Sarwendah secara terbuka menyatakan keinginannya agar perselisihan dengan mantan suaminya, Ruben Onsu, bisa segera berakhir. Ia berharap segala urusan terkait nafkah dan hak asuh anak dapat diselesaikan tanpa drama yang berkepanjangan.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh mantan anggota Cherrybelle ini melalui panggilan video saat konferensi pers bersama tim kuasa hukumnya pada Senin malam. Sarwendah menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini adalah bekerja demi menghidupi anak-anaknya.
Ia menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa hadir secara langsung akibat jadwal pekerjaan yang padat. Sarwendah menyebut dirinya tengah sibuk mencari penghasilan yang halal dan memercayakan urusan hukum sepenuhnya kepada sang pengacara.
Harapan Sarwendah dalam menghadapi situasi ini:
- Menyelesaikan semua permasalahan secara baik-baik sesuai kesepakatan yang telah dibuat.
- Memprioritaskan kondisi psikologis dan masa depan anak-anaknya agar tidak terdampak konflik.
- Menghindari perdebatan publik yang tidak perlu demi menjaga privasi keluarga.
- Tetap fokus menjalani rutinitas pekerjaan dan kegiatan siaran langsung untuk mencari nafkah.
Keinginan Sarwendah untuk berdamai didasari oleh rasa kasihannya terhadap perkembangan mental anak-anaknya. Ia meminta agar semua pihak menghargai proses yang tengah berjalan dan tidak memperkeruh suasana.
Klarifikasi Pihak Sarwendah Mengenai Komunikasi
Chris Sam Sewu, selaku kuasa hukum Sarwendah, membantah keras tudingan yang menyebut kliennya mempersulit Ruben Onsu bertemu anak-anak. Menurut Chris, Sarwendah justru menjadi pihak yang lebih aktif dalam menjalin komunikasi selama proses perceraian.
Chris mengungkapkan bahwa Sarwendah sering mengirimkan pesan kepada Ruben, namun kerap diarahkan untuk menghubungi pengacara. Ia menyatakan memiliki bukti percakapan yang menunjukkan bahwa pihak Ruben yang sebenarnya membatasi komunikasi langsung.
Pengacara tersebut juga menyoroti jadwal anak-anak yang seringkali bertabrakan dengan keinginan Ruben untuk bertemu secara mendadak. Ia menjelaskan bahwa anak-anak memiliki jadwal les yang tetap dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja demi kenyamanan psikologis mereka.
Polemik Pembagian Aset dan Utang Bank
Selain masalah pertemuan anak, sengketa ini juga merembet pada persoalan pembagian harta bersama yang cukup rumit. Chris meluruskan anggapan bahwa kliennya bersikap pilih-pilih dalam menentukan aset yang akan diambil.
Detail permasalahan aset yang sedang diperdebatkan antara kedua belah pihak:
| Kategori Masalah | Keterangan dari Pihak Sarwendah |
|---|---|
| Jumlah Aset | Terdapat empat aset tidak bergerak, namun Sarwendah hanya meminta satu rumah. |
| Status Rumah | Rumah yang diberikan ternyata masih menjadi jaminan bank dengan utang yang besar. |
| Tanggung Jawab Utang | Ruben seharusnya membayar sesuai kesepakatan, namun kini dibebankan kepada Sarwendah. |
| Tuntutan Tambahan | Pihak Ruben meminta pengembalian uang yang sudah pernah dibayarkan ke bank. |
Tabel di atas merangkum bagaimana kondisi aset yang tengah menjadi sengketa antara Sarwendah dan Ruben Onsu. Pihak Sarwendah merasa dirugikan karena aset yang mereka terima ternyata masih memiliki beban finansial yang cukup fantastis.
Chris menambahkan bahwa kliennya sempat setuju untuk melunasi sisa utang tersebut dan membaginya menjadi dua. Namun, di saat-saat terakhir, pihak Ruben justru meminta agar seluruh beban pembayaran dialihkan sepenuhnya kepada Sarwendah.
Tudingan dari Pihak Ruben Onsu
Di sisi lain, pihak Ruben Onsu memiliki alasan tersendiri di balik keputusan untuk tidak mengirimkan uang nafkah selama enam bulan terakhir. Hal ini disebut sebagai bentuk protes karena merasa akses untuk bertemu dengan darah dagingnya sendiri dipersulit.
Minola Sebayang, pengacara Ruben, juga menyoroti kehadiran sosok pria lain di lingkungan anak-anak kliennya. Ia mengklaim bahwa orang luar justru mendapatkan keleluasaan lebih besar untuk berinteraksi dengan anak-anak dibandingkan ayah kandungnya sendiri.
Minola menyatakan keprihatinannya jika anak-anak justru merasa asing dengan ayah mereka akibat kurangnya waktu bersama yang berkualitas. Ia menegaskan bahwa kekhawatiran ini murni demi menjaga kedekatan batin antara ayah dan anak, bukan karena rasa cemburu.