dan pesawat nirawak atau drone mereka sebagai langkah antisipasi jika perang kembali pecah. Upaya ini mencakup aktivitas konstruksi untuk menggali kembali pintu masuk pangkalan bawah tanah yang hancur akibat pengeboman, yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan strategis bagi berbagai amunisi serta peralatan militer penting.
Kondisi keamanan di dalam negeri juga masih dalam status ketat, di mana pemadaman akses internet hampir total yang berdampak pada lebih dari 90 juta warga Iran kini telah memasuki minggu kesepuluh atau setara dengan lebih dari 1.550 jam. Pihak berwenang Iran menegaskan bahwa kebijakan pembatasan akses informasi ini akan tetap diberlakukan atas dasar pertimbangan keamanan nasional hingga situasi perang benar-benar berakhir sepenuhnya.