Sekeluarga Tewas di Tenda Wisata Posong, Dugaan Gas Berbahaya Menguat: Fakta Mengejutkan 2026

Sekeluarga Tewas di Tenda Wisata Posong, Dugaan Gas Berbahaya Menguat: Fakta Mengejutkan 2026
Foto: Sekeluarga Tewas di Tenda Wisata Posong, Dugaan Gas Berbahaya Menguat: Fakta Mengejutkan 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kematian tragis empat anggota keluarga saat berkemah di Posong, Temanggung, diduga disebabkan oleh paparan gas berbahaya di dalam tenda. Insiden ini diduga terjadi akibat kebocoran gas portable yang dapat mengendap dan menggantikan oksigen, mengakibatkan korban pingsan tanpa dapat menyelamatkan diri.

Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu, 27 Mei 2026. Polisi menyebutkan kemungkinan keracunan makanan atau gas sebagai penyebab, dengan gas diduga berasal dari pembakaran arang briket untuk penghangat ataupun dari kompor portable yang digunakan untuk barbeque.

Pakar dari Universitas Muhammadiyah Magelang, Prof. Dr. Ir. Muji Setiyo, memberikan pendapatnya melalui Instagram. Dalam wawancara dengan detikJateng, ia menjelaskan bahwa gas elpiji memiliki sifat yang dapat mengembang saat bocor, meningkatkan volume dan tersebar ke seluruh ruangan.

Muji, yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Unimma, menjelaskan bahwa gas propana-butana bisa mengendap karena lebih berat dari udara. Gas ini menggantikan oksigen, sehingga orang yang berbaring bisa menghirup propana-butana dan pingsan, yang dapat berujung pada kematian.

Menurut Muji, tabung gas portable mengandung campuran elpiji, bisa terdiri dari butana atau propana, atau campuran keduanya. Suhu dingin di Posong membuat gas lebih cenderung mengendap. Ia ragu keracunan makanan sebagai penyebab utama.

Dalam proses pembakaran, jika sempurna, gas propana atau butana akan berubah menjadi CO2, bukan karbon monoksida. Namun, apakah gas ini bocor atau tidak masih memerlukan bukti lebih lanjut.

Keluarga yang menjadi korban berasal dari Ambarawa, Kabupaten Semarang, ditemukan meninggal di tenda di Posong, Kecamatan Kledung, Temanggung. Jenazah Muhammad Ali Munawar, istrinya Maghfirah, dan putra mereka Alvino Evan Hakim dan Bagas Amar Hakiki, sudah dimakamkan di Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang.

Penyelidikan polisi menyatakan kematian mungkin terjadi karena keracunan gas berbahaya. Ketika melakukan olah TKP, polisi tidak menemukan aroma gas. Keempat jenazah ditemukan saat petugas mengingatkan untuk check out dan saat tidak ada respons, petugas masuk ke tenda dan menemukan keempat korban sudah meninggal.

Artikel terkait

Rekomendasi